#38. Berhak Memilih, Tanpa Perlu Sembunyi
Dalam memeluk sebuah pilihan, tidak harus selalu berhasil pada ujungnya. Menyesal adalah wajar. Menuntut apa yang belum waktunya, isyarat untuk lebih dulu menikmati prosesnya.
Waktu tentang merakit dari hulunya.
Proses hidup identik dengan pilihan. Semakin banyak pilihan, semakin banyak cara untuk bertumbuh luwes. Sebagai manusia kita perlu luwes, jika suatu waktu merasa terjebak boleh jadi kita masih berada dalam kondisi penuh kekakuan atau justru sedang memilih menjadi kaku. Artinya, perbanyak cara dalam memilih lantas bukalah hati dan pikiranmu. Perluas peluang, tidak asal memilih walau itu sudah ada tepat di jemari langkahmu. Pertanyaan besarnya, apakah pilihan itu membuka jalan pilihan lainnya lantas mendorong diri berupaya lebih luwes? Jika iya, lekas memilihlah. Jika tidak, telusuri apa yang masih kaku.
Setialah dalam daya bahwa dirimu lebih dari apa yang kamu takuti dan ragukan.
Sudah berapa banyak dari kita merasa tidak mampu, rendah diri lantas menyalahi lingkungan sekitarmu. Padahal masalahnya ada pada dirimu sendiri. Jalan yang luas dipandang sempit dan tidak mungkin. KehendakNya atas penciptaanmu, tidak hanya untuk menempatkan dalam kondisi rendah. Perluas apa yang masih merusak dalam diam, racun itu perlu dicarikan penawarnya. Jangan biarkan rasa ragu justru membelenggu diri tanpa titik. Hidup ini terlalu sempit untuk terus larut dalam penyesalan, sudahi sedihnya, bangkit, bangkit dan bangkit. Fokuslah hidup dalam mencari guratan hikmah yang penuh misteri. Lekaskan rasa optimis untuk derap langkah yang belum dipaut dengan serius. Sudah terlihat jalan luas itu?
Jalan takdir hasil dari pilihanmu, tidak untuk disesali hanya perlu didekap dalam hikmahNya.
Sembunyi dan terus sembunyi dalam rasa menyesal, tidak akan membuka cahayaNya mengilhami jalanmu setelahnya. Menyesali apa yang telah diperbuat kiranya satu-satunya jalur sesal yang perlu ditata ulang. Fokuslah memperbaiki apa yang masih jadi celah khilaf dan salah, lekas berikrar bahwa kedepan akan menjadi yang sebaik-baiknya manusia. Ada banyak misteri yang masih perlu sungguh dalam menujunya. Hidup dengan penuh sesal atau percaya diri, lagi-lagi sebuah pilihan. Hantam segala ketakutan dengan penuh sadar. Toh, kini lebih sepakat bahwa kita hanya perlu menjadi manusia yang lebih sadar setiap harinya. Sadar sedang salah, sadar sedang banyak khilaf, sadar sedang terjebak dalam nafsu sesaat termasuk banyak ingin yang jauh dari ridhoNya. Sudahkah kita berani mengakuinya?
Kiranya pengingat ini akan lebih menyentuh,
"Angin tidak berhembus untuk menggoyangkan pepohonan, melainkan menguji kekuatan akarnya." -Ali bin Abi Thalib
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin













