Lagi dan lagi
Aku terus bertanya, dimana letak kesalahan itu. Dimana letak khilaf yang membuatnya berpaling begitu saja. Padahal, sejak awal aku selalu berdoa pada Tuhan supaya aku tidak lagi dipatahkan oleh seseorang. Tapi kenapa semesta mengizinkan aku untuk mencintainya, bila akhirnya hanyalah jatuh yang kudapatkan.
Disaat, aku berpikir dialah orangnya. Malah luka yang aku dapatkan. Ketika perasaan ini tidak bisa di logika. Justru inilah saat paling menyakitkan.
Pertemuan yang tiba-tiba, pendekatan yang tidak di sengaja, justru berakhir dengan kepergian tanpa aba-aba. Aku tahu jika dia terburu-buru, tapi setidaknya jangan lupa membawa luka itu pergi.
“Kamu jahat,” kataku dalam hati yang tidak bisa ku sampaikan padanya.
Ku kira aku kuat, tapi ternyata aku berhasil dilukai olehnya. Patah hati yang paling ku sengaja adalah menunggu dia kembali. Menanti pesan darinya, dengan menunggu notif ponselku menyala.
Semoga mematahkanku, bukan tujuan utamanya











