[Bagian 1] Di Tepian Musim Semi
Oleh : Sofia Zhanzabila
Dalam buku karyanya, “Di Tepian Musim Semi”
Sumber : https://www.wattpad.com/story/104542713-di-tepian-musim-semi
- Bagian Novel ini Telah Mendapatkan Izin Posting dari Author (Kak Sofia Zhanzabila) melalui Akun WhatsApp -
CHAPTER 1 : Lelaki Musim Semi
Musim Semi, 2009
“Kau tidak sarapan dulu, Naela sayang? Aku sudah membuatkan omelet spesial.” Seru Caroline, teman satu apartemen gadis yang sedang berjalan buru-buru menuju rak sepatu.
“Terimakasih Caroline yang baik hati. Tapi aku sudah terlambat. Simpan saja di microwave. Akan kumakan saat pulang nanti.” gadis itu berkata sambil tergesa-gesa memasang sepatu. Sesaat kemudian bunyi pintu yang ditutup terdengar. Ia sudah berlari menuruni tangga.
“Ah, segarnya...” Naela menghirup napas dalam- dalam. Ia tersenyum, mengucap doa.
Pagi yang indah dan langit kota Ann Arbor terlihat jernih. Gumpalan awan tipis berarak ke arah Selatan. Kumpulan burung berlompatan dari satu dahan ke dahan yang lain. Angin musim semi yang sejuk bertiup. Kemudian bunga-bunga berwarna pink mulai berjatuhan terbawa angin, menyentuh halus wajah Naela.
Gadis itu merapatkan jaket sambil terus terburu-buru menyusuri trotoar. Kelasnya akan mulai sepuluh menit lagi. Dan ia tidak mau terlambat. Sesekali ia berhenti untuk membenarkan tas yang melorot ke siku, juga membenarkan tumpukan buku di tangan.
Sepanjang trotoar yang diapit pepohonan itu banyak orang berwajah Barat berjalan santai, seperti tidak mau melewatkan pagi yang sangat indah di musim semi. Setelah sebelumnya di musim dingin, mereka harus duduk sepanjang hari di samping perapian, mengamati semburan salju dari balik kaca jendela, menjadi saksi kebisuan pepohonan yang menjulang seperti tiada guna.
Musim berganti. Sekarang adalah waktu untuk berjalan-jalan keluar. Mendengar kicauan burung, menatap langit jernih, menghirup udara yang beraroma bunga, serta menatap pohon-pohon yang kembali menemukan kehidupan.
Sampai di persimpangan jalan tidak jauh dari kampus, Naela terpaksa menahan langkah. Lampu hijau baru saja menyala. Bersamanya sudah ada dua orang remaja dan satu orang wanita yang mendorong kereta bayi. Mereka sama- sama menunggu waktu untuk menyeberang. Naela lirik arloji.
Oh, tinggal 8 menit lagi!
Ia mendesis.
Gadis itu mulai cemas. Ia berharap kali ini lampu lalu lintas mau berbaik hati. Ia tidak suka terlambat, begitu pula hari ini.
Satu menit kemudian, lampu merah yang ditunggu- tunggu akhirnya menyala. Mobil-mobil seketika berhenti. Naela bergegas melangkah. Di depan ada sekitar 15 orang yang juga menyeberang dari arah berlawanan.
Di antara jubelan langkah cepat orang-orang, ia melihat seorang nenek renta yang kesusahan. Berkali-kali lengan si nenek tertabrak hingga ia sedikit terpental. Nenek itu berjalan lagi dan orang-orang kembali menyerempetnya dari berbagai sisi. Naela ingin sekali membantu, namun waktunya tidak akan cukup.
Sambil berusaha mengabaikan niat baik dalam hati, gadis itu terus berjalan. Zebra cross sudah sempurna ia lintasi. Begitu sampai di seberang, ia kembali menoleh. Nenek itu masih berada di tengah-tengah jalan. Tertatih-tatih.
Hati Naela resah. Sungguh ia tidak tega.
Saat kaki Naela akan melangkah pergi, sesuatu yang tertangkap mata memaksanya kembali berhenti. Naela hampir tidak percaya pada penglihatannya sendiri. Satu pemandangan telah menyentuh gadis itu.
Seorang pemuda keluar dari mobil sport berwarna hitam. Dengan ramah ia tuntun nenek tersebut berjalan hingga ke tepian. Setelah memastikan nenek tersebut berada di tempat yang aman, lelaki tersebut tampak mengatakan beberapa patah kata, kemudian seraya si nenek menangkupkan kedua tangan di depan dada. Naela menerka nenek tersebut sedang mengucapkan terimakasih. Setelah mengangguk dan tersenyum, pemuda baik hati itu segera kembali ke mobilnya.
Naela tidak bisa mengalihkan pandangan. Ternyata di antara sikap penduduk Amerika yang acuh tak acuh, laki-laki itu masih memilliki hati yang lembut.
Dari tempatnya berdiri Naela tersenyum. Ia lanjutkan perjalanan menuju gedung Universitas Michigan yang sudah terlihat. Warnanya didominasi cokelat tua. Keindahan bangunan universitas itu semakin sempurna dengan atap berbentuk tapal kuda yang menantang langit. Halamannya yang luas dengan satu jalan utama dipenuhi akademisi yang berlalu lalang. Ke sanalah Naela menuju.
***
Gedung Pengadilan Tinggi Jakarta Selatan, 2016
Halaman gedung Pengadilan itu dipenuhi hiruk-pikuk manusia pekerja hukum, juga para awak media yang antusias meliput sidang yang baru saja selesai digelar.
Wanita berhijab panjang warna donker itu keluar bersama seorang wanita jelita yang tidak berhijab. Di sepanjang koridor, berkali-kali si wanita berhijab mendapatkan ucapan selamat dari teman-teman pekerja hukum.
“Mbak Naela. Selamat, ya. Saya yakin kalau Mbak bisa memenangi kasus ini.” ucap seorang wanita yang bekerja di kejaksaan. Wanita itu menyalami wanita berhijab donker yang tak lain adalah Naela Alfiatul Husna.
Naela menanggapi dengan senyuman dan ucapan terimakasih. Dua wanita itu terus berjalan menuruni tangga yang berujung halaman. Seketika, sekumpulan awak media yang sejak tadi menunggu di luar langsung berlari menghadang. Deretan ponsel dan alat perekam lainnya disodorkan di depan Naela. Pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan. Beberapa dari mereka bertanya bagaimana keadaan klien Naela: seorang asisten rumah tangga yang sebelumnya telah dituduh mencuri brangkas uang sang majikan.
“Mbak Sukarti hanya perlu menunggu beberapa hari lagi untuk bisa bebas. Ada beberapa hal yang harus ia selesaikan.” Jawab Naela dengan wajah puas.
Kerumunan itu perlahan bubar setelah hampir 30 menit kemudian. Naela menarik napas panjang, mengucapkan alhamdulillah lirih.
“Selamat, Nae.”
Kali ini Naela harus membuka mata dua kali lebih besar. Seorang pemuda berkemeja, berambut gondrong, berdiri di hadapannya. Dia adalah jaksa penuntut umum yang tadi—selama jalannya persidangan—adalah yang paling gigih menjatuhkan semua pembelaan Naela. Tangan pemuda itu diulurkan sambil ia tersenyum penuh arti.
“Terimakasih.” jawab Naela. Uluran tangan Kris ia abaikan.
“Urus saja pengusaha yang kau bela mati-matian itu. Sepertinya dia perlu hiburan.” Naela menunjuk kecil ke arah lelaki yang diseret petugas dengan susah payah menuju mobil.
“Peperangan kita belum usai, Nae. Bahkan bisa jadi kita lanjutkan di luar persidangan.”
Jemari Naela seketika mencengkeram kertas-kertas yang ada di tangannya hingga kusut. Naela tidak habis pikir, apa maksud Kris mengatakan peperangan akan berlanjut di luar persidangan?
“Aku tidak pernah merasa sedang berperang, Kris. Semua ini kulakukan karena memang Mbak Sukarti itu benar dan laki-laki kaya itu salah. Apa maksud ucapanmu barusan?”
Kris mengusap rambutnya yang gondrong sebahu, tertawa hingga tampak deretan giginya. Tak langsung menjawab, justru ia buka jas hitamnya hingga menyisakan setelan kemeja panjang berwarna biru muda pudar. Sebenarnya ia sudah tidak betah dalam setelan resmi seperti itu.
“Kita lihat saja nanti.” Ia pergi begitu saja setelah mengedipkan mata. Pemandangan yang membuat Naela begitu muak.
“Kau selalu menjengkelkan, Kris! Dengar, kau tidak akan pernah menang baik di pengadilan maupun di luar. Ingat itu!” teriak Naela hampir saja melemparkan tumpukan kertas ke punggung Kris. Setelah kalimat Naela tuntas, Kris hanya merespon dengan mengangkat tangan kiri, seolah- olah berkata ‘terserahlah’.
Dua tahun sudah Naela kenal jaksa muda itu. Mungkin saat dulu Naela dinyatakan resmi sebagai pengacara, di saat yang sama Tuhan juga melantik Kris sebagai lawannya. Di sidang sebelumnya, mereka bertemu dalam sebuah kasus pembunuhan. Lagi-lagi Kris menuntut orang yang tidak pernah membunuh. Dia membela habis-habisan seorang wanita 69 tahun—yang setelah diselidiki Naela—adalah pembunuh yang sebenarnya. Tak jarang Naela dibuat heran, bagaimana bisa seorang jaksa jebolan luar negeri bisa ceroboh dalam membuat surat tuntutan. Pasti ada yang salah. Isi kepala pemuda itulah yang mungkin salah.
Hal lain yang membuat Naela selalu bergidik tiap kali melihat Kris adalah penampilannya. Andai saja Kris tidak bekerja di kantor kejaksaan, mungkin ia tidak akan pernah berpakaian serapi hari ini. Kris lebih suka mengenakan celana jins, baju kaos, ditambah kemeja yang kancingnya dibiarkan terbuka. Rambutnya yang gondrong selalu terurai ke wajah, membuatnya terlihat semrawut.
Belum lagi saat makan, Kris akan lebih menjijikkan. Sambil terus bicara ia kunyah makanan dengan tergesa-gesa. Apapun yang diminum pasti akan berceceran di baju. Dan sisa-sisa makanan belepotan di area bibir. Naela merasa penampilan Kris sangat tidak cocok dengan profesinya.
Barangkali pekerjaan sebagai Creative Director di perusahaan iklan akan lebih cocok bagi pemuda seperti Kris.
“Heh, Nae. Jangan teriak-teriak begitu.” Teguran seorang gadis membuat Naela menoleh. Ia hampir saja lupa kalau sejak tadi ia didampingi oleh sang sahabat.
Gadis itu sudah terlihat jenuh. Sejak tadi ia hanya berdiri tanpa ada satu pertanyaan pun yang datang. Syukurnya, dia adalah sahabat Naela yang paling setia.
Namanya Mariam. Panjangnya adalah Mariam Juliana Issabella. Teman satu kantor Naela. Sama-sama pengacara, hanya saja Mariam lebih nyaman dengan perkara perdata. Ia punya tinggi sekitar lima senti melebihi Naela. Tentu saja punya wajah menarik. Tubuhnya ideal, berkulit putih, dan wajah berbentuk bulat telur ke-Baratan yang sempurna. Ia memiliki darah Spanyol dari ayahnya, dan Jawa tulen dari ibunya. Wajar saja kalau setiap kali Mariam yang berbicara di pengadilan, semua mata tak bisa melepaskan diri dari pesona kecantikannya. Dan hari ini ia memilih tidak masuk kantor demi menghadiri sidang Naela. Sungguh Mariam adalah sahabat yang begitu baik hati. Naela seharusnya merasa beruntung punya sahabat seperti Mariam. Walau terkadang Mariam sangat menyebalkan karena terlalu banyak bicara.
“Kris sudah berlebihan, Mariam. Satu-satunya hal yang membuatku tidak nyaman dengan profesiku adalah karena harus bertemu dia.”
“Jangan begitu. Sabar aja. Toh nanti dia baik sendiri. Kamu ingat waktu kasus yang ditanganin Pak Jamal 9 bulan lalu?” Mariam menunjukkan jari telunjuk, lalu memasukkan permen karet ke mulut. Pak Jamal adalah pengacara senior sekaligus penggagas kantor hukum tempat mereka bekerja.
“Nah, itu Kris juga sebagai jaksa penuntut, tapi dia biasa aja, tuh. Nggak kelihatan musuhan seperti tadi.”
“Dia memang sengaja ingin aku keluar dari pekerjaan ini. Sudahlah, ayo! Eh, kamu belum ngucapin selamat.” Ucap Naela sambil berpura-pura cemberut.
“Oh iya. Selamat ya, Sayangku. Kamu hebat, deh! Tapi tetap saja lebih cantik aku.”
Apa nyambungnya?
“Itu tuh kerudungmu dirapikan dulu, gih. Menceng ke mana-mana begitu. Nih kaca.” Mariam keluarkan kaca kecil yang selalu tersimpan rapi dalam tasnya. Tidak pernah sehari pun ia pergi dari rumah tanpa kaca itu.
Begitu kerudung donkernya sudah rapi, Naela melirik jam tangan. Pukul 12.15. Itu artinya sudah masuk waktu Zuhur. Sesibuk apa pun dia, Naela tidak mungkin pernah lupa pada pesan almarhum ayahnya yang selalu mengingatkan agar tidak lalai shalat.
“Yuk ke Masjid. Ini kacamu. Terimakasih, Non Mariam.”
Mariam memasukkan kaca ke dalam tas hitam, kemudian mematut-matutkan letak tas itu serapi mungkin. Langkahnya yang berusaha mengejar Naela terdengar berirama karena sepatu bertumit lancip yang ia kenakan. Dia memang pengacara yang paling fashionable, lebih cocok menjadi model daripada seorang pengacara. Jadi tidak perlu heran saat tahu Mariam hanya menerima klien yang berkantong tebal. Karena bahkan untuk urusan kosmetik saja, uang belasan juta bisa ia habiskan di satu toko. Karena pesona fisik itu pula, ditambah kecerdasan dalam berbusana, jumlah follower di instagramnya hampir mendekati angka satu juta.
“Nae, aku lapar nih. Kita makan dulu, yuk? Kalau tidak mau ke restoran, kita makan mi ayam di depan gerbang sana saja, bagaimana?”
“Aku masih harus bertemu keluarganya Mbak Sukarti dulu di parkiran, habis itu ke Masjid. Baru setelah itu kita makan di restoranku saja. Oke? Papamu pasti tidak suka juga kalau tahu anak perempuannnya nunda-nunda shalat. Lagipula kamu pasti belum lapar kronis.”
“Papaku tidak mungkin marah, Nae. Dia saja jarang shalat.” Jawab Mariam santai.
Ucapan Mariam barusan mengusik hati Naela. Bagaimana mungkin anak-anak dalam sebuah keluarga tumbuh menjadi saleh-saleha kalau sang ayah yang jadi panutan justru tidak mengerjakan shalat? Kebanyakan orangtua menyerahkan urusan agama anak-anak mereka pada guru ngaji, tanpa ada campur tangan keluarga sedikit pun. Seolah-olah dengan memasukkan mereka ke Taman Pendidikan Al Quran, sudah selesai pula kewajiban mereka untuk memberikan pendidikan agama.
Naela lirik Mariam yang berjalan di sampingnya. Mata Mariam lebih fokus pada layar ponsel daripada jalan di depan. Setidaknya Naela bersyukur temannya yang satu ini masih mau nurut saat diajak untuk shalat atau pergi ke acara kemuslimahan. Ya, meskipun tidak jarang tingkah Mariam selalu bikin Naela kesal sendiri. Mariam shalat mirip burung mematuki makanan, dan ketika di acara kemuslimahan, matanya lebih fokus pada layar ponsel daripada memperhatikan apa yang disampaikan pengisi acara. Mariam baru tampak bersemangat jika pengisi acara adalah mas-mas ganteng dengan janggut tipis dan mata sayu memesona. Bisa dipastikan matanya terbuka lima kali lebih lebar.
“Mbak Naela. Mbak Naela!” panggilan wanita dari arah belakang. Naela berbalik, ingin tahu siapa gerangan yang memanggil. Mariam juga ikut mencari-cari.
Seorang wanita bertubuh mungil dengan pakaian khas pegawai media. Mudah dikenali dari kartu yang tergantung di saku seragam warna hitam yang ia pakai. Sepertinya wanita ini ketinggalan rombongan awak media yang sudah selesai wawancara sejak tadi.
“Sepertinya yang ini akan mewawancaraimu panjang lebar. Kusarankan kamu segera lari kalau tidak mau shalat di akhir waktu.” Mariam berbisik sambil tangannya ditelungkupkan di depan bibir.
Naela hanya menyikut lengan sahabatnya, ber-ck kecil.
“Mbak Naela, perkenalkan saya Elif Savitri dari majalah PF.” Katanya dengan senyum mengembang. Mengulurkan tangan.
“Majalah PF? Public Figure, bukan? Itu majalah terkenal. Tadi pagi aku baru saja beli satu. Kamu tahu Nae, wajahnya Angelina Jolie di sampul depan. Kalian bahkan sampai melakukan wawancara eksklusif dengan artis dunia itu tentang hmm... aktifitas sosialnya dalam hal perlindungan anak.” Mariam justru sudah memotong panjang lebar. Wajahnya kelihatan begitu bersemangat, seolah-olah Angelina Jolie adalah bibinya.
“Hehe begitulah, Mbak. Kita memang sudah terkenal sekali.” Wajah Elif terlihat bangga. “Kami berniat untuk melakukan wawancara eksklusif juga dengan Mbak Naela.
Generasi muda kita itu butuh public figure dalam negeri yang bisa menginspirasi. Kami ingin Mbak Naela datang ke studio, sekalian akan diambil foto oleh fotografer kami. Apa Mbak Naela bisa datang besok atau lusa?”
“Oh, besok Naela akan datang ke kantor kalian. Saya yang akan membawanya ke sana.” Mariam buru-buru menjabat tangan Elif. Satu jempol diangkat untuk meyakinkan. Dia bahkan tidak peduli saat lengannya dicubit Naela.
“Benar ya, Mbak? Kami tunggu. Dan ini kartu pengenal kantor kami. Baiklah sangat senang bisa bertemu Mbak Naela langsung. Saya permisi dulu, sampai ketemu besok.”
Elif menyalami Naela lagi, dan demi sopan-santun tentu ia juga menyalami Mariam. Saat tubuh mungil Elif sudah menjauh, Naela buru-buru menimpuk Mariam dengan tumpukan map yang ia bawa.
Wajah Naela pertama kali muncul di sebuah acara berita yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta tujuh bulan lalu. Saat itu ia berstatus sebagai kuasa hukum seorang kakek 68 tahun yang dilaporkan ke polisi oleh tetangganya hanya karena mengambil lima biji jambu untuk sang cucu. Entah bagaimana ceritanya, begitu wajah ayu dan senyuman tulus Naela terlihat layar kaca, publik seketika giat mencari segala sesuatu tentangnya. Dalam hitungan hari, akun facebook Naela dibanjiri ribuan request pertemanan. Foto- foto Naela menyebar di internet seumpama cendawan di musim hujan. Sejak itulah nama Naela dikenal masyarakat. Dan mungkin karena itu pula awak media bertubuh mungil ini memanggil. ‘Hukum ketenaran’ memang terkadang sulit dirumuskan. Ia bisa datang secara tiba-tiba dan mengejutkan dalam kehidupan seseorang.
“Memangnya aku ada bilang setuju?” Naela bertanya ketus.
“Sudahlah Nae, walau kamu bisu sekali pun, aku tahu kamu tidak akan menolak. Kamu akan terkenal, Nae. Percaya deh. Pakai acara mau difoto segala lagi. Jangan-jangan nanti wajahmu muncul di halaman sampul, di sampingnya Brad Pitt, Beyonce, atau Adele. Astaga, Nae. Akulah orang pertama yang akan beli majalahnya, bahkan akan kubagi- bagikan ke semua teman-temanku. Gratis.”
“Terserah kamu. Tapi aku tidak janji kalau besok bisa datang.”
“Kan kita sudah janji akan datang, Nae. Bukannya kamu sendiri yang sering bilang kalau Muslim yang baik itu tidak pernah ingkar janji?”
“Yang janji tadi siapa?” tatapan Naela serius, “Aku atau kamu?” lanjutnya.
Naela pergi begitu saja. Mariam terus memohon- mohon di sampingnya. Lihatlah, berapa tahun dia kenal Naela, tetap saja tidak hapal dengan sifatnya. Tenang saja, Naela pasti menerima undangan itu.
CHAPTER 2 : Fatih
Waktu baru menunjukkan pukul empat lewat beberapa menit ketika Naela membunyikan bel pintu rumah sederhana bercat putih gading ini. Sehabis dari masjid ia dan Mariam langsung datang ke restoran untuk makan siang. Usai makan, sekitar pukul setengah dua, mereka langsung ke kantor. Duduk sambil ngobrol di sana hingga jam pulang tiba. Pak Jamal dan rekan-rekan sekantor sibuk dengan urusan di luar, menyisakan kantor yang lengang.
Naela shalat Asar di kantor sebelum pulang. Mariam kembali ke rumahnya di Bintaro Sektor 9, sedangkan Naela kembali ke rumahnya di perumahan Dramaga Cantik, Bogor.
Perjalanan dari Jakarta ke Bogor Naela lakukan sendiri dengan motor beat putih keluaran 2013. Sore seperti ini jalanan luar biasa macet dan menguji kesabaran. Apalagi Bogor sekarang sudah berbeda jauh dengan Bogor beberapa tahun lalu. Tidak ada lagi kota yang sejuk dengan sawah membentang di kanan dan kiri jalan, sebaliknya semuanya sudah disulap jadi bangunan ruko dan rumah sakit. Jalanan yang dulu masih sepi kini jadi sangat padat, terlebih saat jam berangkat dan pulang kerja. Biasanya bisa macet total. Wajar saja beberapa survei menempatkan Bogor sebagai kota dengan kemacetan nomor dua setelah Jakarta, bahkan beberapa survei menempatkan kota Bogor di urutan pertama.
Tak sampai satu menit Naela berdiri menunggu, pintu kini sudah dibuka oleh Umi Dian. Ibunya.
“Assalamualaikum. Umi sehat?” Naela langsung mencium punggung tangan wanita itu kemudian memeluknya hangat.
“Walaikumussalam. Umi sehat, Nak. Ayo masuk.” Seperti biasa Umi akan mencium pipi kanan dan kiri Naela, lalu mengambil alih barang-barang yang dibawa putrinya.
“Sudah empat hari kamu tidak pulang, Nae. Fatih setiap hari tanya kapan kamu pulang.”
Naela bertanya di mana adiknya itu sekarang. Rupanya sedang ada hajatan di rumah pak RT, dan Fatih bersama anak-anak lain datang ke sana untuk melihat proses pemotongan kambing.
Umi Dian mengangkat satu panci kecil sup jamur, sup kesukaan Naela. Tanpa diberi aba-aba lagi, Naela langsung memenuhi mangkoknya. Ia lahap dengan semangat.
“Bagaimana sidangnya tadi? Umi tahu pasti kamu berhasil. Lalu keluarganya Sukarti?”
“Alhamdulillah lancar, Umi. Setiap kesulitan ada dua kemudahan. Setiap yang rumit, selalu ada hal sederhana di dalamnya. Keluarga Mbak Sukarti sudah pulang ke Jember tadi jam tiga. Naela tidak ikut mengantar ke stasiun. Itu di kresek ada oleh-oleh dari orang tuanya Mbak Sukarti. Sepertinya hasil kebun.”
“Wah, biasanya hasil kebun dari kampung itu rasanya berbeda kalau sudah diolah. Sini Umi mau lihat dulu. Kamu tambah lagi supnya.”
Naela hanya mengangguk, tanpa disuruh pun ia pasti akan tambah sup lagi. Pandangannya mengikuti sosok Umi hingga ke ruang tamu. Sejak sang ayah meninggal 8 tahun lalu, Naela hanya tinggal bersama wanita 64 tahun ini dan Fatih, bocah 4 tahun yang dibawa Naela dari Amerika. Dari cerita Naela, Fatih adalah putra sahabatnya yang hamil di luar nikah bersama laki-laki tidak bertanggung jawab. Daripada anak itu ditinggalkan di panti asuhan, Naela berjanji akan merawatnya.
“Lihat ada ubi jalar, kecipir, sama pisang nangka. Wah, sudah lama Umi tidak masak bahan-bahan ini, Nae.” Umi Dian menyebutkan nama-nama hasil kebun itu dengan sumringah, kemudian ia angkut kresek tersebut ke dapur. “Nae, kamu tidak mau kenalan sama anaknya Ustad Husein? Itu lho Si Yusuf yang baru pulang dari Turki.” Ditepuknya pundak Naela, kemudian saat Naela memandangnya, Umi Dian mengerjipkan mata.
“Buat apa, Mi?”
Naela tahu pertanyaannya barusan pasti akan dijawab Umi dengan penjelasan-penjelasan yang sudah berkali-kali diulang. Tentang umur Naela yang menginjak angka 30, tentang masa depan sang lelaki yang sudah jelas dan alasan lainnya.
Memang benar, usia 30 tahun dirasa tidak pantas untuk wanita yang masih melajang. Tapi mau bagaimana lagi. Andai Umi Dian tahu, setiap kali ia bicara pada Naela perihal jodoh dan pernikahan, ia sudah sangat menyakiti Naela.
“Nae, kamu itu sudah waktunya menikah. Dengar- dengar dari Mariam, banyak juga laki-laki yang tertarik sama kamu. Kenapa kamu tidak mau kasih kesempatan ke salah satu dari mereka?”
“Mereka tidak tahu apa-apa tentang Naela, Mi. Naela tidak sesempurna yang mereka kira. Masih banyak yang perlu Naela perbaiki dulu.” Jawabnya sebelum beranjak untuk mencuci mangkok.
“Kalau nunggu sempurna, ya keburu tua, Nae.” Umi Dian sedikit kesal. “Ya sudah lebih baik kamu istirahat saja. Sambil nunggu Fatih pulang. Umi mau masak buat kita makan malam.”
“Naela tidak bantu ya...” Ia nyengir ke arah Ibunya.
“Istirahat saja sana. Umi tahu kamu kurang istirahat. Sebelum datang kasus baru lagi.”
Sepertinya Umi sudah hapal dengan kebiasaan Naela yang kekurangan istirahat setiap menyelidiki perkara baru. Empat hari terakhir Naela sampai menginap di rumah Mariam. Setiap malamnya selalu ketiduran di depan laptop, di atas tumpukan kertas, itu pun hanya satu atau dua jam saja.
Naela berjalan menuju sofa. Ia duduk di sana, kepala disandarkan sambil matanya terpejam. Rumah ini selalu nyaman sebagai tempat istirahat setelah lelah menghadapi segala rupa sifat manusia di gedung pengadilan. Dalam hati Naela merasa begitu lega. Akhirnya perkara Sukarti yang awalnya terlihat rumit itu bisa diselesaikan juga.
Masih teringat jelas dalam ingatan Naela, Sukarti selalu menangis setiap bercerita musibah yang menimpanya. Sudah diperkosa, dituduh menggoda majikan dan mencuri uang, diadukan pula ke pengadilan dengan ancaman penjara sekian tahun. Pantas saja saat Naela berkunjung ke Lapas Wanita beberapa bulan lalu, banyak wanita yang mendekam di sana sebenarnya tanpa kesalahan apa pun. Mereka kalah di pengadilan karena tak ada yang mau membela, karena hukum di negeri ini lebih bersahabat kepada mereka yang memiliki uang dan jabatan. Atau masalah lain karena para petugas penegak hukum malas menyelidiki lebih lanjut.
Seperti kasus Mbak Jum, wanita 47 tahun asal Purbalingga yang sudah mendekam di Lapas hampir empat tahun karena tuduhan mencuri tas. Padahal ia hanya seorang pemulung yang menemukan tas kosong di tempat pembuangan sampah. Tapi keterangannya tidak pernah mau didengar para penegak hukum. Tas itu ada di tangan Mbak Jum, berarti Mbak Jum adalah pencurinya, lalu masalah pun tutup buku. Tuntas. Mereka sepertinya malas selidik sana- sini lagi, hanya buang-buang waktu dan akomodasi. Lagipula, dunia ini akan tetap baik-baik saja jika wanita seperti Mbak Jum dipenjara.
Ah, dimana-mana wanita selalu menjadi korban. Mungkin benar apa yang dikatakan Nana dalam novel A Thousand Splendid Suns karya Khaled Hosseini, “Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk arah Utara, seperti itu pula telunjuk lelaki yang terus menunjuk wanita.”
Naela menarik napas dalam, kemudian mengembuskan perlahan.
“Kak Naela...Kak Naela pulang....horeee...”
Mata Naela segera terbuka saat teriakan anak laki-laki itu memenuhi rumah.
Fatih. Bocah laki-laki bertubuh tinggi dengan mata biru yang cantik. Hal lain yang disukai Naela adalah rambut pirangnya yang bergelombang, sangat serasi dengan bentuk wajah Barat yang dimiliki.
Cinta Naela pada Fatih melebihi cinta seorang kakak pada sang adik, hanya terkadang dia harus bersikap wajar di
depan orang-orang. Fatih adalah cahaya di mata Naela, anak laki-laki yang selalu membuatnya bahagia.
“Fatihku sayang, baru pulang dari mana? Sudah berani main sendiri ya sekarang?” tanya Naela setelah menjawab salam.
Fatih duduk di pangkuan Naela, menengadah sambil memainkan sisi kerudung di kening kakaknya. “Nggak sendiri kok. Bareng Aa Dani, Aa Asep, sama Aa Dwiki. Fatih diantar sampai depan rumah. Tadi lihat Ustad Husein potong kambing. Darahnya buanyaaak. Fatih jadi kasihan.” Ceritanya sambil menunjukkan wajah murung.
Naela tidak tahan untuk tidak tersenyum. Fatih memang sangat sayang pada segala jenis binatang. Pernah suatu ketika, Umi Dian menjerit ketika tahu ulat daun sebesar ibu jari menempel di tiang jemuran. Tapi setelah Fatih datang, ulat itu justru diambil Fatih menggunakan kayu kecil, kemudian diletakkan di atas daun dengan hati-hati seraya berkata ‘Kamu hidup baik-baik, ya. Jangan ganggu Umi lagi.’
Di lain waktu, saat Fatih pulang bermain bersama anak-anak tetangga, ia membawa satu ekor anak kucing penuh kudis akibat siraman air panas. Anak kucing itu dirawat setiap hari hingga luka-luka di sekujur tubuhnya mengering. Tak sampai sebulan, bulu-bulu baru yang indah tumbuh lebat, dan kucing itu menjelma kucing lucu berwarna putih yang diberi nama Brandon.
“Sudah shalat, kan?” tanya Naela.
Fatih mengangguk. “Sudah. Tadi shalat jamaah bareng ustad Husein di Musola.”
“Anak pintar. Itu, kakak bawa sate kesukaan Fatih.” Telunjuk Naela tertuju pada kotak putih di atas meja. Sate itu dibelinya di restoran langganan tidak jauh dari kantor.
“Yee... makasih, Kak Naela.” ucap bocah itu, mencium pipi kakaknya, kemudian berlari menuju meja dapur.
CHAPTER 3 : Jamal And Partner’s Law Firm
Pagi-pagi sekali Naela sudah melajukan motornya menuju kota Jakarta. Fatih sedang sarapan saat ia berpamitan tadi. Umi membuat nasi goreng kentang yang sangat lezat. Satu piring nasi goreng dan secangkir teh dikandaskan Naela. Tidak lupa beberapa butir kurma. Sebenarnya, Fatih ingit ikut ke kantor. Tapi tidak ia diperbolehkan.
Dari luar, gedung kantor 21 lantai itu sudah mulai terlihat hidup. Satu dua orang berpakaian kerja berjalan menuju pintu masuk. Beberapa mobil sudah berderet di tempat parkir.
Bangunan kantor di depan Naela itu menampung puluhan kantor perusahaan. Kantor hukum tempat Naela bekerja berada di lantai 13. Ada 10 orang pengacara yang bekerja di sana, dan lima orang di antaranya ada dalam satu ruang kerja yang sama dengan Naela. Sebenarnya total ada 20 pengacara (baik senior maupun junior) yang bergabung di Jamal & Partners Law Firm, hanya saja kantornya berbeda lokasi. Dan pagi ini, di luar gedung sudah terlihat Pak Adrian yang berjaga di pos sekuriti. Laki-laki itu khusyuk membaca koran pagi.
“Assalamualaikum. Selamat pagi, Pak Adrian.” sapa Naela sambil memberikan senyuman seperti biasa.
Pak Adrian sedikit terkejut. Segera ia tutup koran di tangannya.
“Eh, Neng Naela. Waalaikumussalam dan selamat pagi kembali.” Ia jawab dengan ramah-tamah. Wajah Pak Adrian selalu segar dan teduh sepanjang hari. Tak pernah sekali pun Naela lihat wajah laki-laki itu murung dan kekurangan senyum.
“Ada berita apa pagi ini, Pak?”
“Ini Neng, soal program baru pemerintah untuk pertanian. Sepertinya kok ganti nama terus. Bukannya melanjutkan yang sudah dibuat sebelumnya. Setiap program baru pasti semuanya dirombak lagi, anggarannya lebih banyak untuk urusan administrasi. Ujung-ujungnya petani cuma dijadikan alat orang-orang atas buat mengeruk keuntungan. Program inilah, itulah, toh intinya tetap demi kesejahteraan petani ya, Neng? Buktinya sejauh ini petani tidak kunjung sejahtera, tapi orang-orang atas itu yang semakin makmur.” Pak Adrian geleng-geleng kepala sambil menunjuk judul berita yang sedang dibahas.
Naela tersenyum menanggapi perkataan lawan bicaranya. Pak Adrian memang selalu peka soal isu-isu yang sedang hangat, terlebih tentang pertanian. Mungkin karena rata-rata keluarganya adalah petani di Karawang sana.
“Memperbaiki satu orang mungkin mudah, Pak. Tapi kalau sudah struktur, semuanya ibarat rantai yang sudah karatan. Saya jadi ingat pada satu orang teman yang bekerja di Dinas Pertanian suatu kabupaten. Dia bilang, apabila ada pegawai yang jujur justru akan dimusuhi teman-teman yang lain.” Tutur Naela menimpali keluhan Pak Adrian.
“Tetangga Bapak Neng, di rumah yang di Karawang sana, katanya masuk penjara sebulan lalu. Padahal orangnya lurus, hidupnya juga mengalir seperti petani-petani lain. Tapi dia dilaporkan dengan tuduhan mencuri pupuk milik penyuluh pertanian swasta yang punya gudang di desa itu. Cuma pupuk padahal, Neng.” Pak Adrian sudah banting stir ke topik lain.
“Pupuk kan sekarang mahal, Pak? Lagipula mencuri itu kan kriminal.” Kata Naela. Tentu tidak berpihak pada petani malang itu.
“Iya juga, Neng. Tapi kadang di kehidupan sehari-hari, kita juga sering ya nemuin orang-orang miskin mencuri hal- hal kecil, tidak sebanding sama hukumannya. Walaupun kalau dipikir secara nalar, memang sudah sepantasnya orang seperti itu dihukum.Tapi yang membuat hukum semakin terlihat berat sebelah itu ketika yang tertangkap adalah para koruptor. Hukumannya paling lama 1 sampai 2 tahun, yang mana penjaranya kelas VIP lagi. Bahkan ada yang dibebaskan hanya dengan keputusan hakim pra peradilan.” Pak Adrian berucap dengan nada penuh prihatin. “Sudah Neng masuk saja sana, sepertinya semua juga sudah pada datang.”
“Hukum itu memang harus tegas, Pak. Tapi tidak bisa dipukul rata. Kita tidak bisa mengabaikan sisi perikemanusiaan.” Naela bersiap-siap melangkah masuk. “Oh, sudah pada datang ya, Pak? Berarti Naela terlambat.”
“Tidak juga, Neng. Merekanya saja yang datangnya kepagian.”
“Oh begitu. Saya masuk dulu ya, Pak...”
Naela berjalan memasuki gendung. Begitu keluar dari lift lantai 13, ia langsung disambut ucapan selamat dari orang-orang yang sudah hadir terlebih dahulu. Kemenangan Naela di sidang kemaren ternyata sudah diketahui seluruh teman kantornya. Beberapa menit, Naela sibuk meladeni ucapan-ucapan yang datang.
Total ada dua ruangan besar di lantai ini, masing- masing ditempati lima pengacara. Di bagian tengah terdapat satu set sofa besar, bagian belakang ada dapur dan tiga buah kamar mandi, dan sebuah meja resepsionis di dekat lift. Naela kemudian berjalan menuju ruang kerjanya yang ada di sayap kanan lantai.
“Selamat pagi...” ucap Naela begitu sampai di ruang kerjanya. Di sana ada empat ruangan kecil yang dipisahkan oleh dinding pembatas setinggi dada orang dewasa atau yang biasa disebut cubicle.
“Pagi juga, Nae.” jawab mereka hampir serempak. Seketika kepala-kepala bermunculan dari cubicle masing- masing.
“Selamat ya, Nae. Kata Mariam, kemaren sidangnya hebat. Kamu itu baru dua tahun jadi pengacara sudah segemilang ini prestasinya.” Ini Mas Faisal. Pengacara usia 32 tahun berwajah teduh dan meneteramkan. Sudah beristri dan memiliki satu anak perempuan berusia 2 tahun.
“Ah Mas Faisal paling hobi memuji. Mariam mana, Mas?” tanya Naela sambil melongok ke sana ke mari.
“Tidak tahu ke mana juga. Dia suka menghilang tidak jelas. Paling-paling ke tempat jualan ketoprak di depan sana.”
“Hei Nae, mentang-mentang menang, awak tak ditengok-tengok lagi. Selamat, Nae. Bangga pulak Abang dibuatnya.” Ucap Bang Regar, mereka memanggilnya begitu. Nama panjangnya Alex Siregar, tapi panggilan Alex terlalu keren untuknya. Bang Regar adalah pengacara yang punya track record paling tinggi di kantor ini, tentunya Pak Jamal tidak masuk hitungan. Enam bulan lalu ia berhasil memenangi kasus sengketa dua perusahaan properti besar.
Naela tidak begitu paham bagaimana kronologisnya, karena di waktu yang sama ia juga sedang sibuk dengan kliennya. Tentang reputasi Bang Regar yang gemilang, hal itu dianggap wajar setelah tahu dia berasal dari Medan, asli Batak. Entah hal benar atau tidak, semua pengacara maupun advokat Batak memang paling digemari dan dicari-cari klien. Mereka dikenal tegas setiap kali berbicara dan selalu membuat lawan bicara kehilangan mental sebelum sampai medan pertempuran.
“Terimakasih, Bang Regar.” Jawab Naela dengan tersenyum.
“Selamat ya, Nae. Mbak ikutan senang.” Mbak Nurul memberi ucapan tulus. Wanita yang setiap kerja selalu menggunakan blazer dan rok span itu memang selalu lemah lembut tutur katanya.
“Terimakasih, Mbak. Berkat dukungan dari kalian semua.”
“Tapi Nae, kau harus hati-hati pada si Kris itu. Kudengar dari Mariam, dia mendeklarasikan perang sehari lalu. Abangmu ini sudah kenal sangat sifat Kris. Kalau dia sudah bilang perang, sampai mati pun dia tak mau kalah. Hati-hati saja pesan Abang.” Bang Regar sudah duduk kembali di kursi. Tapi suaranya tetap bisa terdengar.
“Oh ya begitu, Nae? Benar tuh kata Regar. Hati-hati saja.” sambung Mas Faisal.
“Iya, insya Allah...” Naela duduk sambil berpikir tentang ucapan Bang Regar barusan. Benarkah Kris sejahat itu? Ah pagi-pagi begini ia bisa kehilangan semangat kalau berpikir soal Kris.
“Eh, Kak Naela. Selamat, ya. Hebat lho bisa menang kasus seperti itu. Biasanya yang punya uang itu susah sekali dikalahin.” Deen, pemuda umur 26, asli Jakarta, yang belum genap enam bulan bergabung di kantor ini. Dia lulusan Universitas Indonesia, hanya saja belum pernah menangani satu perkara pun. Alasannya tidak berbakat bicara di depan umum. Malah pilih menjaga meja resepsionis dan membantu senior-seniornya. Membantu apa pun, bahkan sampai membuatkan kopi pun dia terima-terima saja.
“Mas Faisal, ini nih kopinya.” Kopi yang diulurkan Deen langsung disambut Mas Faisal.
“Thanks, Deen. Kan Naela menang gara-gara kamu doakan siang malam.” Mas Faisal mengerjipkan mata kepada Deen..
Terdengar tawa Mbak Nurul, Bang Regar, dan Mas Faisal bersamaan. Deen sendiri ikut tertawa setelah pura- pura berpikir. Dia tunjuk dirinya sendiri dengan wajah seolah bertanya ‘aku?’.
“Iya tuh, Nae. Si Deen akhir-akhir ini shalatnya rajin, sepertinya dia memang benar-benar berdoa untukmu.” Mbak Nurul akhirnya berkomentar.
“Ah siapa? Si Deen? Mau dia berdoa sampai Masjid runtuh pun, tak akan terkabul doanya.” Bang Regar ternyata tidak mau kalah, mengubah ruangan ini jadi penuh tawa.
Pagi ini Naela berencana untuk beres-beres meja, memperbaiki jadwal yang sudah ditulis, menyusun tumpukan kertas, dan mengganti bunga krisan kuning yang sudah berubah cokelat. Semenjak menangani kasus terakhir, meja kerjanya terlihat sangat berantakan. Mas Huda—petugas kebersihan di ruangan ini—pun hanya merapikan sekadarnya, karena sudah diwanti-wanti Naela agar tidak menyentuh dokumen atau kertas apapun yang ada di atas mejanya.
“Ayo Nae, berangkat.”
Mariam sudah berdiri di depan pintu masuk cubicle Naela. Tangan kirinya menyandang tas hitam mahal kesayangan, sementara tangan kanannya memegang permen loli pop. Naela menggeleng melihat tingkah Mariam yang tidak kunjung dewasa. Setidaknya dia bisa sadar kalau dirinya itu seorang pengacara, bukan model K-pop.
Naela melirik ke arah sahabatnya, “Berangkat ke mana?” tanyanya sambil khusyuk memilah satu tumpuk kertas.
“Ke kantor PF lah.” jawab Mariam dengan santai. Matanya tertuju pada permen loli pop.
Oh iya. Naela sendiri benar-benar lupa kalau hari ini harus datang ke kantor PF.
“Eh, sudah pada tahu kan kalau Naela sebentar lagi akan masuk majalah PF? Majalah terkenal yang berisi kisah- kisah inspiratif tokoh-tokoh Indonesia dan Internasional itu.” Dasar Mariam. Dia malah jual siaran murahan lagi pagi-pagi seperti ini. Ketika semua orang di ruangan ini menampakkan kepala dan memandang ke arah mereka berdua, Mariam justru menengadah, memandang langit-langit sambil matanya berputar ke sana ke mari, seolah ia adalah makhluk bisu dan tak berdosa.
“Aih, yang betul kau, Mar?” Bang Regar setengah tidak percaya.
“Tidak sembarang orang bisa masuk majalah PF lho, Kak!” Sambung Deen. Disenggolnya lengan Mariam.
Nasib Mas Faisal dan Mbak Nurul tidak kalah tragisnya. Kening mereka berkerut dipenuhi tanda tanya.
“Cuma wawancara kecil saja kok.” Akhirnya Naela yang harus menjelaskan. Mariam selalu membuat kekacauan tanpa pernah ia selesaikan sendiri. Naela mendengus sambil menatap Mariam jengkel. Jangankan merasa bersalah, seperti biasa, Mariam justru kembali asik pada loli popnya, kemudian berekspresi seolah-olah itu loli pop paling enak sejagat raya.
Ucapan selamat dan pujian kembali bertubi-tubi didapatkan Naela. Parahnya, mereka semua jadi minta traktiran pada Naela.
“Deen, nanti kalau Mas Huda datang, suruh angkat kardus di bawah meja ini ke lemari Kakak, ya.” Naela menunjuk kardus penuh kertas yang ada di bawah mejanya. Jam segini biasanya Mas Huda masih membantu beres-beres di bagian dapur dan kamar mandi.
“Oke, Kak.” Deen mengangkat satu jempol, lalu kembali sibuk dengan komputernya.
“Jangan lupa Abang kau ini, Nae. Sebutlah satu kali nama Alex Siregar nanti saat wawancara. Kau karang cerita, Bang Regar itu pengacara paling ganteng se-Indonesia atau apalah. Oke?” Hanya suara Bang Regar yang terdengar, wajahnya terbenam di balik kubikel.
“Ganteng? Aih, ganteng dari mana pulak, Bang? Dari Hongkong? Lebih baik aku bilang kambing yang ganteng, daripada bilang Bang Regar yang ganteng. Bisa menyesal tujuh turunan pulak aku.” Mariam menyambung dengan logat ala Bang Regar. Mariam memang sudah terbiasa berbicara seenak hati dengan Bang Regar. Sama halnya dengan Bang Regar yang terang-terangan kalau mengatai
Mariam. Kalimat-kalimat seperti: ‘Kalau aku jadi cowok, tak mau aku dapat pacar macam kau, Mar. Cara kau makan bikin aku muntah.’ atau ‘Mar, kau itu kalau makan cabai jangan terlampau bernafsu. Menggantung semua di gigi macam jemuran’, semuanya sudah sering diterima Mariam. Dan seperti biasa, Mariam akan meledak-ledak gantian menghina Bang Regar.
“Diam kau, monyet!” Bang Regar ternyata tidak mau kalah. Tawa mereka yang lain pun tidak bisa ditahan kalau sudah dua makhluk itu yang adu mulut.
“Regar, tidak baik lho kasih julukan jelek begitu. Semonyet-monyetnya Mariam, setidaknya dia lebih cantik lho dari pacarmu.” Ternyata Mbak Nurul ikut terjun dalam masalah dua makhluk ini.
“Aih, Kak Nurul. Meskipun misalnya nih, aku punya pacar seekor monyet, tetap saja aku bilang lebih cantik milyaran kali daripada jemuran cabai itu.”
Lagi-lagi tawa mereka pecah. Dengusan Mariam terdengar. Ia mencibir. Tangannya meraih kertas di meja Deen, meremasnya, lalu dilempar ke arah kubikel Bang Regar.
“Haha. Santai, Kawan.” akhirnya tawa Bang Regar terdengar juga. Kedua tangannya muncul dari dinding kubikel, pertanda ucapannya hanya sekadar gurauan.
“Tertawa saja sampai puas! Ayuk, Nae. Tidak betah aku lama-lama di sini.” Kembali Mariam mencibir ke arah Bang Regar yang kini kepalanya sudah muncul. Tawanya masih berlanjut.
Mereka melangkah keluar. Mariam kembali asik pada loli pop. Masalah tadi sama sekali tidak ada pengaruh baginya. Semua ucapan Bang Regar selalu dianggap seperti angin lalu.
CHAPTER 4 : Apa Pentingnya Materi bagi Seorang Muslim?
Mereka masuk ke lobi bangunan 20 lantai yang dipenuhi hilir mudik orang-orang berpakaian kantor. Ketika akan masuk lift, Mariam minta ditunggu karena tiba-tiba ingin ke kamar kecil. Naela pilih menunggu di sofa yang tersedia di lobi, menyibukkan diri dengan ponsel. Rasanya sudah hampir dua minggu akun facebooknya belum dibuka.
“Naela? Kamu ada perlu apa di sini?”
Suara itu? Bahkan tanpa lihat wajahnya, Naela sudah tahu siapa dia. Ia mengutuk dalam hati.
“Tidak usah kaget begitu juga. Memangnya ini rumah kamu?” tanya Naela sambil menunjukkan wajah tidak suka.
“Kenapa marah? Aku hanya bertanya.” Setelah kalimat ini, Kris berlalu begitu saja.
Lipatan dahi Naela terlihat, heran pada respon Kris yang terlalu sederhana. Setelah berjalan sekitar belasan langkah, Kris kembali berbalik, ia tunjuk Naela, “Oh iya, Nae. Hati-hati, ya. Biasanya banyak yang ingin mencelakai orang- orang yang punya otak terlalu lurus seperti kamu.” ucapnya kemudian melanjutkan langkah. Kris lalu singgah di meja resepsionis yang berada di depan pintu masuk. Cukup jauh dari tempat Naela duduk sekarang.
“Dasar Kris.” gerutu Naela sendiri.
“Ada apa, Nae? Kok wajahmu begitu?” Mariam sekarang sudah berdiri tak jauh dari Naela. Cepat-cepat ia berdiri.
“Kenapa harus ada Kris di sini?!!” Naela bercerita, melemparkan pandangan benci ke arah meja resepsionis. Kris masih ada di sana, sedang berbicara sambil menggerakkan tangan.
“Ya, ini gedung isinya juga tidak cuma satu kantor juga kali, Nae. Pasti ada banyak orang yang punya kepentingan di sini, termasuk Kris. Kecuali kalau dia ada di kantor kita, baru deh kalau kamu mau sebal. Lagian Kris tidak begitu jelek. Lihat itu, necis banget pakai celana jins dan kaos putih begitu. Tingginya pas, hidungnya lancip, dan kalau tidak salah dia punya bola mata berwarna cokelat, kan?”
Pandangan Naela pada Mariam terlihat jijik. Sejak kapan Mariam jadi memuji-muji Kris. Dan satu lagi, benarkah Kris punya bola mata berwarna cokelat? Yang Naela tahu, laki-laki itu perokok berat dan punya rambut gondrong yang tidak pernah rapi. Satu hal lagi, necis dari mananya?
“Fisik itu relatif, Mariam. Tapi sifatnya? Kamu memujinya karena kamu belum pernah jadi lawannya di persidangan. Kalau pernah, kamu akan tahu aura jahat yang keluar dari wajahnya itu. Senyum licik dan segala sindiran jahatnya. Semua tentang dia pasti menjengkelkan.”
“Kalau boleh jujur,” bisik Mariam dengan wajah sedikit malu-malu, “Aku berharap semua kasus yang kutangani adalah kasus yang juga dituntut Kris. Seperti kamu, Nae.
Pasti akan manis sekali kalau aku pemeran utama wanitanya.” Mariam tersenyum, melirik ke atas seperti ada sesuatu yang indah sedang menari di atas kepalanya. Tapi kemudian, ia tiba-tiba menghadap Naela, telunjuknya dijentikkan. “Kurasa Nae, kamu tidak pernah benar-benar benci pada Kris.”
Naela pukul punggung sahabatnya agak keras. Dari mana pula Mariam bisa menyimpulkan seperti itu? Pembicaraan tentang Kris usai saat mereka masuk ke dalam lift. Mariam menekan angka 11. Tidak ada orang lain di dalam sana kecuali mereka berdua. Sementara Naela berdiam diri, Mariam asik dengan ponselnya. Sesekali ia pamer foto-foto artis yang sedang berpelesir ke luar negeri di instagram.
Akhirnya mereka sampai. Tanpa buang waktu mereka langsung bertanya pada wanita yang sedang bertugas di meja resepsionis, kemudian menunggu petugas tersebut menelepon orang yang dimaksud.
Tak lama mereka disambut seorang wanita berpakaian necis dengan rambut digulung ke atas. Namanya Aini, seorang jurnalis sekaligus editor. Ia berkaca mata minus yang menambah kesan cerdas. Mariam seperti kebakaran bulu hidung. Berkali-kali dia berbisik pada Naela bahwa wanita itu tidak lebih cantik darinya. Seperti biasa, hanya ditanggapi Naela dengan cibiran.
Wawancara dimulai beberapa menit kemudian di sebuah ruangan. Mereka semua duduk di sofa yang sudah disediakan. Di sisi lain ruangan ada dua orang laki-laki berpenampilan ala fotografer sedang sibuk memindahkan payung-payung untuk pengaturan pencahayaan.
“Begini, Mbak. Kalau dilihat-lihat kan selama ini perkara yang Mbak Naela bela itu kebanyakan dari mereka yang ekonominya lemah. Lalu bagaimana Mbak bisa dapat penghasilan? Bukannya Mbak juga mengharapkan uang dari pekerjaan Mbak?” Aini memulai dengan sebuah pertanyaan.
