Apakah manusia tetap bergantung pada takdir Tuhan, meskipun begitu banyaknya pilihan?
Sastrasa
seen from United States

seen from Brazil

seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Japan

seen from United States

seen from United States

seen from Maldives
seen from United Kingdom
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from United States

seen from Australia
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from Malaysia

seen from United States
Apakah manusia tetap bergantung pada takdir Tuhan, meskipun begitu banyaknya pilihan?
Sastrasa
Banyak orang yang banyak bicara tanpa membantu. Rasanya langka orang yang banyak membantu tanpa bicara.
Sastrasa
Capek yang paling capek adalah capek karena tidak melakukan apa-apa.
- Sastrasa
Pada nyatanya setiap orang membenci garis akhir. Setidaknya aku. Ketika mendekati garis akhir aku selalu ingin kembali pada titik awal. Tidak memperbaiki apa-apa, hanya kembali. Entah apa yang ingin kunikmati lagi, tapi aku hanya ingin kembali.
- Sastrasa
Seringkali merasa kesepian, tapi ketika ada yang mendekati langsung beringsut ke tepian. Heran sama diri sendiri, seperti susah untuk jatuh cinta lagi. Terlalu muak dengan drama yang menghilangkan esensi cinta sesungguhnya. Terlalu lelah dengan manusia yang tidak menjadi manusia. Terlalu jengah dengan segala kemungkinan terburuk.
Rasanya, semua cinta jadi begitu dipaksakan.
Pada akhirnya, aku kembali lagi pada pertanyaan diawal, mengapa aku membutuhkan pasangan? Dan mengapa harus satu orang itu, sedang ada lebih dari jutaaan orang di dunia memiliki hak yang sama? Apakah semuanya kembali lagi bergantung pada takdir yang telah Tuhan tetapkan? Ataukah manusia dengan kebebasan memilihnya dapat memilih jalan cintanya sendiri? Jadi, apa esensi memiliki pasangan yang sesungguhnya? Semua masih menjadi misteri.
- Sastrasa
Mungkin bagi sebagian orang, ucapan selamat pagi dan malam adalah bualan semata. Tapi tidak bagiku, hal itu adalah pertanda bahwa kita masih ada di dunia yang sama.
Selamat pagi.
- Sastrasa
Surakarta, 27 Juli 2018
Masih heran mengapa orang-orang sibuk mencari yang sudah ada, seperti dunia. Padahal, hal itu sudah jelas di depan mata? Bahkan mereka hidup di dalamnya. Mengapa tak mencari yang tidak (belum) ada? Apakah karena manusia terlalu anti ketidakpastian, hingga kehidupan setelah dunia yang tidak pasti menjadi dibenci?
- Sastrasa
Juni: Aku sudah memaafkan orang lain juga diri sendiri. Jadi, baik-baik ya, bulan ini.