“Benar. Di situlah sebenarnya pentingnya materi. Seseorang yang materinya berlimpah memiliki kesempatan untuk menolong sesama dengan proporsi yang lebih banyak. Contohnya Bill Gates yang telah menyumbang sekitar USD 2,6 miliar untuk melawan penyakit dan membangun pendidikan di seluruh penjuru dunia. Kemudian ada Rasyid Nikaz, seorang jutawan dari Prancis. Ketika negaranya menetapkan undang-undang larangan cadar bagi wanita Muslim, bahkan mengenakan denda bagi mereka yang ngotot bercadar, Rasyid justru berdiri di barisan paling depan membela para Muslimah tersebut. Rasyid kemudian berkata mantap, ‘Wahai wanita Muslimah, pakailah cadar sesuka hati, saya yang akan membayarnya.’”
“Kita juga bisa mengambil teladan dari kisah Abdurrahman bin Auf. Beliau adalah salah satu sahabat yang terkenal dengan kekayaan dan kedermawanannya. Ia pernah menyedekahkan 700 unta sekaligus muatanya ke seluruh penduduk Madinah, pernah berinfak 40.000 dirham perak, dan pernah memberikan 40.000 dinar emas. Ia pernah membeli sebidang tanah, lalu tanah itu dibagi-bagikan seluruhnya kepada fakir miskin sebagai sedekah dan kepada para janda Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam sebagai hadiah. Tatkala hampir meninggal dunia, Abdurrahman memerdekakan sejumlah besar budak-budak yang dimilikinya. Kemudian ia berwasiat supaya sebagian hartanya diberikan kepada para veteran perang Badar yang berjumlah seratus orang. Dia juga berwasiat supaya hartanya yang paling mulia dihadiahkan kepada para Ummul Mukminin, para istri Nabi salallahu ‘alaihi wassalam. Dia juga meningggalkan warisan untuk ahli warisnya sejumlah harta yang hampir tidak terhitung banyaknya.
Seandainya Bill Gates, Rasyid Nikaz, dan Abdurrahman bin Auf tidak memiliki materi berlimpah, bisakah ia membantu orang lain? Tentu saja bisa, tapi tidak akan sehebat itu. Seseorang yang diberi rejeki berlimpah sejatinya telah ditunjuk sebagai agen Allah untuk membantu manusia lainnya. Semakin banyak yang kita gunakan untuk kebaikan, akan semakin banyak pula yang merasakan manfaatnya. Oleh karena itu iblis menyebut orang kaya yang dermawan sebagai salah satu musuhnya. Tapi jaman sekarang, semakin kaya seseorang, semakin angkuh pula dirinya. Daripada disedekahkan, justru pilih dihabiskan untuk membeli ferrari seharga milyaran rupiah, tas mewah, dan barang-barang mahal lainnya.” Jelas Naela.
“Sebenarnya apa sih poin penting yang harus jadi pegangan pengacara, Mbak?”
“Bagi saya sendiri, poin pertama adalah nurani, poin kedua adalah sumpah dan kode etik pengacara. Nurani berada di poin pertama, karena secara alamiah sebenarnya seorang manusia itu bisa membedakan antara yang benar dan salah, baik dan buruk, di dalam nurani mereka. Hanya saja masalahnya, nafsu manusia itu jarang sejalan dengan nurani. Ada semacam pertempuran antara nurani dan nafsu. Dan jika nafsu yang menang, hasilnya ya seperti yang kita temui: pejabat yang korup, pelajar yang mencontek, ayah yang tidak bertanggung jawab, dan sebagainya. Itulah manusia yang kalah pada diri sendiri. Seperti yang sudah kita ketahui, Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam dengan jelas menyebutkan bahwa pertempuran paling berat itu sebenarnya bukan pertempuran di medan perang, melainkan pertempuran melawan hawa nafsu sendiri.”
“Oh ya Mbak Naela, bisa diceritakan sedikit tentang usaha kuliner yang baru tiga bulan ini Mbak tekuni? Aisya Restaurant and Cafe. Kenapa memilih nama Aisya?”
Naela tersenyum. “Iya, Aisya Restaurant and Cafe adalah usaha sambilan saya selain jadi pengacara. Lokasinya di jalan Pajajaran, Bogor Kota. Saya hanya ingin mencontoh istri Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam yang pertama, Sayyidina Khadijah. Seorang pebisnis wanita sukses yang paling disegani di kota Mekah. Sejak awal dibukanya Aisya Restaurant, saya sudah niatkan untuk ibadah. Setengah keuntungan langsung didistribusikan untuk membantu saudara-saudara di Timur Tengah yang dilanda perang tak berkesudahan, dan sebagian sisanya untuk biaya operasional restaurant itu sendiri. Saya bekerja sama dengan beberapa Yayasan Peduli Timur Tengah untuk mengurus dana tersebut. Alhamdulillah. Nama Aisya sendiri terinspirasi dari Sayyidina ‘Aisha putri Abu Bakar, istri Rasulullah salallhu‘alaihi wassalam. Dia adalah sosok Muslimah muda, cerdas, akhlaknya luar biasa terpuji, yang mendapatkan panggilan khusus dari Nabi salallahu ‘alaihi wassalam yaitu ‘Humaira’, dan merupakan istri Nabi salallahu ‘alaihi wassalam yang paling banyak meriwayatkan hadist. ‘Aisha adalah simbol seorang Muslimah muda yang ideal. Ia terjun langsung dalam dunia politik bahkan peperangan. Karena itu saya memilih nama ‘Aisha dengan sedikit gubahan menjadi Aisya Restaurant and Cafe. Berharap setiap orang yang mengetahui latar belakang nama ini, akan terinspirasi oleh sosok ‘Aisha.”
“Wah, menarik sekali. Satu pertanyaan lagi. Kenapa Mbak Naela masih mempertahan motor beat keluaran 2013 itu untuk mengantar kemana pun Mbak pergi? Saya rasa penghasilan Mbak cukup untuk membeli sebuah mobil.” Aini menampakkan wajah tak habis pikir.
Naela tersenyum. Ia memberi jeda selama beberapa detik, “Motor itu sudah cukup membantu saya. Kenapa harus mencari yang lebih? Justru saya lebih mudah keluar dari jebakan macet.”
Mata Aini berbinar. Ada kekaguman yang memancar dari sana. “Jika Mbak Naela punya fan club, sepertinya sesudah acara ini saya akan langsung registrasi.” Mereka semua tertawa. Kecuali Mariam. Sejak tadi pikirannya terfokus pada ponsel, jadi begitu dua orang di sampingnya tertawa, ia baru sibuk bertanya, ‘ada apa?’.
Wawancara itu selesai setelah dua atau tiga kalimat lagi. Acara dilanjutkan dengan sesi pengambilan foto. Tidak perlu berganti pakaian atau make-up artis. Naela hanya perlu berbicara satu atau dua kalimat bersama Aini di Sofa, lalu seorang fotografer mengambil foto mereka dari depan. Mariam terpaksa menyingkir. Dan satu foto lagi hanya menangkap Naela sendiri yang duduk menghadap kamera.
***
Pukul 10.30 Naela dan Mariam sudah kembali ke kantor. Mariam langsung ke kubikelnya, sementara Naela harus menemui Pak Jamal di ruangan lain. Kata Deen, Pak Jamal mencari Naela dua jam lalu. Beliau titip pesan agar Naela segera menemuinya apabila telah kembali ke kantor. Sejak persidangan kemaren, Naela memang belum ada bertemu Pak Jamal.
“Assalamualaikum. Selamat pagi, Pak.” Ucap Naela di depan pintu.
Pak Jamal yang semula sibuk menulis seketika melihat ke arah tamunya. Dipersilakannya Naela masuk seraya tersenyum. Laki-laki yang hampir kepala tujuh itu sudah dianggap Naela seperti seorang ayah. Nasehat-nasehatnya yang tak pernah kehabisan tiap kali mereka berbincang, dan sorot mata teduh yang selalu menenteramkan di balik kacamata minusnya. Meskipun sekarang Pak Jamal sudah tidak pernah terjun langsung menangani perkara hukum, Naela tetap sering bertanya banyak hal pada Pak Jamal terkait perkara-perkara yang ia tangani. Laki-laki itu memang tak langsung memberikan solusi, namun ucapannya selalu membuat Naela lebih tenang dan akhirnya bisa menemukan jalan terang.
“Bapak sehat?”
“Ya, alhamdulillah. Seperti yang kamu lihat, Nae. Dari wajahmu yang cerah, Bapak sudah tahu kalau kamu juga sehat sentosa. Bagaimana sidang kemaren? Bapak dengar kamu kedatangan saksi yang tak terduga. Benar begitu?”
Naela tersenyum. Wajah Bu Zainab melintas di kepalanya. Bu Zainab adalah istri pengusaha yang kemaren menjadi lawannya di persidangan. Naela hampir saja menyerah di penghujung persidangan, hingga kemudian Bu Zainab datang dan membeberkan semua kebusukan suaminya, bahkan membawa beberapa alat bukti.
“Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat, Pak. Tidak pernah Naela sangka, Bu Zainab mau membeberkan semua kejahatan suaminya. Bu Zainab adalah wanita yang sangat tegar. Naela tidak pernah berpikir sebelumnya, bahwa ada wanita setegar itu di dunia ini.”
“Banyak kisah wanita tegar yang bisa kamu ambil hikmah darinya, Nae. Kalian para wanita itu sesungguhnya punya ketegaran jauh di atas laki-laki. Kekuatan yang sangat berbeda dengan yang dimiliki para lelaki, namun kebanyakan tidak menyadari. Kalian lebih percaya dengan anggapan umum yang berkata bahwa wanita itu lemah. Kalian larut di dalamnya, dan menjadikan anggapan tersebut sebagai alasan ketidak mampuan. ‘Wanita itu lemah, titik! Jadi wajar saja kalau aku tidak sanggup. Wajar saja kalau aku menangis. Wajar saja kalau aku menyerah’.
Banyak hal lain lagi yang kalian wajarkan karena anggapan tersebut. Bayangkan seandainya Siti Hajar menganggap dirinya lemah ketika ia ditinggalkan di padang gersang bersama Ismail yang masih bayi. Akankah ia berlari ke sana ke mari demi mendapatkan air? Akankah kota Mekah menjadi pusat perkumpulan Muslim sedunia seperti sekarang? Tidak, Nae! Kalau Hajar sama dengan wanita yang menganggap dirinya lemah, ia pasti akan menangis tersedu- sedu sejak awal, sejak Ibrahim akan meninggalkan mereka. Ia akan menarik kaki suaminya dan memohon agar tak ditinggal. Dan Mekah tetap sebagai gurun pasir yang gersang. Jadi wajar saja kalau Bu Zainab punya kekuatan sebesar itu. Dan Bapak yakin, kamu pun memilikinya. Mungkin sekarang kamu belum tahu sekuat apa dirimu, tapi nanti ada masanya kamu tahu. Seorang politisi wanita asal Amerika pernah berkata, wanita itu seperti kantong teh. Kamu tidak akan tahu seberapa kuat mereka, sebelum dicelupkan ke dalam air panas.”
Naela mengangguk. Ia bertanya dalam hati, benarkah suatu masa nanti ia akan tahu sekuat apa dirinya? Setegar apa dirinya? Kapankah masa itu? Seberat apakah ujian yang nanti harus ia tanggung untuk mengetahui kekuatannya?
“Setiap masing-masing kita akan menghadapi ujiannya masing-masing, Nae. Dan yang lulus hanyalah mereka yang mampu bersabar. Itu saja kuncinya. Kamu seorang pengacara, dan sudah kewajibanmu membela sesuatu yang benar. Tapi di luar sana, semakin berjalannya waktu, semakin banyak kebenaran yang kamu bela, ada semakin banyak pula yang membencimu. Itu sudah pasti. Bapak bicara seperti ini karena Bapak tidak ingin kamu kaget saat masa itu datang. Bapak percaya, kamu akan lebih kuat dari yang Bapak pikirkan.”
“Seperti apa sabar itu, Pak?”
Sejenak Pak Jamal diam. Tangannya memainkan jenggot yang sebagian besar sudah memutih. “Bapak akan berusaha menyederhanakan. Sabar itu seperti kamu berdoa, penuh usaha dan keyakinan, walaupun kamu sendiri tidak pernah tahu kapan doa itu akan dikabulkan. Namun satu hal yang perlu diingat, semua doa pasti dikabulkan selagi yang berdoa adalah mereka yang memenuhi perintah-Nya dan hatinya beriman.”
Anggukan Naela kembali terlihat. Ia ikat kalimat tersebut di dalam hati sekuat mungkin.
“Oh iya, Nae.” Pak Jamal membenarkan letak kaca mata sambil salah satu tangannya meraih sebuah map. “Coba kamu pelajari perkara ini. Tadi Deen mengantarkan dua perkara baru. Setelah Bapak baca, sepertinya dua- duanya cocok untukmu. Pilihlah salah satu.”
Naela ambil map tersebut dari Pak Jamal. Ia buka salah satunya dan dibaca sekilas. Perkara pelecehan seksual? Sebenarnya ia sudah lama ingin terjun langsung menangani kasus semacam ini. Selain membantu, akan ada banyak pelajaran yang bisa diambil nantinya. Tapi entah mengapa, rasanya ia sudah menyerah terlebih dahulu. Kasus seperti ini membawanya ke suatu masa yang benar-benar tak ingin diingat. Dan apabila ia bersinggungan langsung, Naela takut emosinya tidak bisa dikendalikan.
Akhir-akhir ini kasus pelecehan seksual semakin marak. Kalau diamati, berita-berita tertangkapnya para pelaku pelecehan seksual yang ditampilkan di media massa, justru seperti penarik yang lain untuk ikut melakukan kejahatan yang sama. Parahnya, kasus seperti itu banyak menimpa anak-anak. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Bukankah setiap anak adalah lilin-lilin kehidupan? Tapi kenapa cahaya mereka justru redup sebelum sempat menjadi obor di masa depan? Apa yang ada dalam pikiran para pelaku itu?
“Tidak ada hukuman yang lebih pantas bagi laki-laki seperti ini kecuali hukuman mati!” Naela berseru geram, matanya berkilat. Jari-jari tangannya spontan mencengkeram map itu erat-erat.
Pak Jamal memandangnya heran, “Kamu baik-baik saja, Nae?.”
Naela menghela napas berat.
“Ya di negara ini, hukum untuk kejahatan seperti ini memang kurang tegas. Tidak berefek jera dan menakut- nakuti. Padahal sebenarnya itulah tujuan hukum. Agar yang berbuat tidak lagi mengulangi kesalahannya, bertaubat, sementara yang lain akan takut untuk mengikuti jejak kejahatan orang tersebut. Tolak ukurnya kan sederhana, kalau tujuan tersebut tidak mampu dicapai, berarti hukum tersebut gagal. Tapi mau bagaimana lagi, Nae. Kita inikan pekerja hukum, hanya bisa menjalankan sesuatu yang sudah ditetapkan.” Ucap Pak Jamal lagi.
Naela membuka map kedua. Kali ini kasus pembunuhan istri seorang pengusaha properti cukup ternama. Kejadiannya baru dua hari lalu. Pemberitaan mengenai hal ini sudah dibahas di hampir semua media cetak dan televisi, dan tentu saja sudah banyak pengacara yang menawari diri sebagai pendamping dengan cuma-cuma.
“Mengapa pengusaha ini memilih biro hukum kita?” tanya Naela heran.
“Itu berarti mereka percaya biro hukum kita berkualitas, Nae. Kau tertarik yang ini? Bapak jamin kasus ini akan membuatmu semakin dikenal.”
“Bukan soal itu, Pak. Tadi Bapak meminta Naela untuk memilih, dan sungguh, Naela tidak sanggup menangani kasus pelecehan seksual itu.”
Meski heran, Pak Jamal tidak mau mengorek alasan Naela terlalu jauh. Ia berdehem, “Baiklah. Bapak percayakan kasus pembunuhan ini padamu.”
CHAPTER 5 : Cinta yang Menghancurkan
Hari selanjutnya Naela langsung bekerja untuk kasus terbarunya. Tanpa ditemani siapapun ia mendatangi rumah pengusaha—yang berdasarkan berkas dari Pak Jamal— bernama Kian. Dari data yang ia punya, dikuatkan juga dengan pemberitaan di televisi dan sosial media yang marak, Naela tahu kalau Kian adalah pria yang masih cukup muda, usianya belum genap 35 tahun.
Kian menikah dengan Cyntia, sang korban, sekitar 6 tahun lalu. Kini mereka telah dianugerahi seorang putri cantik bernama Cahaya yang berusia 4 tahun. Setelah kematian Cyntia, secara otomatis putri kecil tidak berdosa itu menjadi piatu.
Naela tiba di rumah megah milik Kian sekitar 20 menit kemudian. Ada garis pembatas polisi berwarna kuning yang membingkai pagar. Lalu di halaman, lima buah mobil sudah terparkir rapi. Dua di antaranya merupakan mobil polisi.
Seorang lelaki berpakaian sekuriti menyambut kedatangan Naela. Ia bertanya identitas dan maksud kedatangan wanita itu. Begitu tahu Naela adalah pengacara, ia bergegas mengarahkan Naela untuk memarkir motornya.
“Mari Mbak, saya antar ke dalam.” Sekuriti itu berkata lugas namun tetap sopan.
Setelah menyimpan kunci ke dalam tas, Naela berjalan di belakang pemuda yang menurut perkiraannya berumur tidak lebih dari 28 tahun. Masih sangat muda, dan jujur, lelaki ini sangat tampan. Bisa dikatakan, dia lebih pantas menjadi seorang artis atau model parfum pria. Naela bertanya-tanya, kenapa lelaki ini memilih menjadi sekuriti? Kenapa tidak mencoba peruntungan lain? Dengan fisik seperti itu, pasti ada banyak peluang bagus untuknya.
Pertanyaan hanya sebatas pertanyaan yang terpendam. Naela merasa sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan pertanyaan seperti itu. Tanpa bicara apapun, ia terus berjalan. Matanya tidak lepas mengamati seluruh sudut halaman dan sisi rumah yang bisa terjangkau pandangan. Naela melihat deretan rangkaian bunga ucapan duka cita di sepanjang trotoar. Semuanya dari perusahaan ternama dan orang-orang terkemuka. Tidak perlu heran untuk hal ini.
“Selamat siang.” Sapa sekuriti itu begitu kaki mereka melangkah melewati pintu.
Naela sudah menyangka akan ada banyak orang di dalam rumah ini. Mereka sedang duduk melingkar di sofa besar yang ada di tengah ruangan, dan sebuah lampu kristal megah menggantung di atasnya. Empat orang lelaki berseragam polisi juga duduk di sana, mungkin tengah menanyakan beberapa hal terkait penyelidikan. Saat tahu ada orang lain yang datang, spontan semua yang ada di ruang utama itu melihat ke arah pintu.
“Siapa wanita yang kau bawa itu, Bams?” Seorang wanita berumur 45 tahun berdiri. Rambutnya yang di-blow membingkai wajah mulus dengan riasan make-up khas wanita kelas atas.
“Ini pengacara yang akan mendampingi Pak Kian, Nyonya.” Sekuriti yang ternyata bernama Bams itu kemudian pamit untuk kembali ke pos depan.
“Kian memintamu menjadi pengacaranya?” tanya wanita tadi penuh selidik, sambil berjalan mendekati Naela.
“Entahlah. Aku hanya menerima map mengenai kasus ini berdasarkan permintaan atasan. Aku tidak tahu persis asal muasal siapa yang sudah memintaku.”
“Gio, apa kamu yang meminta wanita ini untuk mendampingi Kian?” Ia memandang seorang lelaki muda yang tengah duduk persis di depan polisi. “Sampai sekarang Kian masih mengurung diri, tidak mungkin dia yang menghubungi pengacara. Dia lebih memilih ditemani asisten kepercayaannya itu dibandingkan kita yang jelas-jelas adalah keluarganya.” Wanita itu berkata dengan wajah jengkel.
“Bukan aku, Kak. Mungkin asistennya Bang Kian yang menghubungi pengacara ini. Dia ini Naela Alfiatul Husna, bukan? Pengacara yang sudah beberapa kali muncul di televisi?”
“Mana Kakak tahu. Jaman sekarang, jangankan pengacara, tukang sampah pun bisa masuk televisi.” Sambung wanita itu sambil menggidikkan bahu. Matanya memandangi Naela dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Memangnya tidak ada pengacara lain yang lebih meyakinkan.” Katanya lagi seperti dengungan lebah.
Naela sungguh tidak nyaman mendapatkan sambutan seperti ini. Seolah dirinya hanyalah pengacara murahan yang berharap menangani kasus besar untuk jadi terkenal.
“Saya tidak peduli siapa di antara kalian yang sudah menghubungi biro hukum tempat saya bekerja. Tapi sekarang, saya harus bertemu dengan calon klien saya.”
Wanita di depan Naela tersenyum sinis. “Dia tidak mungkin mau bertemu denganmu.”
“Mbak Naela.” Seorang lelaki berkemeja rapi muncul di ujung atas tangga, melihat ke bawah, lurus pada Naela. “Kian memintamu untuk menemuinya.” Ia berucap dengan senyuman ramah. Permintaan yang spontan membuat mata orang-orang di ruangan besar itu terbuka lebar. Termasuk empat orang polisi yang sejak dua hari lalu belum sekali pun bertemu dengan Kian.
“Kian memintanya?” tanya wanita di depan Naela.
“Iya, Bu Shindy.” Lelaki di atas membenarkan dengan suara jelas. “Saya yang sudah menghubungi biro hukumnya Mbak Naela. Tentu atas permintaan Kian sendiri.”
Naela tersenyum dan sedikit menganggukkan kepala sebelum berjalan ke lantai atas. Ia sempat mengamati siapa saja yang duduk di sofa besar itu. Selain empat orang polisi, di sana juga ada seorang lelaki yang tadi diketahui Naela bernama Gio, seorang wanita yang kira-kira berumur 65 tahun, dan seorang gadis kecil cantik berambut keriwil.
“Maaf atas sambutan mereka yang kurang bersahabat. Kepala keluarga di rumah ini adalah Kian, jadi kita tidak perlu memikirkan mereka.” Lelaki yang tadi menunggu di atas tangga memulai pembicaraan.
Naela tersenyum getir. Bagaimana pun sambutan orang-orang di bawah sangat mengusik hatinya. “Apa kamu asistennya Kian?”
“Oh, iya. Saya lupa. Perkenalkan, nama saya Rais. Saya menjabat sebagai general manajer di perusahaan sekaligus asisten pribadi Kian. Hmm... orang kepercayaan. Sejenis itu.” Tangan lelaki itu diulurkan, dan hanya disambut Naela dengan kedua tangan yang dirapatkan di depan dada. Lelaki itu segera menarik tangan, tersenyum paham.
“Saya Naela. Senang berkenalan dengamu.” Ucapnya.
“Wanita yang tadi menyambutmu, namanya Shindy. Dia kakak kandung Kian. Seorang janda dengan satu anak. Sekarang anaknya sedang sekolah. Lalu lelaki muda itu, dia adiknya Kian. Sekarang dia sedang menjalani semester akhir di salah satu universitas terkemuka di Bali. Hmm, wanita yang lebih tua itu, dia ibunya Kian. Sedangkan gadis kecil yang ada di pangkuannya tidak lain adalah putri Kian. Namanya Cahaya.” Rais menjelaskan. Ia tahu hal itulah yang pasti akan ditanyakan Naela.
“Apa hanya mereka saja keluarga Kian?”
“Yang tinggal di rumah ini memang hanya itu. Selebihnya masih ada banyak. Tapi mereka tinggal di rumahnya masing-masing. Hari ini semuanya sudah pulang, ada banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal terlalu lama. Lagipula anak-anak harus sekolah.”
Naela mengangguk.
“Oh, ini kamarnya.” Rais menunjuk sebuah kamar yang tertutup. Mereka berhenti tepat di depannya. Sementara Rais mengetuk pintu, Naela memanfaatkan waktu untuk mengamati segala penjuru rumah.
“Mari masuk.” Pintu itu didorong Rais. Ia memberi isyarat agar Naela masuk terlebih dahulu.
Jantung Naela berdetak dua kali lebih cepat. Kasus ini membuatnya penasaran, tapi juga ngeri. Saat pertama kali menginjakkan kaki di dalamnya, ia sudah merasakan aura jahat yang mengintai dari setiap sisi dinding dan atapnya. Dan sekarang ia akan masuk ke kamar seorang lelaki yang baru ditinggal mati istrinya, meskipun demi pekerjaan, tetap saja Naela merasa tidak pantas.
Dengan hati yang dikuat-kuatkan, Naela melangkah masuk. Seketika ia mendapati seorang lelaki yang duduk di atas lantai dengan kepala bersandar di tempat tidur. Lelaki itu sangat jauh dari ekspektasi Naela. Jika sebelumnya Naela membayangkan dia adalah lelaki berpakaian rapi dan bersedih dengan gaya yang ilegan, maka Naela salah total.
Kian terlihat sangat menyedihkan. Atau mungkin lebih tepatnya, mengenaskan! Dengan celana panjang dan switer abu-abu, ia duduk tanpa daya di antara lembaran-lembaran foto yang berserakan di atas lantai. Rambutnya berantakan. Wajahnya pucat dan dua garis air mata terlihat di pipinya.
“Masuklah. Aku menunggu di luar.” Rais mundur.
“Sebaiknya kamu tetap di sini.” Cegah Naela.
“Tidak, Naela. Saya kenal Kian selama belasan tahun. Dia sangat menjaga privasi. Dia akan lebih senang jika saya menunggu di luar. Masuklah. Jangan takut. Kian bukan seseorang yang harus ditakuti. Lagipula saya akan berdiri tepat di depan pintu.”
Naela mengangguk, “Baiklah.”
Setelah pintu tertutup, Naela berjalan lebih dekat pada satu-satunya lelaki di kamar itu. Ia duduk dan mengambil salah satu foto secara acak. Dalam foto itu, seorang wanita dalam balutan gaun pengantin berwarna putih tengah tertawa lebar hingga menampakkan deretan giginya yang rapi. Ia mengenggam seikat bunga berwarna merah muda, dan pita berwarna sama menjuntai di antara jemarinya yang terbungkus kaos jaring-jaring.
Wanita dalam foto itu sangat jelita. Wajahnya adalah perpaduan Timur dan Barat. Hidung yang mancung, mata lebar dan bercahaya, serta dagu yang membelah begitu indahnya. Lelaki mana yang tidak takluk dengan kecantikan seperti itu. Dia seumpama peri yang jatuh dari langit.
Naela membiarkan foto pengantin itu tetap di tangannya, lalu mengambil foto yang lain. Masih wanita yang sama, tetapi tidak lagi mengenakan gaun pengantin. Di sana terlihat ia sedang berdiri mengenakan gaun bunga- bunga di geladak sebuah kapal pesiar, perutnya sedikit membuncit, dan seorang lelaki mendekap dari belakang, memegang perut wanita itu. Foto yang romantis. Naela tersenyum getir. Ia melirik pada lelaki di hadapannya. Tidak percaya bahwa lelaki paling bahagia dalam foto itu kini sedang duduk tanpa daya, seperti tidak ada lagi semangat untuk hidup lebih lama.
Belasan menit telah berlalu, dan belum ada satu patah kata pun yang terucap dari bibir keduanya. Naela hanya duduk diam. Ia mengamati kamar berukuran 10 x 10 meter itu sambil berpikir bahwa kamar ini terlalu besar. Jika dia pemiliknya, tentu sudah disekat menjadi beberapa ruangan lagi.
“Kau datang kemari hanya untuk diam dan melihat-lihat kamarku?” suara lelaki itu berat.
Oh, akhirnya yang dinanti Naela sungguhan terjadi. Lelaki itu bersuara.
“Maaf?” Naela tergagap. “Bukan. A, hm, aku hanya tidak tahu harus memulai dari mana.” Katanya jujur.
“Cyntia dibunuh di kamar ini. Di atas tempat tidur ini.”
“Aku tahu.” Ujar Naela. Tentu saja ia tahu. Ada garis polisi berwarna kuning di sekeliling ranjang, juga sketsa manusia di atasnya.
“Aku sangat mencintainya. Pertemuan pertama kali terjadi di sebuah konferensi bisnis yang kuhadiri di Kopenhagen. Saat itu Cyntia sedang menjabat sebagai Manajer Hubungan Internasional di sebuah perusahaan elektronik. Dan tanpa sengaja, kami duduk bersebelahan. Satu jam berlalu, sepertinya ia bosan dengan materi konferensi. Ia mengantuk kemudian jatuh tertidur. Sampai hari ini aku tidak tahu apakah ia melakukannya dengan sengaja atau tidak. Yang aku tahu, aku sangat bahagia ketika kepalanya disandarkan ke bahuku. Tidurnya begitu pulas, bahkan sampai konferensi usai. Hingga semua orang telah bubar, aku tetap tidak tega untuk membangunkan. Setengah jam kemudian, ia terbangun dan kaget. Sambil memperbaiki rambutnya yang berantakan, ia berkali-kali meminta maaf sambil membungkukkan tubuh.
“Pertemuan pertama itu begitu berkesan. Aku tidak bisa melupakannya hingga berminggu-minggu setelah pulang ke Jakarta. Tidak tahan lagi, aku mencari informasi tentangnya dari berbagai sumber. Dan itu tidak begitu sulit. Asistenku, Rais, bisa menemukannya dengan cepat. Syukurnya cintaku berbalas. Kami berpacaran selama 3 bulan, kemudian menikah di tahun 2010.
Rumah tanggaku dengan Cyntia begitu bahagia. Kami saling mencintai. Dan kebahagiaan itu semakin bertambah tatkala Cahaya hadir di tengah-tengah kami. Dia seumpama malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku dan Cyntia.”
Naela mengambil selembar foto lagi. Cyntia dan bayi perempuannya. Foto itu pasti diambil beberapa jam setelah Cyntia melahirkan. Bisa dilihat dari pakaian rumah sakit dan wajah Cyntia yang pucat. Tapi ia tetap tersenyum anggun.
Cahaya. Putri kecil itu diberi nama Cahaya. Naela mengakui itu adalah nama yang indah.
“Kalau begitu keluarlah. Jangan terus mengurung diri. Putrimu membutuhkanmu.”
“Kamu tidak tahu betapa sakitnya kehilangan seseorang yang sangat kamu cintai. Kamu tidak tahu seperti apa sedihnya kehilangan separuh jiwamu. Rasanya aku ingin mati saja.”
“Ya, aku memang tidak tahu.”
“Kalau begitu jangan pernah lagi memintaku untuk keluar seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya. Kau pengacaraku, seharusnya kau mendukungku untuk mengenang Cyntia.” Suara Kian terdengar lebih tinggi.
“Itulah yang perlu kau ingat. Aku ini pengacaramu, bukan tong sampah yang hanya bisa diam, pura-pura setuju, tiap kali mendengar kau bercerita. Teruslah mengurung diri. Itu tidak akan bisa membuat Cyntia hidup kembali. Kau masih punya Cahaya, setidaknya ingatlah itu! Dia membutuhkanmu. Mengapa kau tidak pernah memikirkan hati putrimu? Bisa jadi dia lebih merasakan kehilangan dibandingkan dirimu. Jika kau kehilangan istri, Cahaya juga kehilangan ibunya. Jangan hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau juga seorang Ayah. Cahaya adalah tanggung jawabmu. Hanya kau yang bisa menenangkannya.”
“Cahaya masih sangat kecil. Ia pasti belum paham semua yang terjadi.”
“Kau pikir putrimu adalah bayi berumur dua bulan? Bahkan bayi dua bulan saja akan terus menangis saat ditinggal ibunya barang sehari. Kian, Cahaya sudah berumur 4 tahun. Dia sudah mampu memahami semuanya. Mungkin dia tidak tahu kemana ibunya pergi, tapi dia pasti terus bertanya kenapa ibunya tak kunjung datang.”
Lelaki itu tak bersuara.
“Duniaku begitu gelap. Pahamilah itu. Jika aku tidak memikirkan Cahaya, aku lebih memilih mati menyusul istriku.” Kian mendekap wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Matilah dan pembunuh istrimu itu akan berpesta.” Sambung Naela jengkel. “Cukup untuk hari ini. Ada banyak hal lain yang harus kukerjakan.”
CHAPTER 6 : Bukan Jajanan Tidak Laku
Banyak orang bilang, Bogor tidak lagi seindah dulu, namun entah kenapa hati Naela tetap tertambat pada kota ini. Sejak pertama kali menginjakkan kaki, ia sudah jatuh cinta dengan suasananya. Ya, walaupun Bogor bukan kota tempat ia dilahirkan.
Masa kecil Naela dihabiskan di Punung, Pacitan. Ia tinggal bersama kakek dan neneknya—dari belah ibu. Sementara ibunya menemani sang ayah bertugas di kota Surabaya. Saat Naela sampai di usia delapan, ia diajak pindah ke Bogor. Ayahnya yang bekerja di dinas pendidikan dipindah tugaskan ke kota ini.
“Kamu sudah shalat Asar, Nae?” tanya Umi Dian saat Naela baru saja masuk rumah, lalu menyangkutkan tas pundak hitamnya ke tempat gantungan tas.
“Sudah, Umi. Di Musola Aisya Restaurant and Cafe.” Mata Naela langsung tertuju pada Fatih. Bocah itu sedang duduk di pojokan dinding, mengamati sesuatu. Naela jadi penasaran apa yang sedang diamati adiknya. Ia berjalan mendekat. Dipeluknya tubuh Fatih dari belakang.
“Fatih, sedang lihat apa? Kok mukanya serius gitu sampai-sampai Kakak tidak disambut?”
Wajah Fatih masih serius. Bibirnya terkatup rapat, sementara matanya terus tertuju pada dinding. Naela ikut melihat ke tempat yang dilihat Fatih.
Semut?
“Kenapa lihat semut sampai seserius ini, sih?” Naela gemas. Dikucel-kucelnya rambut Fatih.
“Lihat, Kak. Semut-semut ini selalu bersalaman setiap ketemu teman-temannya di jalan. Lihat sini...” telunjuk Fatih tertuju pada seekor semut yang berjalan lurus. Di depannya berjalan seekor semut dari arah berlawanan. Begitu bertemu, dua semut itu saling menempelkan wajah. Fatih bilang, mereka bersalaman.
Naela tersenyum. “Makanya Fatih harus belajar dari semut-semut ini. Setiap bertemu teman, Fatih harus sapa mereka. Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam sudah mengajarkan sapaan yang baik untuk saling diucapkan kepada sesama Muslim. Apa ucapannya?”
“Assalamualaikum.” Sambung Fatih. Matanya terus tertuju pada dua ekor semut tadi.
“Masya Allah pintar sekali adiknya Kak Naela ini.” puji Naela seraya mengacak rambut Fatih. “Selain mengajarkan manusia untuk saling bertegur sapa, hal lain yang bisa kita pelajari dari semut adalah saat mereka bertemu makanan. Mereka pasti akan panggil teman-temannya yang lain untuk bersama-sama membawa makanan itu ke sarang. Semut sangat menjunjung tinggi kerjasama dan rasa persaudaraan. Makanya, kita nggak boleh kalah sama semut. Kalau semut aja mau berbagi pada teman-temannya, manusia juga harus berbagi lebih banyak.” Jelas Naela.
Bocah itu mendengarkan dengan baik. Mata bulatnya mengerjap. Tiba-tiba ciumannya mendarat di pipi Naela. Berbunyi ‘cup’ kecil.
“Nggak ada yang sepintar Kak Naela.” Puji bocah itu. Segera Naela balas ciuman itu di kedua pipi Fatih. Mereka tertawa.
Umi Dian bergabung.
“Kan penjelasan tentang semut yang merujuk pada bukunya Harun Yahya sudah dijelaskan Aa Yusuf waktu pengajian kemaren. Hayoo, Fatih nggak dengerin baik-baik, ya?” tanya Umi Dian seperti disengaja.
Naela melirik Umi yang kini duduk di sampingnya. Lagi-lagi Umi menyinggung soal Yusuf. Umi anggap seolah- olah Naela berharap nama Yusuf disebut-sebut. Tanpa menjawab apapun, Naela berdehem kecil kemudian menggendong Fatih duduk di sofa.
“Kamu terlihat lelah, Nae. Sudah ada kasus baru?”
“Iya, Mi. Kasus pembunuhan Cyntia, istrinya pengusaha properti itu. Umi pasti sudah nonton di berita, kan?”
“Itu kasus kriminal, Nae. Umi takut penjahatnya merasa terancam karena kedatanganmu, kemudian malah bermaksud buruk padamu.”
“Mau bagaimana lagi, Mi? Inilah pekerjaan Naela. Itu sudah jadi resiko. Baik kasus besar atau kecil, kriminal atau bukan, semua ada resikonya.”
Umi Dian mengelus punggung tangan Naela sambil ia tatap mata putrinya, “Maafkan Umi, Nae. Akhir-akhir ini Umi memang sering mengkhawatirkan kamu. Entah kenapa Umi berpikir, semakin banyak orang yang memperoleh keadilan melalui kamu, rasanya semakin banyak pula orang di luar sana yang menginginkan kehancuranmu. Kamu ingat peristiwa empat bulan lalu?”
Naela mengangguk kecil. Mana mungkin ia bisa lupa begitu saja pada peristiwa itu. Saat seorang perempuan memakinya dengan kata-kata kotor. Ia bahkan diancam akan dibunuh seandainya memenangkan kasus yang sedang ditangani. Naela tersenyum kecut mengingat kejadian tersebut. Wajah wanita berambut pirang yang mengancamnya kembali hadir di kepala. Ancaman sore hari itu memang hanya sebatas ancaman. Buktinya sekarang wanita itu lenyap begitu saja serupa ditelan bumi.
“Ancaman itu biasa, Mi. Yang terpenting sampai sekarang Naela tetap baik-baik aja, tidak ada yang mengganggu Naela.”
“Kali ini mungkin kamu hanya menerima ancaman, Nae. Tapi semakin jauh, semakin banyak orang yang merasa dirugikan, semakin beraneka ragam sifat manusia yang tidak menyukaimu, akhirnya tidak hanya sekadar ancaman, Nae. Tidak semua manusia itu punya pemikiran seperti kita-kita ini Nae, yang beranggapan menyakiti lahir maupun batin orang lain adalah perbuatan keji yang tidak mungkin dilakukan.”
“Terus Umi mau Naela bagaimana? Berhenti jadi pengacara?” Suara Naela berubah kesal. Wajahnya dipalingkan dari Sang Ibu.
Umi Dian yang sudah melahirkan dan membesarkan Naela. Dialah yang paling paham seperti apa putrinya. Inilah Naela, mungkin ia bisa terlihat dewasa di depan orang lain, namun sebenarnya masih ada sifat kekanak-kanakkan yang terkadang muncul begitu saja. Biasanya sifat ini akan muncul saat ia berbicara dengan Sang Ibu. Paham betul kalau wanita itu akan maklum dan mewajarkan sifat kekanak- kanakkannya. Ia tidak akan dibiarkan marah berlama-lama oleh Umi. Wanita 64 tahun itu pasti akan berjuang keras untuk membujuknya. Mungkin karena itulah dia berani marah atau terkadang pura-pura marah.
Tangan Umi Dian diletakkan di pundak Naela, “Bukan begitu maksud Umi, Nak. Semua ini Umi sampaikan semata- mata karena cinta Umi yang teramat besar. Umi ingin kamu berhati-hati, selalu waspada, karena tak bisa dipungkiri pekerjaanmu itu punya banyak resiko berat. Umi tidak ingin kamu tersakiti karena kebaikanmu, Nak…”
Naela menoleh, tangannya diletakkan di atas tangan Umi Dian yang masih ada pundaknya. “Naela paham. Maafkan Naela sudah bicara tidak enak ke Umi.” Ujarnya seraya tersenyum tipis.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Oh iya, bagaimana perkembangan restoran, Nae?”
“Alhamdulillah, Mi. Pengunjung bulan ini naik hampir 100%. Menu mi ayam ijo rica-rica yang resepnya asli dari Umi ternyata jadi menu favorit.” Wajah Naela telah berubah sumringah.
“Alhamdulillah. Nanti malam ada pengajian bulanan di Masjid, mau ikut datang atau pilih istirahat di rumah?”
Kegiatan pengajian bulanan untuk seluruh warga perumahan memang agenda rutin bulanan. Biasanya para Ibu Rumah Tangga akan membawa berbagai makanan ringan yang akan dinikmati bersama di akhir pengajian. Acaranya diisi oleh ceramah agama dan kasidahan oleh kelompok kasidah ibu-ibu.
Selama enam bulan terakhir, seingat Naela, dirinya baru dua kali datang ke pengajian tersebut. Pantas kalau ia tidak banyak mengenal warga setempat. Terlebih mereka baru pindah ke perumahan ini sejak dua tahun lalu, setelah sebelumnya rumah mereka di perumahan Bogor Baru dijual.
Naela memang tidak begitu kenal dengan penduduk di blok perumahan, namun semua penduduk di sini kenal Naela. Reputasi Naela sebagai pengacara yang wajahnya sudah beberapa kali masuk media lokal dan nasional tampaknya jadi alasan kuat mengapa rata-rata masyarakat mengenalinya.
“Ya, Naela ikut. Lagipula sudah lama Naela absen. Nanti Umi ingatkan saja Naela buat siap-siap. Sekarang Naela mau istirahat dulu di kamar.”
Naela meninggalkan dapur menuju kamar di lantai dua. Kamar dengan luas 3 x 3 itu bersebelahan dengan kamar Fatih yang dua kali lipat lebih besar. Dulu saat rumah ini baru akan dicat, Naela sendiri yang meminta kamarnya dicat warna vanilla, sedangkan kamar adiknya dicat warna-warni. Kamar Umi ada di lantai bawah, berhadapan dengan kamar tamu. Terkadang Umi Dian ikut tidur di kamar Fatih atau Naela.
Sesampai di kamar, Naela tidak seketika merebahkan diri di tempat tidur. Justru ia nyalakan laptop. Murattal yang sangat syahdu oleh syeikh Nasser Al Qatami ia putar. Jari- jarinya lincah mengetikkan sesuatu di halaman word sambil sesekali ia diam sejenak untuk mendapatkan kalimat yang dirasa pas.
Seperti biasa, ia selalu mencatat apapun yang berhubungan dengan kasus yang sedang ditangani atau akan ditanganinya, termasuk pembicaraannya dengan Kian pagi tadi.
Ia telah mendapatkan kronologi pembunuhan Cyntia dari kepolisian. Catatan sepanjang dua halaman itu ia baca hingga tiga kali.
Kejadian naas itu terjadi di Senin siang, setidaknya begitulah perkiraan polisi. Di hari itu, Shindy mengaku sedang menemani putranya lomba melukis di Museum Indonesia hingga pukul lima sore, Gio kuliah dan pulang saat azan Maghrib, sedangkan Cahaya ikut Bu Fatma menghadiri arisan di salah satu restoran hingga menerima telepon tentang kematian Cyntia.
Lalu Kian? Tentu saja dia ada di kantornya. Berdasarkan keterangan sekretaris, Kian menghadiri enam buah meeting bersama klien pada Senin itu. Jadi Cyntia di rumah sendirian. Sebenarnya tidak benar-benar sendiri, ada tiga orang asisten rumah tangga dan dua orang satpam yang bergantian jaga di depan rumah. Seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Pada pukul empat sore lebih beberapa menit, seorang asisten datang ke kamar Cyntia untuk mengantarkan pakaian yang sudah disetrika. Ketika itulah ia melihat Cyntia yang sudah tidak bernyawa terlentang di atas tempat tidur. Asisten itu berteriak, hingga dua orang asisten lain dan satpam berlarian datang. Mereka segera memeriksa denyut nadi Cyntia yang sama sekali sudah lenyap. Bams segera menelepon Kian, mengatakan dengan jujur apa yang terjadi.
Naela menyudahi tulisannya. Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya. “Aku harus menemukan motif pembunuhan ini terlebih dahulu.” Gumam Naela.
***
Malam hari sesudah Isya, Naela, Umi Dian, dan Fatih, pergi bersama-sama menuju Masjid. Jalan kompleks selebar tiga meter terlihat lebih ramai dari biasanya. Banyak anak- anak dengan baju koko, peci hitam, lengkap dengan sarung yang menyelempang di bahu, berlarian menuju Masjid. Begitu juga anak-anak perempuan yang bermain-main sambil berjalan pelan-pelan ke arah Masjid. Fatih sudah berlari bersama teman-temannya. Tinggal Naela dan Umi Dian yang berjalan beriringan. Setelah beberapa menit, tak terasa mereka sudah sampai di depan Masjid. Orang-orang sudah mulai memenuhi sebagian besar Masjid, dan sisanya masih berkeliaran di sekitar, banyak juga yang masih berada di jalan.
Sampai di Masjid, mereka langsung masuk dan mencari tempat duduk. Naela dan Umi Dian pilih duduk di barisan nomor dua yang masih tersisa kosong untuk beberapa orang. Ustad Husein dan beberapa pengurus masjid terlihat sibuk mempersiapkan mikrofon dan meja.
“Itu Yusuf. Yang lagi menggulung kabel.” Umi Dian menunjuk kecil pada laki-laki yang khusyuk pada pekerjaannya. Sesekali pemuda itu tampak berbicara dengan Ustad Husein.
Mata Naela terpaksa mengikuti arah tangan Umi Dian. Dari tempatnya duduk terlihat jelas sekali betapa Yusuf yang sering disebut-sebut uminya itu benar-benar laki-laki menarik. Kulitnya kuning langsat, matanya hitam, alisnya tebal, dan saat ia tersenyum rasanya bisa membuat jantung para wanita berdebar-debar.
“O…” hanya inilah yang keluar dari bibir Naela, ia kemudian mengalihkan pandangan pada rombongan ibu-ibu kasidah yang sedang latihan di sudut ruangan Masjid.
Naela sengaja merespon begitu dengan harapan Umi Dian capek sendiri lalu berhenti menyebut-nyebut Yusuf. Menurutnya, usaha Umi Dian hanya akan berujung kesia- siaan. Dirinya tidak akan tertarik pada laki-laki itu, toh sejauh ini ia belum pernah benar-benar suka pada seseorang. Kalaupun ada sedikit kagum pada seseorang, perasaan itu akan mati-matian ia abaikan. Entah sampai kapan, bahkan sekarang saat umurnya sudah 30, Naela masih belum bisa menerima perasaan-perasaan sejenis itu.
Sekitar dua puluh menit kemudian, ruang utama Masjid sudah terisi penuh. Para tamu undangan dan jajaran pengurus Masjid juga sudah duduk rapi di depan, menunggu acara dibuka oleh pembawa acara.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” seorang remaja perempuan bergamis cokelat dan kerudung krem membuka acara dengan penuh semangat.
Setelah salam dijawab, masjid ini benar-benar tanpa suara. Semuanya menunggu kalimat demi kalimat dari pembawa acara. Usai pembukaan, pembawa acara mempersilakan pembaca Al Quran maju ke podium. Dia adalah Yusuf. Naela tahu kalau uminya melirik padanya, hanya saja ia pura-pura tidak tahu.
Yusuf membacakan surah Qof dengan sangat indah dan tartil. Suaranya lembut dan khusyuk. Kepala-kepala tertunduk, mendengarkan dengan khidmat. Hanya rombongan anak-anak saja yang masih sibuk berceloteh dan bersenda gurau.
Acara tersebut selesai dalam waktu tiga jam. Siraman rohani disampaikan oleh seorang ustad undangan. Hampir seluruh jamaah mengenal ustad tersebut karena wajahnya sering muncul di televisi. Ia menyampaikan secara rinci dan jelas tentang dosa-dosa besar yang bisa menutup pintu rejeki seseorang.
Begitu acara usai Naela bersiap-siap untuk bergegas pulang. Mereka berjalan keluar Masjid dan di saat itu pula mata Umi Dian menangkap sosok Yusuf di teras. Pemuda itu baru saja mengantarkan ustad undangan menuju mobilnya. Tanpa alasan yang jelas, Umi Dian menarik pergelangan tangan Naela.
“Nak Yusuf.” sapa Umi Dian.
Yusuf menoleh, senyumnya merekah begitu tahu Umi Dian yang menyapanya, “Iya, Bu Dian.” Jawabnya ramah dan santun.
“Ini kenalin. Naela Alfiatul Husna. Putri ibu satu- satunya.” Ditariknya tangan Naela. Saat itu Naela sangat risih pada sikap uminya. Seolah-olah dia adalah jajanan tidak laku yang ditawarkan pada orang-orang.
Demi sopan santun, akhirnya Naela sedikit tersenyum.
“Naela pengacara itu? Saya sudah tahu, Bu Dian. Lagipula siapa yang tidak kenal pengacara terkenal seperti Naela.” Puji Yusuf.
Naela jadi semakin tidak nyaman berdiri di sini. Pujian Yusuf barusan justru tidak membuatnya senang. Meski ia tahu tidak ada maksud apa-apa di balik pujian tersebut, tetap saja Naela tidak suka dipuji blak-blakan di depan ibunya. Pasti nanti Umi Dian akan semakin giat menggodanya.
“Kak Nae, ayo pulang.” Fatih kecil sudah berdiri di samping Naela. Minta digendong.
“Ayo Sayang kita pulang.” Naela angkat adiknya ke atas gendongan. Ia hapus keringat di pelipis Fatih. Anak itu terlihat kelelahan. Mungkin tadi ia main kejar-kejaran bersama anak-anak yang lain. “Umi mau pulang sekarang atau tetap tinggal di sini?” tanya Naela kemudian berlalu pergi.
Dalam hati Umi Dian heran melihat sifat Naela yang tidak berhasrat untuk kenal laki-laki terlalu jauh. Padahal Yusuf pemuda baik-baik, saleh, lulusan Eropa lagi. Tapi tetap saja Naela acuh tak acuh. Umi Dian kemudian pamit pada Yusuf, minta agar pemuda itu maklum atas respon Naela barusan.
Sepanjang jalan Naela tidak bicara pada uminya. Ia asik meladeni Fatih bercerita ini itu. Sengaja agar uminya kapok dan tidak berusaha mengenalkannya dengan lelaki mana pun lagi.
CHAPTER 7 : Kita akan Bertemu Bundamu
Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Kian tidak bisa terlelap. Ia membayangkan andai Cyntia masih hidup. Andai wanita itu masih bersamanya malam ini. Tentu mereka akan makan malam bersama, membacakan dongeng untuk Cahaya, kemudian kembali ke kamar ini dan menghabiskan waktu berdua hingga pagi.
Ia mencoba memejamkan mata, namun wajah Cyntia semakin jelas. Ia melihat wanita itu berlari di tengah hamparan ilalang yang berbunga, gaunnya yang berkibar, serta rangkaian bunga yang melingkar di kepala. Ia terlihat begitu cantik. Kian ingin mengejarnya, memeluknya hingga dunia ini berakhir.
“Cyntia. Sayang. Kenapa kau meninggalkanku dan putri kita?” Laki-laki itu duduk, memegangi kepala. Keringat sudah membasahi pelipis dan punggungnya.
Selama satu jam ia hanya duduk dan menangis, hingga ia lelah dan jatuh tertidur. Tapi dalam tidur itu, sebuah mimpi menghampiri. Ia bertemu dengan sang istri. Dalam mimpi itu Cyntia menangis tersedu-sedu. Ia merindukan Kian dan Cahaya. Ia juga meminta agar Kian membawa Cahaya untuk menemuinya.
“Bawalah putri kita kepadaku. Aku kesepian. Aku ingin bersama kalian.” Suara Cyntia terdengar seperti rintihan.
Lelaki itu terbangun lagi. Ia duduk di pinggir sofa. Detak jantungnya terdengar jelas. Suara Cyntia, ia masih bisa merasakan di telinganya. Ia masih bisa mendengar dengan jelas. Suara itu seperti menggema di kamar ini. Seperti seluruh dinding kamar memiliki mulut dan mengucapkan hal yang sama. Kian menutup kedua telinga, tapi suara itu tetap tidak mau lenyap.
“Apa ini yang kau inginkan dariku? Kau ingin aku dan putri kita menyusulmu ke alam sana? Benarkah kau sendirian di sana?” Kian sudah mondar-mandir di kamarnya. Sesaat berhenti di depan foto besar yang terpasang di dinding. Foto pernikahan.
“Apa kau sungguh-sungguh kesepian di sana? Benarkah kau yang datang dalam mimpiku tadi?” Ia bertanya sambil membelai wajah Cyntia yang tersenyum dalan foto.
Kian kembali duduk. Ia merasakan dadanya semakin perih. Ia tidak mungkin bisa hidup normal tanpa Cyntia. Tidak akan bisa. Wanita itu segalanya. Ia berdiri, kemudian berjalan cepat menuju meja rias. Tangannya tergesa-gesa menggeledah laci-laci yang ada di sana.
Pil penenang. Ia mendapatkan satu botol penuh pil yang masih disegel.
Tanpa berpikir panjang, ia keluar kamar dan berjalan menuju kamar putrinya. Gadis kecil itu sudah tertidur pulas sambil memeluk boneka. Rambut keriwil menutupi pipinya yang halus.
Kian berjalan perlahan, duduk di tepi ranjang, mengelus kepala putri kecilnya dengan penuh cinta dan kesedihan.
“Sayang. Bangunlah.” Ia berucap lirih.
Cahaya menggeliat, dan ketika matanya sedikit terbuka, ia melihat Kian ada di sana.
“Ayah?”
“Ssstt... Bangunlah. Kau merindukan bundamu?”
Bocah kecil yang polos itu mengangguk. Tentu saja ia rindu. Sudah tiga hari bundanya tidak pulang, tidak membacakan dongeng, tidak mengepang dua rambutnya, tidak menyuapi, lalu bagaimana mungkin ia tidak rindu? Bahkan tadi sebelum tidur, ia sempat menangis dan bertanya pada Nenek, ke mana bundanya pergi?
“Kalau begitu minumlah ini. Kita akan bertemu bunda.” Kian meminta gadis kecil itu membuka mulut. Ia menuntun putrinya meminum pil penenang satu demi satu hingga genap lima buah. Setelah itu ia sendiri minum lima belas buah. Ia berbaring di samping putrinya, memeluk dengan rasa damai.
“Sebentar lagi kita akan bertemu bundamu.” Ucapnya lirih.
CHAPTER 8 : Kisah Dua Wanita
Pagi-pagi sekali Naela menerima kabar bahwa Kian dan putrinya dilarikan ke rumah sakit. Ia belum tahu apa alasannya, namun dalam hati sudah bisa menduga, jangan- jangan lelaki itu melakukan tindakan bodoh.
Pukul 08.00, Naela tiba di rumah sakit bersama Fatih. Kian sudah dipindahkan ke kamar biasa, sementara Cahaya masih belum sadarkan diri di ruang ICU. Naela bergegas masuk. Di dalam sudah ada Shindy, Gio, dan Bu Fatma. Ketiganya duduk membisu. Kehabisan kata-kata.
“Apa yang sudah kau lakukan, ha?!” tanya Naela tanpa basa-basi. Ia seperti seorang guru yang sedang memarahi salah satu muridnya yang ceroboh.
Kian tidak seketika menjawab. Wajahnya dipalingkan.
“Kau pikir ini jalan keluarnya?! Iya? Apa kau tidak mencintai putrimu?” lanjut Naela. “Aku tidak percaya ada lelaki selemah dirimu. Kau bertindak seperti lelaki yang tidak mempercayai Tuhan.”
Naela duduk di samping ranjang. Ia perhatikan lelaki yang tidak lagi memiliki cahaya kehidupan di matanya itu. Fatih duduk di pangkuan Naela. Mata bocah itu mengerjap- ngerjap memperhatikan lelaki di depannya.
“Kian, aku berjanji akan membantumu. Tetapi terlebih dahulu kau harus membantu dirimu sendiri. Jangan biarkan dirimu semakin terpuruk. Semua ini ujian dari Allah, atau mungkin azab dari-Nya agar kau mau bertaubat. Bukan hanya kau seorang yang merasakan pedihnya kehilangan. Kau lupa bahwa Allah sudah berkata dengan jelas dalam Al Quran, ‘Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?’ Kau lupa ayat ini?”
Lelaki itu masih tidak bergumam.
Naela melembutkan suaranya, “Mungkin kau sudah lama tidak menunaikan shalat. Karena itulah kau merasa jauh dari Allah. Selama ini kau menyandarkan seluruh kebahagiaan pada Cyntia, dan ketika Allah mengambilnya, kau pun merasa seluruh duniamu luluh lantak. Kau ingat bahwa Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam pun pernah ditinggalkan istri yang paling ia cintai?”
“Sudahlah, Naela. Jangan menceramahiku. Lagipula sudah lama aku tidak percaya pada keberadaan Tuhan. Hidup ini akan lebih mudah saat dijalani tanpa campur tangan agama dan Tuhan.”
Dada Naela terasa panas. Ia paling sensitif pada hal-hal seperti ini. Betapa sombong lelaki yang terbaring di hadapannya. Hidup tanpa Tuhan? Ya, mungkin dia mengaku mudah, tapi lihatlah yang terjadi justru kebalikannya. Saat ditinggal pergi sang istri, lelaki itu kehilangan seluruh hidupnya. Bahkan berusaha bunuh diri. Lalu seperti itukah bentuk kehidupan yang lebih mudah menurutnya? Banyak yang melupakan bahwa pada hakikatnya manusia membutuhkan sesuatu yang lebih kuat sebagai tempat bersandar. Dengan mempercayai Tuhan, manusia memiliki tempat untuk berharap dan bersandar. Ia bisa berdoa dan memohon hari esok yang lebih baik. Benar, tidak semua masalah dan beban hidup seketika selesai dengan mempercayai dan patuh kepada Tuhan. Tapi ketahuilah, kepercayaan dan doa adalah nubuat penawar luka, pemberi harapan, dan cahaya yang akan membuat mata hati manusia menjadi lebih terang ketika dihadapkan pada suatu masalah. Semakin besar iman dan cinta seseorang kepada Tuhan, bisa dipastikan semakin tangguh pula ia menjalani pasang surut kehidupan.
“Selamat pagi. Maaf mengganggu.” Suara seorang lelaki yang muncul di tengah pintu sontak membuat semua orang menoleh.
Dua lelaki berseragam polisi telah berdiri di sana.
“Kami ingin bertemu dengan Bu Shindy.” Salah satu dari mereka berkata.
Wajah Shindy yang tadi santai-santai saja kini berubah cemas. Kedua alis matanya bertemu di tengah. Ragu, tapi ia tetap melangkah dengan percaya diri. “Iya, saya Shindy.”
“Maaf Bu Shindy, Anda harus ikut kami ke kantor. Berikut surat penangkapan Anda.” Satu lembar surat ia sodorkan.
Mata Shindy terbelalak. Begitu juga Kian, Gio, dan Bu Fatma. Penangkapan atas dasar apa? Kenapa tiba-tiba sekali? Apa kesalahannya? Apakah ini berhubungan dengan kematian Cyntia? Pertanyaan-pertanyaan ini berkecamuk di pikiran masing-masing mereka.
“Penangkapan?” Tanya Shindy tidak percaya. Ia merasa kesulitan bernapas. “Penangkapan apa? Apa salahku?!!!”
“Anda harus ditahan atas tuduhan pembunuhan adik ipar Anda sendiri.”
Kalimat ini bagaikan sambaran halilintar yang mengejutkan seisi ruangan. Bu Fatma memegangi dadanya yang tiba-tiba sakit. Gio yang masih terkaget-kaget coba membantu Sang Ibu, mengambilkan segelas air putih dan membimbing wanita itu duduk bersandar.
Satu orang yang paling terkejut adalah Kian. Ia yang tadi terbaring langsung duduk. Tidak peduli pada jarum infus yang masih tertancap di punggung tangan. Naela ingin membantu, tapi urung dilakukan.
“Kalian bercanda. Ini lelucon! Saya membunuh Cyntia? Apa-apaan ini?!!!” Shindy berusaha tertawa. “Kian.” Ia menoleh pada sang adik yang kini telah menatapnya berapi- api. “Kian, percayalah. Ini fitnah. Kakak tidak mungkin menyakitimu. Ini fitnah!” jeritnya histeris.
“Mari, Bu.” Salah satu polisi memasang borgol di kedua tangan Shindy. Wanita itu meronta.
“Kian...” Shindy menoleh pada Kian yang membuang muka. “Kian, percayalah. Ini fitnah! Kamu kenal kakak sejak kecil. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kakak juga. Mana mungkin kakak sanggup membunuh istri yang paling kamu cintai.” Air mata Shindy sudah luruh.
Dua orang polisi itu menarik tubuh Shindy hingga hilang di balik pintu. Suaranya yang memanggil-manggil nama Kian semakin mengecil hingga akhirnya hilang.
Lelaki di atas ranjang itu tertunduk. Kedua tangan ia kepalkan. Matanya merah dan berkaca-kaca. Dadanya naik turun. Naela bisa merasakan kekuatan amarah yang berkecamuk dalam dada lelaki itu.
“Tenangkan dirimu. Jangan terpancing emosi. Itu masih tuduhan. Belum pasti kebenarannya.” Ucap Naela. Ia meraih sebuah gelas berisi air, coba membantu Kian untuk minum. Sayang, gelas itu justru diterjang lelaki itu hingga hancur di atas lantai.
“Aku sudah menyangka ini. Ternyata benar pelakunya adalah kakakku sendiri!” Gigi Kian terdengar bergemeretak.
Naela mundur perlahan. Kian terlihat seperti seorang monster. Ini tidak boleh dibiarkan. Naela segera berlari keluar. Memanggil dokter. Lelaki itu pasti akan membabi buta jika tidak disuntik dengan penenang.
***
Siang itu hujan deras. Naela, Fatih, dan Gio duduk di salah satu sudut kantin rumah sakit. Setelah Kian disuntik obat penenang dan Bu Fatma beristirahat di salah satu kamar, mereka memutuskan datang ke tempat ini. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan Naela pada adik lelaki Kian.
“Kenapa Kian berkata seperti itu? Katanya dia sudah menduga bahwa pelaku pembunuhan itu adalah kakaknya sendiri.” Pertanyaan pertama Naela.
Lelaki 28 tahun dengan gaya kasual di depannya melihat ke jendela. Di luar sana seorang suster dengan payung berwarna biru sedang berlari menuju mobil ambulan.
Gio tersenyum tipis. Getir.
“Hubungan Cyntia dan Shindy memang tidak pernah baik. Mereka kerap bertengkar.” Jawabnya sebelum menyesap kopi.
“Karena apa?”
Gio menggeleng. Tidak tahu pasti. “Entahlah. Wanita sulit dimengerti. Mereka sering bertengkar hanya karena hal-hal sepele yang menurut kaum lelaki, itu sama sekali tidak penting.”
“Misalnya?”
“Hmm, misalnya saat Cyntia membeli tas dengan merk tertentu, dan keesokan harinya Shindy membeli yang sedikit mirip. Kedua tas itu jelas tidak sama. Tapi jika dilihat sekilas, memang ada kemiripan. Terlihat seperti bukan suatu masalah, kan? Tapi bagi dua wanita itu, hal tersebut adalah masalah besar. Cyntia akan bercerita ke seluruh teman- teman dan tetangga bahwa Shindy ikut-ikutan. Akhirnya itu jadi penyebab pertengkaran.”
“Iya, Kak Naela. Contohnya Umi sama Kak Naela yang sering bertengkar karena Aa Yusuf.” Fatih yang sejak tadi asik makan soto ikut berkomentar. Ternyata anak itu sudah mampu menangkap pembicaraan antara Naela dan Gio.
Gio yang mendengar ucapan Fatih tertegun sebentar, tapi kemudian ia tertawa.
“Lupakan itu, Gio.” Naela sedikit malu, tapi akhirnya ia tertawa kecil. Tangannya kemudian menghapus bibir Fatih yang belepotan kuah. Bocah itu kembali khusyuk, seolah tak pernah mengucapkan apapun sebelumnya.
Gio lanjut bercerita, “Sebenarnya sejak Bang Kian dan Cyntia berpacaran, kakakku Shindy sudah tidak setuju. Ia merasa cemburu karena Bang Kian begitu mencintai wanita itu. Sebelum Kian mengenal Cyntia, ia sangat perhatian pada Kak Shindy. Tapi setelah Cyntia masuk dalam kehidupannya, Kak Shindy merasa tersingkir. Bang Kian jarang berkunjung ke rumahnya, jarang mengajak anaknya makan di luar atau bermain. Bahkan saat proses perceraian Kak Shindy satu tahun lalu, Bang Kian tidak banyak membantu. Kami menduga Cyntia yang telah melarangnya agar jangan ikut campur. Tapi entahlah. Itu hanya dugaan. Usai perceraian, Kak Shindy keluar dari rumah suaminya dan kembali ke rumah yang sekarang. Sejak itu, perang dingin antara Kak Shindy dan Cyntia semakin memanas.”
Naela mengangguk. Ia paham, sangat paham. Memang sulit menyatukan dua wanita yang tidak memiliki hubungan darah di bawah atap yang sama. Antara ibu dan anak perempuan yang sudah menikah saja masih sering terjadi percekcokan, jika mereka tinggal di rumah yang sama. Terlebih untuk situasi Shindy dan Cyntia.
“Sebenarnya itu masalah wajar. Dialami banyak orang. Aku hanya tidak menyangka Shindy bisa senekat itu.”
“Tapi begitulah kenyataan yang terjadi.” Gio mengangkat bahu.
“Lalu sebagai seorang adik, kau percaya bahwa kakakmu seorang pembunuh?” selidik Naela.
Pemuda di depannya menatap Naela sejenak, memberi jeda, kemudian mendesis, “Entahlah. Aku tumbuh mandiri. Tidak dekat dengan Kak Shindy juga Bang Kian. Bagiku keluarga hanya sekadar formalitas. Lagipula setelah Papa meninggal, Mama langsung mengantarku ke rumah nenek di Bali. Waktu itu umurku masih 3 tahun. Sejak saat itu hingga sekarang aku hanya pulang sesekali. Satu bulan terakhir aku berada di rumah karena ada penelitian yang harus kulakukan di Jakarta. Itu saja.” Gio mengakhiri cerita dengan memperbaiki letak kaca mata minusnya.
Naela tak berkomentar apapun.
CHAPTER 9 : Kenangan Masa Silam
Beberapa menit lamanya Naela hanya rebahan di kamar tanpa ingin memikirkan apa pun. Kegiatan seperti ini sudah rutin ia lakukan untuk memberikan kesempatan bagi kepalanya beristirahat. Tiba-tiba ia teringat ponsel. Dengan sedikit malas, ia beranjak mengambil ponsel di dalam ransel kemudian membawanya kembali ke atas tempat tidur. Sepanjang siang ponsel itu hanya ia buka untuk melihat waktu. Ia tahu ada beberapa sms dan beberapa panggilan tak terjawab yang tampil di layar, tapi tadi ia abaikan saja.
Di antara deretan sms, salah satunya dari Mariam. Gadis itu menanyakan alasan Naela tidak ke kantor hari ini. Lalu ada juga sms dari Bang Regar, laki-laki Batak itu meminta Naela untuk mengirimkan beberapa dokumen via email kepadanya. Ada sekitar lima sms lain yang kira-kira isinya hampir sama, menghubungi Naela untuk menangani suatu perkara hukum atau permintaan untuk wawancara. Dengan singkat dan padat Naela balas sms tersebut satu persatu. Sedangkan untuk file yang diminta Bang Regar, Naela terpaksa membuka laptop dan mengirimnya dari sana.
Ia beranjak kemudian duduk menghadap laptop. Setelah mengirim dokumen yang diminta Bang Regar, ia membuka tulisan yang sudah dibuat pada malam kemaren. Sambil matanya fokus membaca, tangan kanannya sibuk mencari tape recorder di dalam ransel. Tak lama kemudian, ia sudah memegang benda itu dan segera dinyalakan. Dengan seksama ia dengar kembali semua percakapan dengan Gio di kantin rumah sakit.
Baru setelah berpikir beberapa menit, jari-jari Naela segera mentransfer apa yang ada dalam pikirannya ke dalam tulisan. Ia sudah terbiasa membuat kronologi penyeledikan berupa narasi yang ringan, selain memang hanya diperuntukkan untuk memudahkan diri sendiri, siapa tahu juga ia bisa menerbitkan berupa cerita suatu hari kelak.
Naela mengembuskan napas begitu tulisannya selesai. Lehernya dilemaskan dengan mematahkan ke kiri dan ke kanan. Ia bunyikan ruas-ruas jari. Ia teringat adiknya, Fatih. Siang tadi, sepulang dari Rumah Sakit, Naela mengantar Fatih pulang ke rumah. Setelah itu Naela kembali meninggalkan rumah. Waktunya dihabiskan di kantor Polisi. Ia banyak mengorek informasi pada petugas penyidik kasus pembunuhan Cyntia. Naela tiba di rumah sekitar pukul sembilan malam, dan Fatih sudah tertidur.
Naela keluar dari kamarnya, berjalan ke kamar Fatih yang hanya berjarak beberapa meter. Bocah lima tahun itu tertidur sangat pulas. Dengan pakaian tidur berwarna kuning, ia terlihat sangat tampan. Tidurnya menghadap ke kanan sambil memeluk guling. Anak rambut berserakan di kening.
Sambil terus mengamati, Naela berjalan mendekat. Di atas meja yang ada di samping tempat tidur, buku 25 Nabi dan Rasul tergeletak. Pasti tadi Umi Dian yang membacakan buku untuk Fatih. Anak itu selalu tidak bisa tidur kalau tidak dibacakan buku.
“Fatihku, sayang... My innocent baby...” desis Naela. Ia cium kening Fatih dengan mata berkaca-kaca. Ia teringat Cahaya.
Gadis kecil yang malang. Tadi sebelum kembali ke rumah, Naela menyempatkan diri menemani gadis kecil yang sudah dipindahkan ke ruangan perawatan. Meski masih sangat lemah, ia sangat antusias mendengarkan saat Naela bercerita dongeng kancil dan buaya.
“Besok kakak datang ke sini lagi, ya.” Begitulah pesan Cahaya dengan suara lirih dan terbata-bata.
Naela tersenyum. Jari-jarinya yang putih membelai wajah Fatih. “Maafin Kak Naela, ya? Kak Naela sering nggak punya waktu untuk main bersama Fatih.” Katanya lagi sambil mengecup pipi empuk Fatih.
Bocah itu menggeliat. Ia bertukar posisi, menghadap ke kiri. Naela tarik selimut untuk menutupi tubuh Fatih. Malam ini ia ingin tidur di samping anak itu, setelah sebelumnya membacakan surah Al Fath. Jarum jam berada di angka sebelas. Lama sekali Naela tidak bisa terpejam. Ingatannya kembali membuana di suatu masa, masa yang indah sekaligus menyakitkan.
***
Juni, 2009
Musim panas adalah kisah tentang jutaan keceriaan. Inilah kalimat yang tepat untuk setiap suasana musim panas di negeri Barat. Tidak ada yang terlihat sedih. Semua orang ingin keluar ruangan sepanjang hari, menjemur diri, berpesta di area outdoor, camping, atau membentang tikar di bawah pohon. Begitu juga dengan mahasiswa di kampus Michigan. Bagi mereka, musim panas adalah saatnya untuk bersantai dan mempertunjukkan jati diri.
Lihat saja para wanita di bawah pohon yang mulai menghijau itu, saat musim dingin lalu tubuh mereka terselubung jaket tebal hingga semuanya terlihat sama. Tapi begitu musim berganti, mereka melipat jaket kemudian menyurukkannya ke bagian lemari terdalam. Tank top aneka model, aneka warna, dipadukan rok mini jins atau hot pant ketat. Rambut yang semula tak begitu dihiraukan karena menyempil di balik syal tebal, kini sudah tidak kalah dengan rambut para artis papan atas Hollywood. Di pengujung musim semi, pasti seluruh salon di kota itu meraup untung besar.
“Hei, Caroline. Who is she? Why don’t you ask her to come with you? What is her name?” Jonathan mengode sambil menunjuk wanita berkerudung cokelat yang sedang menunggu Caroline. Ia berdiri di pinggir jalan utama menuju kampus.
“Dia tidak mungkin mau berkumpul bersama kalian. She is a Muslim. Namanya Naela Alfiatul Husna.” Bisik Caroline pada tiga teman laki-laki yang semuanya berwajah bule. Caroline sengaja meminta Naela menunggu agar mereka bisa pulang bersama, namun terlebih dahulu ia harus mengembalikan buku catatan milik Jo yang sempat dipinjam dua hari lalu. Padahal Naela tidak pernah menutup diri untuk bergaul dengan siapa saja. Ia berdiri di sana karena memang diminta Caroline untuk menunggu saja.
“Hijabi girl. Kupikir dia tidak akan pulang ke negaranya setelah tamat dari sini. Dan, uhm, namanya aneh sekali.” Ucap Sam. Nama lengkapnya Sam De Bruyne, pemuda paling tinggi sekaligus paling tampan di sana. Umurnya masih 25 tahun saat itu.
“Why, Man?” sambung Jimmy, Si Negro. Sejak tadi ia asik memandangi layar kamera kesayangan. Berkat kamera itu ditambah keahliannya menangkap momen, ia dikontrak oleh sebuah majalah cukup ternama di Michigan.
“Kalian tahu sendiri di Michigan ini sudah penuh dengan pendatang Muslim. Kudengar mereka boleh punya istri hingga empat orang. Temanmu itu pasti akan jadi istri salah satu pendatang itu, Caroline. Nanti suaminya berjenggot tebal dan berjubah seperti Osama bin Laden. Haha. Dia akan hidup di rumah sepanjang tahun karena suaminya pencemburu dan tidak memperbolehkannya keluar rumah. How a poor girl!” kembali Sam tertawa lebar diikuti oleh kedua temannya.
Caroline memberi kode agar tiga laki-laki itu berhenti tertawa. Ia jadi merasa tidak enak, takut Naela mendengar.
“Kenapa kau mau berteman dengan wanita Muslim, hah?” tanya Jo setelah berjuang menghentikan tawanya.
“She is my roomate.” Caroline menjawab pendek dengan wajah resah. Saat itu dia masih memiliki ketakutan dicemooh teman-teman Baratnya.
“Kau tinggal saja di apartemenku daripada dengan wanita Muslim. Dia berbahaya. Di dalam lemarinya pasti tersimpan banyak bom molotov non aktif.” Lanjut Jo memberikan tawaran.
“Aku sudah bosan memiliki roommate seorang laki-laki.” Caroline beralasan.
“Hey, we can help each other if we get high desire.” Jo mengerlingkan mata. Tipikal pria Barat yang tidak pernah tertutup dengan hal sejenis itu.
“Ah, sudahlah. Aku sedang ditunggu.” Caroline meninggalkan tiga laki-laki itu.
Pembicaraan mereka selanjutnya adalah tentang rencana mengunjungi sebuah bar di kota Ann Arbor esok malam. Sam memberi informasi bahwa di bar itu semua alkohol dijual dengan harga miring, nilai plus lagi, di sana banyak wanita cantik. Ah, musim panas yang selalu saja dihabiskan dengan kegiatan yang sama.
***
Juli, 2009
“There is no justice in Islam. It is home of terrorists!” Seru Sam yang diikuti sebagian besar mahasiswa hukum di kelas itu.
Hari itu Profesor William menerangkan konsep keadilan yang diajarkan dalam agama-agama, termasuk dalam Islam. Dua perwakilan sebelumnya adalah Mike dan Rossalina, mereka mewakili agama masing-masing yaitu Kristen Koptik dan Yahudi. Untuk mempresentasikan keadilan dalam Islam secara singkat, hanya ada satu-satunya pilihan, Naela Alfiatul Husna. Teriakan Sam bersama teman- temannya semakin ramai saat Naela sempurna menghadap mereka dari atas podium.
“Hey, Sam. Just respect who stands in front of you! Setidaknya berlakulah layaknya pria dewasa, jangan seperti anak-anak.” Profesor William gusar.
Ucapan profesor William jadi bahan tertawa sebagian besar mahasiswa. Sam diam, tapi masih berbisik-bisik dan berseru tanpa suara. Tetap mengatai Naela yang berdiri di depan.
“Kita dengarkan apa yang bisa dikatakan wanita sok suci itu.” Bisik Sam seraya mengerling pada Jimmy.
Naela menarik napas. Sesaat ia lirik Sam. Pemuda itu masih memandanginya. Tersenyum meremehkan. Ini bukanlah presentasi singkat yang main-main. Dalam waktu lima menit yang diberikan, Naela harus bisa membungkam Sam dan teman-temanya. Ia harus mampu menjelaskan secara gamblang bahwa Islam adalah agama pembawa keadilan bagi seluruh alam, bukan wadah teroris seperti yang mereka tuduhkan.
“Empat belas abad yang lalu, Ali bin Abi Thalib, menantu sekaligus sebagai khalifah Islam ke-3, ia menunjuk Malik al Ashtar sebagai gubernur Mesir. Sebelum kepemimpinan Malik dimulai, sang khalifah menuliskan sebuah pondasi kepemimpinan untuk Malik: ‘Penuhi hatimu dengan kemurahan hati, cinta, dan kebaikan untuk rakyatmu. Jangan berdiri layaknya binatang buas yang merasa berhak untuk melahap mereka. Hal ini karena dua hal: agama mereka sama denganmu atau paling tidak mereka adalah manusia sepertimu’. Dari perintah Ali bin Ali Thalib tersebut bisa diketahui bahwa rasa hormat terhadap non-Muslim telah menjadi bagian utama dalam Islam. Islam dibawa kepada kami oleh Nabi Muhammad salallahu ‘alaihi wassalam, seorang nabi yang diikuti oleh seperlima dari umat manusia dan seorang nabi yang dikatakan Michael Hart sebagai ‘tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia’, oleh sebab itu, berbicara soal keadilan, penting untuk mengenal Muhammad saw dan caranya bersikap.”
Kini semua orang di kelas itu mulai khusyuk memperhatikan. Sam dan teman-temannya juga mau tidak mau ikut mendengarkan.
“Saat ia hijrah ke Madinah, Rasulullah salallahu ‘alaihi wassalam tahu bahwa ada kaum Yahudi yang menjadi minoritas dan mereka tidak mau menerima Islam. Ia kemudian mengundang mereka dan bersama-sama membuat kesepakatan. Hasil kesepakatan tersebut antara lain: janganlah kaum Yahudi mendengki kaum Muslimin dan sebaliknya, janganlah kaum Yahudi membenci kaum Muslimin dan sebaliknya, hendaknya kaum Yahudi dan kaum Muslimin hidup bersama-sama sebagai satu bangsa, kaum Yahudi dan kaum Muslimin masing-masing merdeka mengerjakan agamanya dan tidak saling mengganggu, jikalau kaum Yahudi diserang oleh musuh dari luar, wajiblah bagi kaum Muslimin membantu mereka; dan sebaliknya jikalau kaum Muslimin diserang oleh musuh dari luar, wajiblah bagi kaum Yahudi membantu mereka, dan jika kota Madinah diserang oleh musuh dari luar maka kaum Yahudi dan kaum Muslimin harus mempertahankannya bersama- sama.
Perjanjian ini menunjukkan bagaimana adilnya Muhammad salallahu ‘alaihi wassalam dalam menghadapi kaum minoritas. Sehingga agama Islam saat itu tidaklah disebarkan dengan paksaan, melainkan dengan keadilan. Seperti yang sudah disebutkan Doktor Husain Haikal, penulis asal Mesir, dengan perjanjian persahabatan tersebut, kota Madinah dan sekelilingnya menjelma sebuah kota terhormat. Kota yang segenap penduduknya bertanggung jawab dan memikul kewajiban untuk mewujudkan keamanan, menjamin keselamatan dan menahan setiap serangan musuh yang datang dari mana pun juga.
Keadilan dalam Islam bahkan berlaku di saat perang, berlaku untuk para musuh dan tawanan perang. Dalam sebuah peperangan, Muslim dilarang membunuh anak, perempuan, orang tua dan orang yang sedang sakit; dilarang melakukan mutilasi, dilarang mencabut atau membakar telapak tangan, dilarang menebang pohon-pohon berbuah; dilarang menyembelih domba, sapi atau unta, kecuali untuk makanan; dilarang membunuh para biarawan di biara-biara, tidak membunuh mereka yang tengah beribadah; serta dilarang menghancurkan desa dan kota, serta tidak merusak ladang dan kebun.
Pada peperangan pertama dalam Islam, yang terjadi di tahun kedua dalam perhitungan tahun Islam, Muslim pulang dengan kemenangan. Mereka membawa sejumlah tawanan perang. Tapi, tahukah apa yang diungkapkan oleh para tawanan itu? Salah satu dari mereka berkata, ‘Kami diminta menaiki unta, sementara mereka berjalan kaki. Kami diberi makan roti, sementara mereka hanya cukup dengan beberapa butir kurma. ’ Jadi bagian manakah yang tidak adil dalam Islam? Semuanya sudah diatur dengan begitu detail dalam kitab suci dan hadits. Jaman sekarang, ketika kita saksikan banyak kerusakan yang diatas namakan Islam, itu perlu ditinjau ulang kembali. Apakah Islam, Muslim, atau ada pihak lain, yang salah?”
“Hmm...Sorry if I ask a qoestion out of the context. Aku pernah dengar bahwa dalam agamamu pernah dikatakan bahwa dulu sebelum manusia dilahirkan, kita sudah membuat persetujuan dengan Tuhan. I mean, saat itu kita ditanya apakah siap hidup di dunia dan menjalankan segala aturan-Nya atau tidak? Dan akhirnya kita di sini, itu artinya kita semua sudah menjawab dengan jawaban YA. But, i’m still wondering, kenapa kita tidak bisa mengingat perjanjian itu? Dan Dia membiarkan manusia hidup mencari kebenarannya sendiri. Bukankah ini sebuah ketidak adilan Tuhamu?” Sam mengungkapkan pertanyaannya. Seketika kelas itu dipenuhi gelak tawa. Pertanyaan yang masih ada sangkut pautnya dengan keadilan, tapi memang benar, sangat out of the context.
Sejenak Naela diam, namun kemudian ia tersenyum ramah. “Dulu aku juga sempat menanyakan hal yang sama sepertimu, tapi sekarang aku sudah mengerti. Justru itulah salah satu bukti keadilan Tuhanku. Aku berikan sebuah contoh, saat kamu mengikuti ujian dan tiba-tiba lupa jawabannya, apakah dosenmu akan mengijinkanmu membuka catatan kembali?”
Sam menjawab cepat, “Of course not, right?”
“Ya, tentu saja tidak. Justru jika dosen mengijinkanmu membuka catatan, itu akan menjadi ketidak adilan bagimu sendiri dan mahasiswa lain yang juga mengikuti ujian. Dosen hanya memberikan isyarat padamu bahwa jawaban dari pertanyaan itu sudah pernah ia ajarkan, itu saja. Begitu juga dengan persetujuan dengan Tuhan kala itu, saat kita memilih setuju hidup di dunia atau tidak. Kita tidak diberikan ingatan terhadap peristiwa itu karena itulah letak keadilannya.
If you can remember, then which the exam? Jika kamu mampu mengingat, lalu di mana letak ujiannya? Kalau manusia mampu mengingat, maka semua manusia akan mematuhi Tuhan. Tidak ada lagi ujian yang dianggap berarti di dunia ini karena semua orang sudah ikhlas menjalankan perintah Tuhan. Dia hanya memberi tahu manusia bahwa dulu kita pernah membuat kesepakatan, karena Dia ingin melihat siapakah di antara manusia yang tetap percaya meskipun tidak mengingat peristiwa itu sama sekali, dan siapa pula yang memilih tidak percaya dan mengingkari segala aturan dan perintah-Nya. Semoga jawaban ini bisa membantumu memahami hal ini, Sam.”
Sam diam selama beberapa saat. Kepalanya mencari pertanyaan yang kira-kira tidak akan bisa dijawab Naela. “Dan, satu lagi, kenapa kalian para wanita berhijab selalu menentang aturan pemerintah yang tidak memperbolehkan hijab? Bukankah itu tindakan anarkis?”
“Jika para wanita diberi kebebasan untuk membuka aurat mereka, lalu kenapa kami tidak diberi kebebasan untuk menutup aurat?” pertanyaan Naela ini sudah cukup sebagai jawaban.
Sam kembali mengangkat tangan, masih tidak menerima kenyataan bahwa dirinya kalah.
“Kalian bilang, segala sesuatu itu ada dalam Al Quran, benarkah?”
“Yes. True!” Naela menjawab lugas.
“Kalau begitu, coba kau carikan dalam Al Quran berapa harga satu botol wine?” tanya Sam sambil tersenyum. Kali ini ia yakin Naela akan kebingungan mencari jawaban.
Tanpa berpikir panjang, Naela segera menjawab, “Pergilah ke toko langgananmu, dan tanyakan pada penjualnya berapa harga sebotol wine.”
Sam tertawa, “Semua orang bisa melakukan itu, Naela. Ini adalah bukti bahwa Al Quran itu tidak tahu apa-apa soal kehidupan di era modern ini. Kitab kalian itu sudah kuno, Naela. Ayolah, terima kenyataan itu.”
“Aku memintamu datang ke toko dan bertanya langsung soal harga, karena hal itu ada dalam Al Quran surah An Nahl ayat 43, ‘...maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan, jika kalian tidak mengetahui’. Dan tentu, tidak ada yang paling tahu berapa harga sebotol wine selain penjual wine itu sendiri.”
Profesor William bangkit dari tempat duduknya, memberikan tepuk tangan sekaligus mengucapkan selamat pada Naela. Sesaat kemudian kelas itu dipenuhi gemuruh tepuk tangan. Naela mengucapkan alhamdulillah lirih sebelum kembali ke tempat duduknya.
Tadi sebelum Naela menyampaikan penjelasan, Sam adalah satu-satunya orang yang paling semangat mengajak teman-temannya untuk merendahkan Naela. Kini ia hanya bisa diam menahan malu. Ia tidak lagi dihiraukan oleh teman-temannya. Tapi tetap saja, penjelasan Naela tidak pernah menjadi cahaya dalam hati laki-laki itu, sebaliknya ia semakin membenci Naela dan agamanya.
CHAPTER 10 : Lamborghini untuk Pertama Kali
Hari berikutnya Naela singgah di kantor selama lebih kurang sepuluh menit untuk mengambil beberapa dokumen penting. Teman-temannya sibuk dengan urusan masing- masing. Mereka hanya sempat bertukar kalimat basa-basi seperti tanya kabar dan sejenisnya. Mariam juga tidak datang ke kantor. Pagi-pagi sekali ia sudah memberi tahu Naela, kalau hari ini ia ditugaskan Pak Jamal untuk ikut pertemuan Asosiasi Advokat Indonesia di kota Bandung.
Dari kantor, Naela langsung mengarahkan motornya ke rumah sakit. Janjinya pada seorang gadis kecil sehari lalu tidak mungkin lupa begitu saja.
“Assalamualaikum, Nur.” Sapa Naela dengan suara riang. Tidak ada siapapun di ruangan itu selain seorang suster yang sedang mengganti infus.
Tidak ada jawaban untuk salam Naela. Cahaya hanya tertawa sehingga giginya yang kecil-kecil terlihat jelas.
“Nur itu siapa?” ia bertanya.
“Sayang, Nur itu artinya cahaya. Mulai sekarang kakak akan memanggilmu Nur. Boleh kan?”
“Tapi ada syaratnya.”
Suster berwajah ke-umi-an yang sedang bekerja ikut tersenyum. Ia jawel pipi gadis kecil itu dengan gemas.
“Apa syaratnya?” tanya Naela.
“Kak Naela harus belikan Cahaya cokelat yang buanyaaakk...” ia merentangkan tangan. Tidak peduli betapa nyerinya itu dengan jarum yang masih tertanam di sana.
“Oke. Tapi Nur harus sembuh dulu, ya.” Naela mendekat dan mencium kening bocah itu.
“Janji?”
“Insya Allah.”
“Apa itu insya Allah?”
“Insya Allah itu adalah jawaban terbaik saat kita berjanji pada seseorang. Dengan mengucapkan insya Allah, artinya kita sudah memasrahkan segalanya kepada Allah. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kan? Contohnya, Nur berjanji akan bertemu Kak Naela sore nanti di taman. Tapi malah hujan lebat. Jadinya Nur tidak bisa datang. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi itulah, maka kita harus mengucapkan insya Allah. Manusia hanya berencana, tapi segala ketentuan ada di tangan Allah.”
“Oh, begitu. Berarti nanti kalau Ayah minta Nur untuk belajar, Nur jawabnya insya Allah aja ya.” Dia nyengir. “Maksudnya Nur pasti akan belajar kalau tidak ketiduran.”
Spontan Naela dan suster tertawa. Seringkali pemikiran polos anak-anak melampaui apa yang bisa ditebak oleh orang dewasa.
***
Waktu menunjukkan pukul sepuluh ketika Kian melepas jarum infus dan selang-selang yang tersambung ke tubuhnya. Ia baru terbangun dari tidur. Pengaruh obat penenang itu sangat luar biasa. Lelaki itu tidur selama lebih dari 24 jam. Sama seperti mati saja rasanya.
“Obat penenang. Kau yang memintanya pada dokter?” Kian menggerutu.
Naela sudah ada di sana. Ia hanya berdiri mengamati.
“Kau bisa berubah menjadi monster jika tidak diberi obat penenang. Aku hanya mengambil tindakan spontan.”
“Lain kali jangan pernah lagi lakukan itu. Aku melewatkan banyak kejadian di dunia ini hanya karena obat itu.”
“Baiklah. Asal lain kali kau juga bisa mengontrol emosi dengan baik. Dan jangan pernah coba-coba untuk meracuni diri sendiri, terlebih putrimu yang tidak berdosa itu.”
Kian melirik pada Naela yang berdiri tenang. Ia tersenyum sambil mendengus. Ada-ada saja. Setelah tubuhnya bersih dari segala peralatan rumah sakit, ia berjalan menuju cermin besar.
Oh, lihatlah. Lelaki di dalam cermin itu benar-benar asing. Kian hampir saja tidak kenal.
Sejak kematian Cyntia, belum sekali pun ia menatap dirinya dalam cermin. Dan ternyata hanya dengan melewatkan beberapa hari saja, telah terjadi begitu banyak perubahan. Mata layu, lingkaran hitam, bibir pucat, rambut berantakan, dan tentu saja brewok yang mulai tumbuh.
“Aku bermimpi.” Kian mulai bercerita sementara tangannya meraih satu botol larutan kumur.
Naela berbalik arah, melihat lawan bicaranya.
“Aku bermimpi tentang hari pernikahan kami. Cyntia yang mengenakan gaun putih, rambut yang tergulung ke atas, mahkota di atas kepala, dan senyum yang merekah di bibir. Aku bahkan masih bisa merasakan degup jantungku ketika menunggunya di altar. Melihat dia berjalan perlahan menujuku seperti melihat seorang puteri paling cantik di dunia ini.” Mata Kian menerawang, lalu tersenyum getir.
“Kalian menikah di gereja? Bukankah kau Muslim?”
“Aku hanya mengikuti permintaan Cyntia. Lagipula menikah di depan penghulu atau pendeta, di Masjid atau Gereja, tidak ada bedanya, kan? Tujuannya tetap menikah.”
Bibir Naela terbuka. Ia ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak jadi. Bibirnya kembali tertutup. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk memberi penjelasan. Pada akhirnya Naela hanya mengangkat bahu, wajah lelah, dan berkata ‘baiklah.’
“Kau dengar, mulai hari ini aku tidak akan mengurung diri lagi. Dan kau sebagai kuasa hukumku, mulailah bekerja. Aku ingin Shindy mendapatkan hukuman seberat mungkin. Kurasa penjara seumur hidup adalah pilihan tepat.” Kian manatap tajam pada bayangannya sendiri. Ada dendam yang tergambar jelas.
“Dia kakak kandungmu sendiri, Kian. Pikirkan lagi sebelum membuat tuntutan yang nanti akan berujung penyesalan.”
“Dia memang kakakku, tapi pembunuh tetap seorang pembunuh. Aku hanya ingin Cyntia berbahagia di alam sana karena aku berhasil menghukum orang yang telah membunuhnya. Seharusnya dulu aku mengusir Shindy seperti permintaan Cyntia.”
Naela diam. Situasi ini benar-benar sulit. Ia sama sekali belum melihat titik terang. Entah kenapa, bahkan setelah mendengar penjelasan Gio di kantin sehari lalu, Naela belum bisa sepenuhnya menjatuhkan tuduhan pada Shindy.
“Selamat pagi.” Panggilan di pintu membuat Naela dan Kian serentak menoleh.
Rais. Lelaki itu seperti biasa, rapi dalam balutan pakaian kerja. Di tangannya ada setumpuk map dan dokumen, yang mungkin saja, perlu dUmibuhi tanda tangan.
“Kau, Rais. Tolong jangan bebani pikiranku dengan urusan pekerjaan terlebih dahulu. Kau bisa mengurusnya tanpaku, kan?” Kian melenguh. Matanya menatap tumpukan map dengan sebal.
“Aku sudah menyortirnya hingga belasan kali. Dan yang tersisa ini sungguh tidak bisa digantikan. Ini terkait beberapa proyek dan tender yang membutuhkan persetujuanmu.” Rais bicara dengan suara yang santai, seperti dengan teman sendiri. Ia bahkan menyelonong masuk, lalu meletakkan semua map itu di atas meja. “Oh, ada Ibu Pengacara. Apa kabarmu?” Ia tersenyum.
“Alhamdulillah.” Naela membalas dengan senyuman.
“Rais.” Kian mengambil posisi duduk di sofa. Ia rebahkan kepala di sana. “Kupikir Naela akan ke kantor polisi selepas ini. Kau bisa mengantarnya, kan?”
“Tentu saja. Baiklah jangan buang-buang waktu. Mari Naela.”
***
Lamborghini Gallardo warna putih keluaran terbaru itu meluncur meninggalkan halaman rumah sakit. Naela terpaksa duduk di kursi depan—karena lamborghini tidak menyediakan kursi belakang. Bisa dikatakan, ini adalah kali pertama Naela merasakan duduk dalam sebuah lamborghini mewah. Dalam hati ia bertanya-tanya, berapa uang yang harus dikeluarkan demi sebuah alat transportasi semewah ini? Ia merasa tidak perlu bertanya lagi bagaimana caranya Rais mendapatkan uang. Gaji satu tahun seorang general manajer perusahaan multinasional sekaligus orang kepercayaan tentu cukup untuk membeli satu atau dua buah lamborghini.
“Bagaimana keadaannya? Apa membaik?” Rais membuka dengan sebuah pertanyaan. Naela tahu siapa yang dimaksud.
“Hari ini dia jauh lebih baik. Mau bicara dan tidak lagi berdiam diri di tempat tidur.”
“Aku tidak menyangka pelakunya adalah Shindy. Sepanjang pengamatanku, dia wanita baik-baik. Ya, meskipun sedikit tidak ramah. Kau tentu masih ingat seperti apa dia menyambutmu waktu itu.”
Baru dua hari lalu. Mana mungkin Naela sudah lupa.
“Bagaimana polisi seketika bisa menuduh Shindy?”
“Kudengar, security di rumah itu yang melapor. Dia melihat Shindy masuk ke rumah sekitar pukul dua siang.mHmm, semua asisten juga mendengar suara pertengkaran antara Shindy dan Cyntia.”
“Security? Bams?”
“Iya.”
“Kau tahu banyak.” Naela memuji.
“Tentu saja harus tahu. Ini termasuk ke dalam pekerjaanku sebagai general manajer sekaligus asistan pribadi.” Ia tersenyum, melirik Naela dari spion atas. “Kau tunggu sebentar, ya. Aku harus memberikan sesuatu pada seorang teman di sini.” Mobil itu berhenti di depan sebuah cafe. Setelah melepaskan sabuk pengaman, Rais keluar sambil menenteng satu buah map.
Naela duduk dengan santai. Ia asik memperhatikan orang yang berlalu-lalang di luar. Sesekali ia melihat ponsel, membaca pesan yang masuk dan membalas apabila perlu. Lima menit berlalu dan Rais belum terlihat sama sekali. Naela menyandarkan kepalanya ke belakang. Matanya menyapu seluruh sisi dalam lamborghini yang baginya masih sedikit asing. Melakukan tindakan seperti ini di depan Rais tentu akan terlihat memalukan. Tapi sekarang ia bebas untuk melihat apapun. Naela mengamati ke semua sisi. Bahkan hingga bagian matras di bawah kakinya. Mata Naela berhenti bergerak ketika menangkap sebuah amplop yang tidak lagi halus di bawah kursi. Ia tarik perlahan ujung amplop yang tersembul keluar. Penasaran dengan apa yang ada di dalam, Naela membukanya.
“Hasil USG dari Rumah Sakit Kasih Bunda.” Gumamnya. “Istrinya sedang hamil? Tapi kenapa diremas seperti ini?”
Hampir saja kertas itu terlempar ketika pintu mobil terbuka. Naela sama sekali tidak sadar saat Rais berjalan menuju mobil. Kini lelaki itu sudah duduk di belakang stir, melihat ke samping.
“Apa yang sedang kaulihat?”
“Aku menemukan hasil USG di bawah sini.”
Lelaki itu diam sejenak, tapi kemudian ia melambaikan tangan. “Oh, itu. Aku bertengkar dengan istriku dan ya... begitulah wanita. Sebagai pelampiasan kekesalan, dia malah meremas hasil USG itu lalu minta diturunkan.” Jelasnya sambil tersenyum tidak habis pikir.
“Lalu kau menuruti permintaannya?”
“Apalagi yang bisa kulakukan? Dia memaksa ingin turun.”
“Percayalah. Dia tidak pernah sungguh-sungguh meminta diturunkan. Seharusnya kau menenangkan dan membujuknya. Dia ingin tahu seberapa besar cintamu padanya. Bukan justru menuruti permintaannya. Ketika kau menurunkannya, ia justru akan bertambah kesal. Hal seperti ini yang sering memicu keretakan dalam rumah tangga. Masing-masing mempertahankan gengsi.”
Rais hanya membalas dengan senyuman dan mulai menghidupkan starter.
CHAPTER 11 : Umi Tidak Perlu Khawatir
Malam ini Bogor sedang diguyur hujan. Tidak begitu lebat tapi mampu membuat pakaian kuyup. Naela sampai di rumah sekita pukul delapan. Tubuhnya memang tidak basah karena terlindung mantel, tapi ia menggigil kedinginan.
Umi Dian segera memanaskan sup dan membuatkan wedang jahe sebagai penghangat tubuh putrinya. Sementara Fatih, sejak Naela masuk ke rumah, ia terus mengekor ke mana pun kakaknya pergi. Saat Naela menyisir setelah mandi, bocah itu duduk di atas ranjang dengan kaki terayun- ayun. Bibir mungilnya tidak berhenti mengoceh, bercerita tentang apa saja yang menurutnya seru sepanjang hari ini. Dia juga banyak bertanya hal-hal polos yang seringkali membuat Naela kehabisan kata untuk menjawab.
“Bagaimana Nak perkembangan kasusnya?” tanya Sang Umi pada Naela yang kini sudah siap melahap satu mangkuk sup tomat hangat.
“Seperti yang banyak disiarkan di koran dan televisi, Mi. Polisi sudah menangkap Shindy, kakak kandung Kian. Tapi kok Naela masih belum bisa percaya begitu saja. Besok Naela mau ketemu langsung dengan Kak Shindy.” Ceritanya sambil menyeruput satu sendok sup. Bola-bola daging yang mengambang di atas pasta tomat semakin menarik selera makan Naela. Segera ia ambil satu dan memasukkannya ke dalam mulut. Ia makan penuh gairah. “Masakan Umi selalu nomor satu.” Ia memuji.
Uminya tersenyum. Melihat putrinya makan dengan lahap seperti itu membuat Umi Dian sangat bahagia. Dulu semasa kecil hingga umur belasan tahun, Naela paling susah makan. Tubuhnya sangat kurus dan tulang-tulang tampak bertonjolan. Ayah dan ibunya sampai bingung mencari cara agar ia mau makan lebih banyak. Segala jenis suplemen dan penambah nafsu makan sudah diberikan, tapi sama sekali tidak ada kemajuan. Itulah mengapa sampai sekarang Umi Dian paling senang menonton Naela makan. Baginya seperti sebuah keajaiban.
“Kak, Fatih mau.” Rupanya bocah kecil itu tergoda. Ia membuka mulut lebar-lebar.
“Oh, Fatih mau. Jadi pengen ya gara-gara lihat Kak Naela makan? Ayo, satu, dua, tiga, aaa....” satu buah bakso beserta kuahnya meluncur ke mulut Fatih.
“Tadi di Masjid Fatih ketemu Aa Yusuf.” Fatih memberi tahu.
Naela melirik pada uminya. Berharap semoga uminya sedang lelah dan enggan menanggapi ocehan Fatih. Tapi ternyata tidak. Umi Dian justru terlihat sumringah tatkala nama Yusuf disebutkan.
“Aa Yusuf ngomong apa ke Fatih?” tanya Umi Dian.
“Nggak ada.” Bocah itu menggeleng. “Dia cuma nitip salam buat Umi. Kayaknya Aa Yusuf naksir Umi.” Fatih nyengir.
Ucapan Fatih barusan berhasil membuat Naela tertawa hingga tersedak. Ia puas melihat wajah uminya yang melengos dan tidak lagi melanjutkan pembicaraan tentang Yusuf.
“Umi tidak perlu risau urusan siapa jodoh Naela nanti. Kalau Allah sudah bilang ‘kamu menikah tanggal sekian, tahun sekian’, maka tidak ada yang bisa menghalang- halangi. Menikah itu bukan perlombaan siapa yang cepat dan siapa yang lambat, Mi. Tapi tentang kesiapan dan niat ibadah kepada Allah.” Ujar Naela sambil menyentuh tangan uminya tercinta.
CHAPTER 12 : Dia Adalah Malaikat Kecilku, Naela
“Kian yang menyuruhmu ke sini?” Shindy berdiri di depan pintu. Seorang polisi yang mengantarnya telah kembali ke meja. Duduk mengawasi dari kejauhan.
“Tidak. Hari ini Kian sudah pulang ke rumah. Aku bahkan belum bertemu dengannya.” Jawab Naela. Ia yang tadi berdiri untuk menyambut Shindy, kini kembali duduk.
“Lalu apa tujuanmu? Sama seperti orang lain yang mencaci-makiku? Atau kau ingin membantu jaksa agar aku dipenjara seumur hidup?” Shindy duduk di hadapan Naela.
Pada jarak yang tidak sampai dua depa, Naela bisa mengamati wanita di depannya itu dengan leluasa. Shindy hari ini sangat berbeda dengan yang ia lihat pertama kali. Tidak ada make-up tebal juga pakaian bagus. Bahkan rambutnya terlihat berantakan.
Naela menggeleng. “Itulah perintah Kian padaku. Dia ingin Kak Shindy di penjara seumur hidup. Tapi aku tidak akan menurutinya sampai ada bukti yang jelas.”
“Oh Kian. Adik laki-laki yang kucinta.” Shindy menarik napas panjang. Ia mendongak, menatap langit-langit ruangan, mengenang peristiwa masa lalu. Naela bisa melihat cinta yang tergambar jelas di mata lawan bicaranya.
Dua wanita itu duduk berhadapan dengan meja sebagai pemisah. Mereka sama-sama diam.
“Aku berumur 6 tahun ketika meminta Mama untuk memberi adik.” Shindy mulai bercerita, “Aku sangat iri pada teman-teman yang punya adik, sementara aku hanya bisa menganggap para boneka sebagai adik. Padahal aku juga ingin punya adik yang lucu, yang bisa kuajak bermain, yang bisa kutunggui sepanjang hari, yang bisa kuayun, dan yang bisa kupamerkan pada semua keluarga yang berkunjung.
Impian itu baru terwujud saat umurku 10 tahun. Mama mengandung. Rasanya aku jadi anak yang paling bahagia di dunia ini. Sebentar lagi aku akan jadi seorang kakak. Itulah yang selalu kusiarkan dengan bangga pada teman-teman sebaya, juga pada tante dan om yang bertamu ke rumah. Ketika perut mama mulai membesar, aku sering menempelkan telinga di sana. Tidak ada yang berhasil didengar, terkadang hanya bunyi cacing di perut Mama, tapi aku senang seolah aku telah mendengar malaikat kecil sedang bernyanyi di dalam sana.
Sembilan bulan kemudian adikku lahir. Seorang bayi laki-laki yang menjadi jawaban doa Mama dan Papa. Aku melihat tubuhnya yang merah dan masih terhubung dengan tali pusar. Kemudian seorang suster memandikan dan memberikannya pada Papa. Bahkan suara Papa saat melantunkan azan di hari itu masih bisa kudengar hingga sekarang. Kau tahu Naela, aku menonton semuanya dengan takjub dan bangga. Bagi Shindy kecil, itu adalah hari paling membahagiakan seumur hidupnya.
Adikku itu diberi nama Kian Hartono. Hingga detik ini aku masih belum tahu apa arti nama itu. Kian adalah boneka kecil yang paling kucintai, yang selalu kutunggui dan tak akan kubiarkan seekor nyamuk pun hinggap di kulitnya.
Semakin hari, ia semakin tumbuh besar. Jika dulu aku adalah pelindungnya, sekarang situasi telah terbalik. Kian adalah pelindungku. Dia selalu mendahulukan aku daripada teman- temannya. Dan jika ada yang menyakiti atau menjatuhkan air mataku, Kian ada di barisan paling depan sebagai pembela. Begitulah selama bertahun-tahun, setidaknya sampai Cyntia masuk dalam kehidupannya.
Cinta Kian pada Cyntia begitu besar. Ia bahkan ikhlas dirinya didominasi wanita itu. Karena cinta itu pula, ia lebih nurut pada Cyntia dibandingkan aku atau Mama. Adikku itu telah buta karena cinta. Ia tidak tahu betapa sering Mama menangis karena perlakuan semena-mena Cyntia saat dirinya tidak ada di rumah. Wanita itu pintar sekali berakting, dan adikku tidak curiga sama sekali. Karena itulah aku dan Cyntia sering bertengkar. Tapi percayalah, Naela. Sebenci apapun aku pada Cyntia, tidak pernah terlintas sedikit pun dalam kepalaku untuk menyakiti fisik apalagi sampai mendekap wajahnya hingga tewas.
Aku memang bukan wanita relijius, bukan pula wanita kalem dan penuh sopan santun. Mereka yang pernah bertemu atau bicara denganku selalu berpendapat aku adalah wanita judes, blak-blakan, dan tidak bisa memendam amarah. Tapi membunuh? Bahkan menyebutkannya saja aku sudah ngeri. Terlebih membunuh wanita yang dicintai adikku sendiri. Itu tidak mungkin.
Ini fitnah. Kau boleh percaya atau tidak. Tapi ini fitnah!”
Raut wajah Naela yang semula serius, kini dihiasi senyuman tulus. Ia sentuh tangan Shindy kemudian mendekapnya. “Saya belum bisa memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi ketika Kak Shindy bercerita, saya bisa merasakan ketulusan cinta seorang Kakak pada adiknya. Jika memang ini fitnah, Kak Shindy bersabarlah. Minta pertolongan Allah dengan sabar dan shalat. Allah tidak pernah menetapkan suatu perkara pada hamba-Nya tanpa tujuan. Selalu ada hikmah dan pelajaran di dalamnya. Untuk sekarang, cukuplah Kak Shindy bersabar. Posisi saya memang sebagai kuasa hukum Kian. Namun saya tidak akan membelanya tanpa didasari alasan yang jelas. Saya akan menyelidiki kasus ini terlebih dahulu.”
“Kakak sudah lupa bacaan shalat, Nae.” Shindy mengaku dengan wajah kecewa.
Bukan sesuatu yang mengejutkan. Naela sama sekali tidak kaget. Namun kenyataan seperti ini membuat dadanya perih. Ketika dirinya meninggalkan satu waktu shalat saja, kesalnya tidak terkira, lalu bagaimana jika meninggalkan shalat selama bertahun-tahun? Tidakkah jiwa itu terasa kering?
“Untuk sementara Kak Shindy bisa baca apa saja yang masih ingat. Mungkin kalimat tauhid, Laa ilaaha illallah, atau sejenisnya. Insya Allah besok Naela akan bawakan buku panduan shalat untuk Kak Shindy.”
***
Halaman kantor kepolisian itu sepi ketika seorang lelaki berambut gondrong berjalan menuju mobilnya. Hari ini hari kerja, dan sama seperti hari kerja sebelumnya, ia terpaksa berpakaian rapi dengan kemeja dan celana bahan. Tapi rambut gondrong dan usang itu menjadi penyebab utama ia tidak bisa terlihat rapi di mata orang-orang.
Hari ini dia baru saja mulai untuk mengerjakan kasus baru. Kalau bukti dan saksi sudah cukup, ia akan mulai menyusun surat tuntutan untuk seorang wanita yang sekarang sudah dikurung di dalam sana. Satu hal yang ia anggap sebuah kebetulan yang mengasyikkan, Naela Alfiatul Husna juga sedang bekerja untuk kasus serupa. Mereka akan bertemu lagi di persidangan. Sungguh ia tidak sabar.
“Kris. Kau di sini?” suara wanita yang sangat familiar. Kris bahkan tidak perlu menoleh agar tahu siapa yang telah memanggilnya.
Lelaki itu berbalik. Bahu terangkat dan sebuah senyuman tipis di bibir. “Ya, tentu saja aku di sini.”
“Apa yang kau lakukan di sini?” wanita itu mendekat. Matanya penuh selidik.
“Ini kantor polisi. Kurasa seorang awam pun tidak perlu bertanya apa hubungan seorang jaksa dan polisi, kan? Sama sepertimu Naela. Aku tidak perlu bertanya apa yang kau lakukan di sini. Karena kau pengacara.” jawab Kris dengan santai. Ia membuka pintu mobil.
Ya, benar. Kenapa harus bertanya? Memang tidak perlu. Tapi tolong bedakan Kris dengan jaksa lain. Naela merasa ini bukan sebuah kebetulan jika Kris datang ke kantor polisi yang sama dengan yang ia datangi.
“Tapi aku kenal kau sebagai jaksa penguntit. Kau selalu ada di setiap kasus yang ada hubungannya denganku. Jadi kali ini, aku berdoa pada Allah, semoga tujuanmu kemari bukan untuk menangani kasus pembunuhan Cyntia.”
Kris terkekeh. Ia menyeringai polos. “Memang itu yang sedang kukerjakan. Hmm, dalam beberapa hari ke depan, surat tuntutan akan selesai. Dan wanita itu harus bersiap-siap dengan kurungan penjara. Mungkin lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, atau bisa saja seumur hidup. Klienmu pasti senang. Dengar-dengar dia begitu dendam pada kakaknya sendiri. Klienmu itu pasti senang.”
Apa katanya? Semoga kali ini Naela salah dengar. Mungkin ada sekawanan burung yang barusan berkicau.
“Apa itu tadi kau yang bicara?” Naela hampir tidak percaya.
“Oh, Naela.” Kris menengadahkan kepala. Tidak percaya. “Kau pikir siapa?”
Ternyata benar. Kali ini dia harus bertemu di sepanjang kasus dengan lelaki itu lagi. Mendadak langit yang semula biru berubah jadi gelap.
“Cepat pergi sebelum aku melemparmu dengan sepatu.” Ucap Naela dengan suara tinggi. “Dan ingat, jangan sok pintar membuat tuntutan tanpa dasar yang benar.”
“Baik. Aku akan pergi.” Kris tersenyum tanpa dosa. “Butuh tumpangan?”
“Cepat pergi!!!” sekarang Naela sudah berteriak.
“Ssst... tidak perlu berteriak.” Kris mengerling. Ia suka melihat Naela kesal seperti itu. “Aku akan pergi. Tenang saja. Sampai jumpa dan hati-hati.”
Lelaki itu masuk ke dalam mobil dan pergi.
“Benarkah itu tadi Kris?” Naela memegangi kepalanya sendiri. Secara mendadak langit yang semula cerah kini berubah gelap.
CHAPTER 13 : Kapan Kita Jalan-Jalan Lagi?
Pukul 16.49 Gadis berambut hitam lurus itu duduk dengan wajah lesu. Di hadapannya sudah tersaji satu porsi nasi goreng dan segelas es jeruk. Sementara kursi di depannya masih juga kosong, padahal menu yang sama sudah menunggu. Gadis itu adalah Mariam. Ia baru saja pulang dari Parung Bogor untuk mengurusi kasus sengketa tanah wakaf yang masih belum pasti akan diambil atau tidak. Saat di mobil, sms Naela masuk. Wanita itu meminta Mariam datang ke Aisya Rertaurant and Cafe. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Tanpa singgah ke mana-mana lagi, Mariam langsung menuju restoran ini.
“Maaf Mariam, aku terlambat.” Naela datang. Napasnya terengah-engah. Ia langsung duduk di depan Mariam dan menyedot jus jeruk yang sudah tersedia di meja.
Dengusan Mariam terdengar. “Hampir saja aku tertidur menunggumu.” Mata Mariam berputar, menunjukkan kekesalannya. “Tapi lupakan saja. Karena Mariam memang sudah terkenal dengan sifat pemaafnya.”
Naela mencibir.
“Sebelum kamu bicara ini itu, aku ingin bertanya satu hal, Nae.” Diatatapnya Naela dengan sungguh-sungguh. “Haruskah aku ambil kasus sengketa tanah wakaf ini?
Seharian ini aku berpikir keras, mengerahkan segala kemampuan analisisku, tapi tetap saja tidak bisa kuputuskan.” Keluh Mariam. Tangannya sudah sejak tadi meremas-remas kepala sendiri.
“Aku kenal kamu, Mariam. Hanya uang yang membuatmu bingung. Jadi sebelum terlalu tinggi spekulasi burukku, ceritakan dulu seperti apa perkaranya.”
“Tebakanmu itu tidak salah. Calon klienku menawarkan tip lima ratus juta apabila pemakaman seluas dua hektar itu bisa kuganti statusnya. Dari tanah wakaf jadi tanah hak milik. Kamu bayangkan, Nae. Lima ratus juta! Aku bisa jalan-jalan ke Paris, London, Milan, dan Istanbul dari uang itu. Akan segera ada foto-foto diriku dengan view kota- kota terkenal di instagram. Pasti follower-ku bisa naik lima kali lipat. Kamu tahu berapa jumlah follower-ku sekarang?” Mata Mariam membulat.
Naela dengarkan cerita sahabatnya tanpa ekspresi apapun. Wajahnya datar memandangi jus jeruk, diaduk-aduk dengan sedotan, dan sesekali ia minum. “Sebenarnya kamu ingin bercerita soal apa, Mariam? Kasus sengketa tanah atau tentang ketenaranmu di instagram?” tanya Naela terlihat bosan.
Mariam seperti baru sadar dari lamunan. “Intinya begitu lah alasannya kenapa aku harus berpikir sejuta kali untuk menolak tawaran calon klienku ini. Hmm, jadi ceritanya begini.” Ia beri jeda beberapa detik. “Tanah pemakaman itu diwakafkan oleh almarhum Pak Mujani pada tahun 2005. Dan satu tahun setelah itu almarhum wafat. Tanah itu akhirnya digunakan sebagai pemakaman umum oleh masyarakat kecamatan setempat. Terhitung sampai saat ini ada 203 jenazah yang dimakamkan di sana. Namun tiba-tiba tahun ini muncul sengketa terkait status tanah tersebut. Pak Roy—calon klienku itu—mengaku sebagai anak angkat almarhum Pak Mujani. Berdasarkan cerita Pak Roy, sejak tahun 2000 ia tinggal di Malaysia bersama anak- istrinya. Jadi tidak tahu perkara serah terima wakaf yang sudah terjadi. Ia juga punya surat bertanda tangan resmi.”
“Surat apa?” Naela tidak sabar.
“Surat wasiat dari almarhum Pak Mujani yang menyatakan tanah itu sudah diwariskan pada anak angkatnya. Makanya Pak Roy minta masyarakat untuk mengosongkan tanah pemakaman, termasuk memindahkan 203 jenazah yang dikubur di sana. Katanya sih sebagai gantinya, mau dibangun perumahan. Menurutmu bagaimana?”
“Kamu yakin surat wasiat itu benar?” Naela justru balik bertanya.
Mariam berpikir sejenak, kemudian ia menggeleng.
“Tidak yakin benar. Bahkan aku sangsi kalau Pak Roy benar-benar anak angkat almarhum. Berdasarkan cerita warga setempat, semasa hidup amarhum tinggal sendiri, hanya ditemani Mang Jali. Tukang kebun sekaligus yang bantu-bantu almarhum. Sekarang Mang Jali sudah pindah ke Kalimantan. Jadi tidak ada gejala kalau almarhum memiliki anak angkat. Kurasa Pak Roy memang hanya mengada-ada.”
“Nah, nyatanya kamu tidak perlu saran apa-apa dariku, Mariam. Jauh dalam hatimu tahu langkah apa yang seharusnya kamu ambil.”
“Tapi bagaimana dengan lima ratus juta, Nae?”
“Itu urusanmu, termasuk juga urusanmu dengan Tuhan nanti. Ingat Mariam, memakan harta haram itu sama saja dengan menelan bom yang bisa meledak sewaktu-waktu. Imbasnya ke diri sendiri. Mungkin tidak sekarang, tapi lihat dalam beberapa tahun yang akan datang.” Naela melambaikan tangan.
Wajah Mariam berganti murung. Diaduk-aduknya jus jeruk yang baru diminum sedikit. “Kamu selalu begitu, Nae. Membiarkanku memilih, namun di lain sisi juga menakut- nakuti. Jadi kasus ini sebaiknya kutolak saja?”
“Kamu sudah dewasa, jadi aku tidak berhak mengatur lagi. Cuma bisa memberikan pilihan. Untuk kasus ini, kupikir ada baiknya kamu selidiki dulu kasus ini. Buktikan dulu apakah Roy itu benar-benar anak angkat almarhum, selanjutnya buktikan juga kebenaran surat wasiat itu.”
Mariam mengangguk pelan. “Hmm...baiklah.”
Mereka diam beberapa menit untuk menikmati makanan. Naela makan dengan lahap karena perutnya sudah sangat lapar. Berbanding terbalik dengan Mariam yang tampak tidak begitu bersemangat. Pikirannya sibuk pada kasus yang baru saja ia ceritakan.
“Sekarang giliranmu, Nae. Apa yang ingin kamu ceritakan padaku? Bukankah kamu yang mengajakku kemari?” Mariam penasaran.
Naela menarik napas.
“Aku bertemu Kris lagi di kasus ini. Menyebalkan sekali.”
Apa? Apa? Mata Mariam melotot. Ini berita bagus.
“Wah pasti seru sekali.” Mariam justru tertawa senang. Ia menangkupkan kedua tangan di depan dada, mata melirik ke langit-langit, membayangkan sesuatu.
“Apa kamu bilang?”
“Seru. Ini akan seru, Nae. Masih belum dengar juga?” “Aku dengar kok.” Naela melengos kemudian menyedot es jeruknya.
“Sepertinya Kris suka padamu. Itu alasan paling tepat kenapa dia selalu berada dalam kasus yang sama denganmu.”
“Oh, Nona Mariam. Jangan bergosip.”
“Tapi masuk akal.” Wajah Mariam serius. “Nae, ada banyak lelaki di sekelilingmu. Tidak tertarik untuk pilih salah satu?”
Apa-apaan ini? Seharusnya Naela tidak pernah mengajak Mariam bertemu.
“Kalau sudah selesai makan, ayo pulang.” Naela memungut tas. Hanya menggertak Mariam.
“Baik-baik.” Mariam mengangkat tangan. “Aku tidak akan bicara soal lelaki lagi. Mungkin aku punya sahabat seorang lesbian.”
“Apa katamu?” Naela melotot.
“Entahlah. Aku tidak ingat apa yang sudah kukatakan.” Gadis itu mengelak.
“Harusnya kamu pikirkan saja dirimu sendiri. Bukannya kamu juga sudah mendekati limit usia ideal untuk menikah?” tanya Naela sengaja.
“Astaga, Nae. Umurku masih 25. Kurasa aku akan menikah 10 atau 11 tahun lagi.“ Mariam membela diri. “Baiklah. Lupakan. Jadi, kapan sidang pertamamu?”
“Belum tahu.”
“Lalu apa yang sudah kamu kumpulkan sejauh ini?”
Naela mulai bercerita panjang lebar dan Mariam mendengarkan dengan takzim. Sesekali Mariam bertanya, mengangguk, dan memberikan saran untuk Naela.
“Kalau kamu memenangi kasus ini lagi, reputasimu pasti semakin bagus Nae. Bahkan bisa-bisa New York Times yang akan meliputmu.” Mariam menimpali dengan wajah senang. Kalimat yang justru membuat kening Naela berkerut, kembali pusing dengan jalan pikiran gadis yang ada di depannya.
“Masya Allah, kamu memang peramal yang hebat, Mariam sayang.”
***
Malam harinya Naela kembali makan bersama Umi Dian dan Fatih di rumah. Umi masak sayur lodeh dan sambal udang. Kalau sudah mencium aroma masakan sang Umi, Naela tidak tahan untuk segera melahapnya. Padahal waktu di cafe bersama Mariam, Naela juga sudah makan.
Fatih disuapi Naela dengan nasi dan telur ceplok. Entah kenapa sejak kecil anak itu selalu pilih-pilih makanan.
Saat tadi ditawari sayur lodeh dan sambal udang, Fatih menggeleng.
“Kak Nae, kapan kita jalan-jalan?” tanya Fatih.
“Nanti ya, Sayang. Kalau pekerjaan Kakak sudah selesai.”
“Kita kan udah lama nggak jalan-jalan.” Fatih merengut. Bibirnya bergerak-gerak mengunyah makanan.
“Kak Naela lagi sibuk. Nanti kalau urusannya sudah beres, pasti Kak Naela ajak Fatih jalan-jalan.” Sahut Umi Dian.
Beberapa menit kemudian, semua nasi dipiring berhasil dikandaskan Fatih. Ia segera berlari ke kamar setelah sebelumnya bilang akan menunggu Naela di kamar. Dia ingin dibacakan buku cerita oleh Naela.
Umi Dian dan Naela masih melanjutkan makan malam. Dengan semangat Naela bercerita segala yang sudah ditemukan sejauh ini terkait kasus pembunuhan Cyntia. Hampir tiga puluh menit mereka duduk di ruang makan. Naela teringat Fatih yang tadi minta dibacakan buku cerita. Usai mencuci piring, Naela naik ke lantai dua. Saat pintu kamar dibuka, Fatih terlihat sedang menggambar dengan pensil warnanya.
“Fatih lagi gambar apa?” Naela peluk anak itu.
“Ini lho, Kak. Tadi Aa Yusuf yang ngajarin bikin boneka 36 ini.” Jawab bocah itu. Matanya tidak lepas dari gambar yang dibuat, sementara bibirnya komat-kamit menyanyikan sesuatu.
“Coba Kakak mau dengar. Fatih gambar sambil nyanyi.” Naela tarik kursi, duduk di samping Fatih.
Anak itu mulai bernyanyi lebih keras. “Hujan rintik- rintik. Air bergelombang. Dua mata air. Setengah lingkaran. Adik minta topi. Dikasih onde-onde. Enam kali enam. Tiga puluh enam. Enam. Enam. Jadilah boneka.” Boneka kesekian yang digambar Fatih sudah jadi. Naela tertawa, mencium pipi Fatih.
“Kapan Aa Yusuf main sama Fatih?” selidik Naela.
“Tadi waktu Fatih sama umi ke warung, ada Aa Yusuf di sana. Ada Bayu, Ilham, Ardi, sama Ikbal juga. Terus Aa Yusuf ngajarin kita gambar ini di depan warung.” Cerita Fatih.
Naela bersyukur pertemuan Fatih dan Yusuf karena kebetulan saja. Ia hanya takut kalau Yusuf datang ke rumah dan mengajari Fatih atas undangan uminya.
“Sekarang waktunya Fatih untuk tidur. Ayo mau dibacakan buku cerita yang mana?”
Tangan Fatih mengambil sebuah buku cerita dari tumpukan. Malam ini ia ingin dengar cerita dari buku 30 Dongeng Pengantar Tidur untuk Anak Muslim yang ditulis oleh MB Rahimsyah AR. Sekitar satu jam berlalu, Fatih sudah tidur pulas. Naela mengambil mushaf Quran, kemudian membaca dari halaman pertama juz 2 hingga selesai satu juz. Jam menunjukkan pukul sembilan ketika ia menutup pintu kamar Fatih.
CHAPTER 14 : Sesuatu di Balik Kebohongan
“Assalamu’alaikum. Iya, Kian. Ada apa?” Naela baru saja keluar rumah ketika handphone-nya berdering. Dia berencana untuk singgah ke kantor sebelum menemui Shindy di kantor polisi.
“Kau bisa datang ke kantorku? Tolong ambilkan semua foto-foto Cyntia yang ada di ruang kerjaku. Bawa ke rumah.” Suara lelaki di ujung sana memberi perintah. Tidak lagi terdengar lemah. Justru dia sudah bisa berbicara tegas, padahal dua hari lalu ia berusaha menghabisi diri sendiri.
“Apa?” Naela tidak percaya.
Bukankah dirinya seorang pengacara? Sungguh ini sebuah kejutan paling konyol sepanjang perjalanannya sebagai pengacara.
“Kau tuli? Aku memintamu ke kantor. Segera! Aku menunggu di rumah dan jangan lebih dari 1 jam! Aku akan membayarmu lebih.” Telepon itu putus begitu saja.
Naela membuka mulut. Masih tidak percaya. Kenapa semua lelaki yang ia kenal punya kepribadian mirip? Satu hari lalu Kris, dan sekarang Kian. Sungguh menjengkelkan.
“Baiklah, Naela. Anggap saja kamu sedang membantunya. Insya Allah bernilai ibadah.” Ia mengangkat bahu dan segera menjalankan motor keluar dari garasi.
***
Perusahaan Kian berkantor di lantai 16 sebuah gedung pencakar langit yang ada di Sudirman. Demi memenuhi permintaan Kian, ia urung singgah ke kantor. Dari rumah ia langsung meluncur ke sini.
Tidak sampai lima menit, ia sudah sampai di ruangan kerja kliennya. Seorang lelaki yang bekerja di departemen Customer Service yang tadi mengantar hingga ke ruangan berukuran 7 x 7 meter ini. Lelaki itu menawarkan diri untuk membantu Naela, tapi Naela menolaknya. Setelah tersenyum ramah, lelaki itu keluar.
“Ah, ruangan kerjanya megah sekali.” Gumam Naela takjub.
Salah satu sisi dinding yang menghadap keluar selurunya terdiri atas kaca. View kota Jakarta bisa terlihat dengan jelas.
“Mana fotonya?” ia mendelik ke sana sini.
“Itu dia.” Ternyata tidak sulit. Foto-foto Cyntia ada di atas meja kerja Kian. Semuanya berbingkai frame mungil yang berjumlah 10 buah.
“Seumur hidup aku belum pernah bertemu lelaki yang begitu mengidolakan istrinya sedahsyat ini.” gumam Naela. Ia geleng-geleng. Masih belum percaya.
“Segera ambil semua foto-foto ini, Naela. Antar pada klienmu itu. Dan kamu bisa segera bertemu Kak Shindy.” Katanya pada diri sendiri.
Sesaat kemudian Naela sudah keluar dari ruangan itu. Ia berjalan menyurusi kubikel demi kubikel yang diisi para staf kantor. Semua sibuk di depan komputer. Mengetik. Membalas email. Memandangi kalkulasi yang rumit. Mengerjakan drawing. Sejenis itulah. Beberapa orang menyapanya. Beberapa lagi berseru, ‘Ini Mbak Naela yang pengacara itu, bukan?’
Naela terus berjalan. Kantor ini besar sekali. Sudah lima menit berlalu, ia bahkan belum melihat pintu lift sama sekali.
Apa dia salah jalan? Rasanya tidak.
“Eh, itu tadi yang masuk ke ruang Pak Rais pacarnya bukan?” suara rendah seorang karyawan ini menghentikan langkah Naela. Sepertinya dua karyawan wanita itu sedang lelah bekerja, kemudian ingin sedikit refreshing dengan bergosip di balik kubikel.
“Perasan pacarnya Pak Rais gonta-ganti terus.” Jawab sang teman.
Naela berjalan perlahan mendekati dinding kubikel.
“Tapi yang tadi itu cantik. Tinggi langsing. Rambutnya hitam lurus.”
“Bukannya memang selalu cantik? Kalau nggak cantik dan seksi, Pak Rais mana mau.”
“Selama Pak Kian nggak masuk, dia bisa seenak hati terima perempuan masuk ke ruang kerja. Padahal kalau ada Pak Kian, dia itu patuhnya minta ampun. Dasar penjilat. Pantas saja gampang naik pangkat.”
“Hush. Jangan keras-keras. Kalau ada anak kesayangannya yang dengar, kita bisa tamat.”
Pembicaraan ini mengejutkan Naela. Kenyataan bahwa Rais sering gonta-ganti pacar membuatnya bingung. Bukankah saat di mobil waktu itu, Rais mengaku sudah beristri? Apa dia berselingkuh? Atau berbohong? Tapi apa untungnya dia berbohong?
Naela segera keluar. Ia harus bertemu Kian dan betanya tentang hal ini.
“Untuk apa semua foto ini?” tanya Naela begitu sampai di rumah kliennya. Pagi itu Kian sudah menunggunya di ruang tengah.
“Sepuluh foto ini adalah favoritku. Aku rindu dengan foto-foto ini. Itu saja.” jawab Kian sambil mengangkat satu per satu frame yang tadi diletakkan Naela di atas meja.
“Hanya karena itu?” “Hmm.” Kian mengangguk.
“Kak Naela... Kak Naela dataaang...” Si kecil Cahaya keluar dari dapur. Bibirnya masih belepotan cokelat. Ia langsung berlari untuk memeluk Naela. Ah, anak kecil. Begitu mudah bagi mereka untuk menyayangi seseorang.
“Nur. Kak Naela kangen.” Naela memeluk gadis kecil itu.
Apa tadi? Kian mengerutkan kening. Apa dia salah dengar? Nur? Siapa Nur?
“Tunggu. Tunggu. Maaf aku menganggu acara kangen-kangenan kalian. Tapi siapa itu Nur?”
Cahaya tersenyum lebar. Senang sekali ia melihat wajah bingung Ayahnya. “Ayah, Nur itu panggilan spesial dari Kak Naela untuk Cahaya. Kata Kak Naela, Nur itu artinya Cahaya.”
Kian menengadah. Melihat wajah Naela sekilas. Panggilan spesial? Ada-ada saja. Terselah lah.
“Baiklah. Tidak masalah.” Lelaki itu mengangkat bahu. Kembali sibuk menimang-nimang foto-foto sang mendiang istri.
Dia benar-benar sudah gila. Pikir Naela.
“Kak Naela, ayo ke kamarnya Nur. Di sana ada banyak boneka barbie. Kita main di sana, yuk.” Cahaya menarik-nari tangan Naela.
“Nur ke sana dulu, ya. Masih ada yang perlu Kakak bicarakan dengan Ayah. Nanti Kak Naela nyusul.”
“Oke, deh. Jangan lama-lama ya, Kak.”
Naela mengusap kepala Cahaya sebelum bocah itu berlari riang menuju kamarnya.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” Kian bertanya tanpa melihat.
“Hmm... Apa asistenmu itu sudah menikah?” Naela berhati-hati.
“Asisten? Maksudmu Rais?”
Naela mengangguk.
“Kenapa? Kau tertarik dengannya?”
“Jawab saja, apa dia sudah menikah?”
“Setahuku belum. Kalau kau suka padanya, aku bisa membantumu.” Kian tersenyum menggoda. “Lagipula kau tidak begitu buruk.”
“Terserahlah. Lain waktu kau juga bisa membantuku berkenalan dengan putra presiden.”
Naela beranjak dan berjalan menuju kamar Cahaya. Dalam kepalanya berkemacuk banyak pertanyaan. Ia masih belum paham. Apa tujuan Rais berbohong?
Bruk.
Ah, Naela. Ia terus memikirkan Rais sampai tidak lihat ada sofa di depan. Akibatnya dia kesakitan sendiri ketika kakinya menghantam benda itu.
“Hei, ada apa?!” teriak Kian dari ruang tengah.
“Tidak ada. Aku hanya menabrak sofa. Tapi tenanglah, sofa ini baik-baik saja.” jawabnya.
CHAPTER 15 : Sebuah Fakta yang Ganjil
Siang ini matahari bersinar tak kenal ampun di petala langit. Kota Jakarta seperti mengeluarkan uap. Semakin tinggi matahari, udara kian panas, jalanan bertambah padat, dan bunyi klakson semakin kerap terdengar. Bagi yang tidak terbiasa dengan suasana seperti ini, hidup di ibu kota adalah mimpi buruk.
Usai shalat Zuhur di kamar Nur, Naela segera melangkahkan kaki keluar. Ia akan mengantar buku panduan shalat untuk Shindy, kemudian berencana mampir ke rumah sakit. Setelah motor beat warna putih yang ia kendarai masuk ke badan jalan, Naela bisa merasakan keringat yang mengalir dari pelipisnya.
Di kantor polisi, Naela hanya singgah beberapa belas menit saja. Shindy sudah tidak seangkuh dulu lagi. Sebaliknya, ia terlihat berseri-seri begitu tahu yang datang adalah Naela.
“Kak Shindy bisa baca latinnya saja. Kalau belum hapal, Kakak boleh sambil baca. Islam itu tidak pernah memberatkan penganutnya. Yang penting niat Kakak sungguh-sungguh mau beribadah.” Ucap Naela sebelum pulang.
“Terimakasih ya, Nae. Kakak minta maaf untuk waktu itu.”
“Waktu itu?”
“Saat pertama kali kamu datang ke rumah. Jujur, waktu itu Kakak hanya tidak mau Kian dekat dengan wanita yang salah lagi. Kakak berniat ingin mencarikan pengacara laki-laki untuknya. Tapi sekarang Kakak tahu, kamu bukan wanita seperti itu.”
“Iya Naela paham.” Naela diam sejenak. “Hmm, Kak. Apa di hari kematian Cyntia, Kakak bertengkar dengannya?”
“Iya.” Shindy membenarkan. “Sekitar pukul dua siang. Dari sekolah Junior, Kakak pulang sebentar untuk mengambil peralatan gambar. Hari itu Junior akan ikut lomba di Museum Nasional. Tapi begitu sampai rumah, Kakak melihat Cyntia muntah-muntah di halaman belakang. Dia seperti sedang hamil muda. Tapi ketika Kakak datangi dan bertanya, ia justru marah-marah. Kakak tidak terima dong dimarahi seperti itu. Akhirnya kami bertengkar lagi.”
“Oh, begitu.” Naela mengangguk. “Hmm, baiklah Naela tidak bisa lama-lama di sini. Dan ini untuk Kakak.” Naela menyodorkan satu kotak pink bermotif petak-petak yang sejak tadi duduk di samping tas.
“Apa ini, Nae?” Shindy membuka kotak itu. “Wah macaroon. Ini kue kesukaan Kakak. Dari mana kamu tahu?”
“Dari Nur.”
“Nur?”
Naela tergagap, kemudian tertawa kecil. “Maksudnya Cahaya. Tadi dia makan macaroon lahap sekali sambil cerita kalau Tante Shindy-nya paling suka macaroon.”
“Terimakasih ya, Nae. Terimakasih kamu sudi memperhatikan Kakak.”
Keluar dari gedung kepolisian, Naela segera meluncur ke rumah sakit Kasih Bunda. Naela tidak mau bergerak lambat. Ia juga tidak mau tetap penasaran sepanjang hari. Entahlah, Naela merasa kebohongan Rais adalah sesuatu yang ganjil. Untuk apa mengaku sudah beristri, jika pada kenyataannya dia seorang lajang? Bukankah hal yang kerap terjadi justru sebaliknya, yaitu para lelaki yang sudah beristri tapi mengaku lajang.
Syukurnya waktu itu Naela sempat membaca nama rumah sakit yang tercantum di amplop. Syukur yang kedua, Naela masih ingat nama rumah sakit tersebut.
“Maaf, Mbak. Sepertinya lelaki ini tidak pernah mendatangi dokter spesialis kandungan di rumah sakit ini.” jawab seorang petugas yang berjaga di depan. Tentu setelah ia melihat foto Rais di layar ponsel Naela. Tidak sulit menemukan foto lelaki itu. Ia sering menemani Kian di banyak acara, dan cukup banyak website berita yang sudah meliput mereka.
“Hmm... kalau diperbolehkan, saya ingin melihat daftar pasien untuk spesialis kandungan. Hmm, paling tidak untuk dua minggu hingga satu minggu lalu.”
“Baik. Mbak bisa lihat di sini.” Wanita berseragam putih itu mengeluarkan dua buah map.
Ada ratusan nama wanita di sana. Tentu saja, karena ini rumah sakit ternama. Naela menyusuri satu per satu dan tak ada satu pun yang mencurigakan.
Tapi, tunggu!
Nama seorang wanita di urutan ke-68 membuat jantungnya seolah berhenti.
Cyntia Kurnia Putri.
Ini persis dengan nama lengkap milik Cyntia, mendiang istri Kian.
“Mbak. Ini Cyntia? Cyntia istri pengusaha properti itu, bukan? Yang meninggal sekitar dua minggu lalu?” tanya Naela gugup.
“Oh, Mbak Cyntia. Ia, Mbak. Dia sudah sering ke sini. Sejak mengandung anak pertama, dia sudah jadi pelanggan di sini. Sayang sekali, hidupnya berakhir menyedihkan.”
“Dia hamil? Di sini tertulis kalau dia datang ke mari dua minggu lalu? Dia datang kemari pukul 10 pagi, persis di hari kematiannya.” Naela tidak percaya.
Petugas itu mengangguk, sekaligus heran dengan sikap aneh Naela. “Dia memang hamil anak kedua. Kalau Mbak ingin tahu lebih detail, bisa kok bertemu langsung dengan dokter spesialis yang menangani. Tapi hari ini dokter itu sedang tidak ada jadwal. Besok Mbak datang lagi saja jam delapan pagi.”
“Baik. Terimakasih.”
Naela berjalan menuju pintu keluar. Kepalanya berdentum-dentum.
Apa Kian sudah tahu? Dan hasil USG di mobil Rais, apa benar itu milik Cyntia atau milik wanita lain yang namanya ada di antara deretan daftar tadi? Setidaknya kini Naela punya amanusi baru untuk membuat Rais mengakui sesuatu.
CHAPTER 16 : Sedikit tentang Nayirah
“Di hari kematian Cyntia, kamu sungguh-sungguh tidak melihat ada orang lain yang masuk ke rumah? Maksudku selain Shindy pada jam dua.” Tanya Naela pada Bams.
Security muda itu sedang duduk menonton televisi di pos jaga ketika Naela datang. Dan sekarang, ia memandangi Naela dengan wajah gelagapan. Tidak begitu ketara, tapi Naela bisa mendeteksinya.
Bams tidak seketika menjawab. Ada keterkejutan yang tergambar jelas di wajah pemuda itu begitu pertanyaan Naela selesai diucapkan. Dua detik lamanya ia diam tanpa tahu harus menjawab bagaimana.
“Sungguh, Mbak. Hanya Nyonya Shindy yang masuk. Dia keluar rumah setengah jam kemudian.” Jawab Bams akhirnya. Ia tidak berani menatap Naela.
“Kamu tidak bohong kan?”
“Mbak Naela.” Keluh Bams. “Aku sudah bilang yang sebenarnya.”
“Dan kamu akan bersaksi di pengadilan nanti? Mengatakan pada semua orang kalau Shindy lah pembunuh Cyntia?”
“Lalu masalahnya?” Bams bertanya penuh percaya diri. “Sebatas mengatakan apa yang kulihat, tidak ada yang salah, kan?”
Naela mendengus. “Kamu tahu akibat jika semua itu bohong?” tanya Naela tanpa berniat menakut-nakuti. “Kamu tahu kisah Nayirah dan hubungannya dengan perang Teluk I?”
Dada Bams bergetar. Tak bisa memungkiri, rasa takut menyusup perlahan begitu mendengar pertanyaan yang terkesan memojokkan dirinya.
Tanpa perlu menunggu jawaban Bams, Naela langsung saja bercerita. “Tidak perlu kita bicarakan saat ini sebab musabab perang Teluk secara runut. Secara garis besar Mbak akan ceritakan. Pada tahun 1990 terjadi invasi Irak terhadap Kuwait. Sebab Kuwait punya minyak berlimpah, dan Irak menuduh Kuwait telah mencuri minyak mereka.
Karena Kuwait hanya negara kecil, sementara Irak punya kekuatan militer besar, akhirnya terjadi penyerangan Irak terhadap Kuwait. Kuwait kelabakan. Mereka kemudian minta bantuan Amerika Serikat. Agar publik yakin bahwa Irak pantas diperangi Amerika, dihadirkan seorang remaja belasan tahun bernama Nayirah yang kemudian bercerita tentang kekejaman tentara Irak di rumah sakit Kuwait.
Dalam kesaksiannya, Nayirah mengaku pernah melihat tentara Irak memindahkan ratusan bayi Kuwait dari inkubator dan membiarkan mereka mati di lantai-lantai rumah sakit. Presiden George Bush mengutip cerita tentang inkubator itu enam kali dalam pidatonya. Tujuh senator mengutip cerita itu sebagai alasan untuk pemungutan suara demi memberi Bush kekuasaan atas Perang Teluk.
Kekejaman tentara Irak di Kuwait disamakan dengan kekajaman Nazi.
Akhirnya cerita Nayirah dipercayai publik dan Amerika diperbolehkan untuk ikut berperang. Wajah sedih dan isak tangis Nayirah ternyata mampu menarik perhatian seluruh penjuru dunia. Lalu pecahlah perang Teluk, perang besar antara pasukan koalisi Amerika yang dipimpin Bush dan pasukan Irak di bawah pimpinan Sadam Hussein. Kita tidak tahu apa maksud Amerika saat itu, entah benar-benar ingin membantu Kuwait atau karena ada politik lain. Kamu tahu apa yang salah dari kisah yang baru saja teteh ceritakan?”
“Sekilas sih tidak ada yang salah. Wajar dong Mbak hal seperti itu, penjajah memang harus diusir dan diperangi.” Jawab Bams lugas. Dalam hati ia begitu bangga dengan jawabannya barusan.
“Wajar, ya? Tapi bagaimana kalau kesaksian Nayirah, gadis 15 tahun itu, hanyalah bohong belaka? Percaya atau tidak, setelah kemerdekaan Kuwait, publik mengetahui bahwa Nayirah adalah putri Duta Besar Kuwait untuk Amerika. Ia bahkan dilatih akting untuk kesaksian tersebut agar mampu menyakinkan publik. Bahkan menurut para dokter di rumah sakit Kuwait selama penjajahan Irak, cerita kesaksian Nayirah hanya dusta.” Naela mengambil napas, lalu mengembuskannya pelan.
“Sekarang kamu jangan memikirkan soal siapa yang benar dan yang salah dalam perang itu, atau politik macam apa yang melatar belakangi. Kalau memang ingin tahu silakan cari sendiri di internet, yang ingin Mbak tekankan adalah tentang betapa bahayanya sebuah kesaksian palsu. Seperti kisah Nayirah tadi, hanya dengan akting dan sedikit air matanya, sebuah kesaksian palsu mampu menciptakan perang besar yang menggadaikan banyak nyawa, dan tentunya banyak orang tak berdosa ikut menjadi korban. Dalam sebuah hadis disebutkan, ‘Maukah aku kabarkan kepada kalian sebesar-besarnya dosa besar? Itulah syirik, durhaka kepada kedua orang tua, dan memberi kesaksian palsu.’” Mata Naela menatap Bams dengan tatapan tegas.
Masih tidak bisa merespon apa-apa, Bams mengambil satu gelas air putih dari dispenser lalu meminumnya tergesa- gesa. Kemudian ia menunduk, matanya tertuju lurus pada meja dan tak berkedip selama satu menit.
“Sekarang Mbak Naela sudah selesai ngomong?” tanya Bams akhirnya dengan padangan khusyuk ke wajah Naela.
Mulut Naela terbuka sedikit karena tidak habis pikir. Setelah sepanjang itu uraian yang ia ucapkan, pertanyaan semacam inikah yang mampu dikeluarkan pemuda di depannya ini? Tidak adakah yang lebih baik?
“Mbak Naela, kesannya Mbak itu menyindir aku. Seolah-olah aku ini seorang saksi palsu. Aku hidup keras sejak kecil, Mbak. Karena itu semua, jangankan untuk beribadah, mengenal Tuhan aja aku tak sempat. Dia memberikan hidup yang tak adil untukku, lalu apa gunanya aku menyembah? Jadi kumohon sama Mbak Naela, tidak usah bawa-bawa cerita sejarah dan hadist untukku, tidak ada getarannya sama sekali. Sia-sia!
Apalagi hanya dengan sekali duduk seperti ini. Kuberi tahu Mbak, jaman sekarang orang-orang atas sudah mengajarkan bahwa uang dan kekuasaan yang akan menang, salah satunya dari cerita Mbak tadi, pasti ada faktor uang di balik semua itu. Kita sebagai rakyat kecil ini tinggal tiru saja apa susahnya? Kalau Mbak begini terus, aku tidak jamin umur Mbak bisa sampai angka 40.”
Bams berdiri. Dibantingnya gelas ke atas meja. Ia masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Naela sendiri.
Pengacara itu beristighfar. Ludahnya terasa pahit. Tidak bisa dipungkiri, ucapan Bams tadi terasa seperti tusukan belati dalam hatinya. Bahkan perihnya masih belum hilang. Sebagai manusia biasa, ia tak mungkin bohong kalau ada rasa cemas dalam hatinya. Mengingat nasehat Pak Jamal, Umi Dian, dan ancaman Bams barusan, rasa takut terasa semakin menghantui. Kembali Naela beristighfar untuk menenangkan diri.
CHAPTER 17 : Cerita Rais
Rais tidak masuk kantor hari ini. Sekretarisnya bilang, laki-laki itu demam tinggi sehingga tidak memungkinkan untuk berangkat kerja. Naela tidak mau menunggu sampai hari esok datang. Ia harus menemui Rais. Pagi ini juga.
Berbekal alamat rumah yang didapat dari kantor, Naela melajukan motornya menuju salah satu bangunan apartemen mewah di kawasan Ciputra World, Jakarta Selatan.
“Naela?” tanya Rais dari balik pintu yang baru terbuka beberapa senti.
“Ada yang ingin saya bicarakan.” Ucap Naela lugas. Ia bahkan tidak bisa tersenyum.
Laki-laki yang wajahnya terlihat pucat itu seperti berpikir sejenak. Ia ragu, tapi tidak ada pilihan lain.
“Aku sungguh-sungguh tidak bisa keluar.” Rais coba membuat alasan.
“Kau memang terlihat sakit. Buka saja pintunya. Kita bicara di dalam.”
Rais menatap Naela, seperti menyelidiki sesuatu.
“Baiklah.”
Apartemen mewah itu sepi. Semakin meyakinkan Naela kalau lelaki ini sama sekali tidak punya istri. Naela berjalan menuju sofa sambil matanya menyapu seluruh ruangan.
“Duduklah.” Rais menghempaskan tubuh ke sofa. Sepertinya ia sungguhan sakit. Bisa dilihat dari matanya yang cekung, bibir pucat, dan tubuh lemah. Ia memijit kepalanya sambil menanti Naela bicara.
“Mana istrimu?”
Rais kembali menatap Naela. Pandangan itu sulit diterjemahkan. Sesaat kemudian ia menunduk, berekspresi seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Dia pulang ke rumah orang tuanya.”
“Sejak kapan?”
“Sejak pertengkaran di mobil hari itu.” Jawab Rais malas.
“Kau tidak menyusulnya?”
Rais memandang Naela, “Kau datang kemari hanya untuk bertanya seputar rumah tanggaku? Ini konyol.” Ia tersenyum kecut. Tidak senang. Terganggu. Sangat berbeda dengan Rais yang sebelumnya pernah bicara dengan Naela. Jika dulu ia terlihat ramah dan murah senyum, sekarang sama sekali telah lenyap. Laki-laki ini tampak angker, dingin, dan tidak memikirkan orang lain. Mendadak Naela menyesal karena datang seorang diri.
“Kau belum menikah, Rais. Jangan berbohong lagi.” Ucap Naela dengan pandangan tajam. Ada penekanan dalam suaranya, meskipun dalam hati ia sedikit gemetar.
Laki-laki itu terperanjat. Bibirnya terbuka.
“Dan tentang foto hasil USG di mobilmu. Itu milik Cyntia, bukan? Kau menikam sahabat sekaligus bosmu sendiri. Diam-diam kau dan Cyntia menjalin hubungan gelap sampai wanita itu hamil. Katakan, apa aku benar?!” Kali ini wajah Naela berubah marah. Sebenarnya ia masih belum yakin dengan apa yang dikatakan. Ia masih menduga- menduga. Tapi berdasarkan pengalamannya menjadi pengacara, trik seperti ini selalu berhasil membuat orang mengaku.
Rais masih belum bisa bicara. Tapi entah kenapa, mendadak ia tertawa.
“Ternyata kau tahu banyak, Naela. Aku tidak menyangka wanita sepertimu bisa menyelidiki sejauh ini. Harus kuakui, kau tidak bisa diremehkan.”
“Jadi itu benar?” Mata Naela membulat. Keterkejutannya cukup disimpan di dalam hati.
“Begitulah.” Rais mengangkat bahu. “Kau ingin aku menceritakan semuanya dari awal? Mungkin kisah ini membuatmu begitu tertarik.”
Naela memandang laki-laki di depannya dengan jijik. Juga benci. Marah. Semuanya jadi satu.
“Apa Kian pernah cerita padamu, apa yang ia lakukan setelah pulang dari koferensi di Konpenhagen delapan tahun lalu?”
“Kian menyuruhmu menemukan Cyntia.”
“Benar. Daya ingatmu cukup bagus. Aku hanya menuruti permintaan bosku itu. Tapi sayang, pada dasarnya cinta Kian sama sekali tidak berbalas. Cyntia tidak pernah punya perasaan sedikit pun padanya. Karena itu pula aku harus mengatur siasat. Aku mendekati Cyntia secara pribadi, dan ternyata hal itu berhasil. Cyntia jatuh cinta padaku. Ia bahkan sering bertanya, kapan aku akan melamarnya?
Hanya saja bagiku, menikah dengan Cyntia adalah sesuatu yang tidak mungkin. Apa yang akan dilakukan Kian padaku? Dia pasti akan memecatku saat itu juga. Karena itulah aku mengatur siasat yang kedua. Kuminta agar Cyntia pura-pura jatuh cinta pada Kian. Ketika Kian melamarnya, aku pun membujuk Cyntia untuk menerima. Dia bisa hidup berkecukupan, sementara aku juga tidak kehilangan jabatan. Justru berkat keberhasilanku menemukan Cyntia, Kian langsung mengangkatku dari manajer manufacturing menjadi general manajer sekaligus asisten pribadinya. Aku adalah sahabat, sekaligus orang kepercayaan Kian.
Kupikir setelah pernikahan, Cyntia akan hidup berbahagia. Tapi ternyata, pernikahan tidak pernah memperbaiki apapun. Diam-diam Cyntia menemuiku, dan aku sama sekali tidak bisa menolak. Dia wanita cantik, penuh kejutan, dan sangat romantis. Hubungan gelap itu terus berlanjut, bahkan setelah ia melahirkan anak pertama.
Tapi dua minggu lalu, di tengah masalah pekerjaan yang menumpuk, Cyntia mengajakku bertemu. Ia minta dijemput di rumah sakit, dan aku menurutinya. Kau tahu apa yang dia katakan?
Cyntia hamil. Dan ia bilang, itu anakku. Dia benar- benar sudah tidak tahan berpura-pura mencintai Kian. Ia ingin aku membuat keputusan. Jika aku bersedia menikahinya, maka dia akan segera minta cerai.
Tentu saja aku menolak. Lagipula dari mana dia bisa tahu kalau aku adalah ayah dari bayi yang ia kandung? Kami memang sering berhubungan, tapi pasti ia juga sering melakukannya bersama Kian.
Cyntia menangis dan berlari masuk ke rumah. Itu sekitar pukul satu siang. Lalu pukul 14.30, Cyntia kembali menelepon dan meminta agar aku datang. Aku berhasil masuk ke kamarnya tanpa seorang pun melihat. Di dalam sana dia kembali memaksaku untuk mengakhiri semua sandiwara ini. Dia bilang, andai aku tidak mau juga berkata jujur pada Kian, maka dialah yang akan membocorkan hubungan gelap kami.
Itu mimpi buruk. Karir dan perjuanganku selama ini akan sia-sia jika itu terjadi. Pertengkaran itu semakin dahsyat. Cyntia benar-benar membuatku kehilangan kesabaran. Bahkan ia mencoba berteriak. Tidak ada jalan lain selain mengikat lehernya hingga diam.”
Rais bercerita tanpa ada wajah menyesal sedikit pun. Justru ia terlihat santai, seolah sedang menceritakan sebuah drama yang baru saja ia tonton.
“Kau tidak ingin berkomentar apapun?” tanyanya melihat Naela yang diam.
Naela masih belum mampu bicara. Bibirnya seperti terkunci. Ia tidak pernah menyangka bahwa lelaki yang dulu menyambut dengan ramah adalah pelaku kejahatannya.
Hati Naela terasa nyilu. Kenapa di dunia ini banyak peristiwa yang terjadi di luar dugaan? Benar sekali apa yang tertulis dalam buku-buku, bahwa seorang manusia tidak bisa dikatakan memahami manusia lain sebelum benar-benar menyelami kehidupannya.
Mariam. Datanglah ke apartemen Lily Garden lantai 9 nomor 126. Segera. Aku tidak tahu apa yang akan segera terjadi. Datanglah bersama polisi.
Terkirim.
Pesan itu sudah Naela ketik sebelum mengetuk pintu Rais. Ia tinggal menekan send button saat ingin mengirimkannya.
Rais tersenyum melihat Naela yang berubah ketakutan. Jari-jari wanita itu yang menggenggam ponsel terlihat bergetar. Beruntung, Rais sama sekali tidak menduga Naela telah berhasil mengirim pesan pada seseorang.
“Kau takut, Ibu Pengacara?” Ia menggoda. Berjalan menuju kulkas, mengambil segelas air dingin, kemudian meletakkan tepat di depan Naela.
“Minumlah. Supaya kau lebih rileks.” Rais kembali tersenyum. Ia berjalan ke arah pintu dan menguncinya.
“Kenapa dikunci?” Spontan Naela berdiri. Wajahnya bingung. “Aku akan segera pulang.” Ia memungut tas. Kini keringat mulai membasahi kening, pelipis, dan telapak tangannya.
“Tenanglah. Kau akan pulang. Tapi tidak sekarang. Tenang saja. Duduklah dulu.”
Wajah takut Naela semakin tampak jelas. Bagaimana tidak takut, sekarang ia tahu betapa kejam lelaki yang sedang dihadapinya ini. Rais bisa dengan mudah menghabisi kehidupan Cyntia, tentu bukan hal sulit jika ia melakukan hal yang sama sekali lagi.
“Kau terlalu ingin tahu dan itu tidak baik, Naela.” Rais duduk dengan nyaman.
“Sekarang apa yang kau inginkan dariku?”
“Rileks... Tenanglah. Kenapa terburu-buru?”
Mata Naela mulai terasa pedih. Ia rasa sebentar lagi akan ada air yang tumpah dari sana.
“Kau ingin menangis? Matamu berkaca-kaca.” Rais tersenyum lebar.
“Duduklah. Aku ingin kau mendengarkan sebuah cerita.”
“Biarkan aku pulang.” Naela berdiri.
“Kubilang, duduklah dengan tenang!!!” Rais menggertak.
Jantung Naela berdetak lima kali lebih cepat. Tubuhnya bergetar. Belum pernah sekali pun ia dibentak sekeras ini.
Naela menurut.
“Sekarang minumlah!”
“Aku tidak mau!”
Wanita itu menolak? Berani sekali. Rais paling benci apabila perintahnya tidak dituruti. Ia bangkit, meraih gelas, kemudian mencengkeram kedua pipi Naela agar wanita itu membuka mulut.
“Sekarang, minumlah! Minum!!!”
“Tidak!” Suara Naela tidak lagi terdengar jelas. Ia coba menarik tubuhnya, tapi tidak berhasil.
“Apa susahnya?!! Aku hanya memintamu untuk minum, bukan membuka pakaian!!! Minum! Cepat minum!!!” Rais menuangkan air dari gelas itu ke mulut Naela.
Sebagian masuk ke dalam perut Naela, sebagian lagi tumpah. Wanita itu batuk-batuk. Bahkan banyak air yang masuk ke hidungnya.
“Air apa itu? Kau meracuniku?” Naela mendekap dadanya. Mendadak ia merasakan sakit. Seperti ada yang menarik-narik jantungnya. Ia juga sesak. Kesulitan bernapas.
Sekarang kenapa semua berubah gelap? Pusing. Naela merasakan pusing. Ruangan ini bergoyang. Berputar. Ia seperti duduk dalam sebuah rell coaster paling gila di muka bumi ini. Sekarang semuanya kabur. Ia melihat ribuan cahaya yang berjalan cepat, berputar, mengelilingi dirinya. Lalu wajah Rais menyeruak dari cahaya itu. Menyeringai.
“Itu hanya sedikit obat penenang. Beristirahatlah sampai aku membersihkan ponselmu.”
“Jangan ambil ponselku!” Naela terhuyung. Tangannya menggapai-gapai. Tapi ia tidak punya cukup tenaga untuk merebut ponsel yang kini ada di tangan Rais.
Lupakan ponsel itu, Naela. Keselamatanmu lebih penting. Lelaki ini bukan lelaki biasa. Dia pernah membunuh dengan begitu mudah. Tanpa penyesalan. Itu artinya dia bisa melakukan hal yang sama pada orang lain, termasuk dirimu sendiri.
Baiklah. Ponsel tidak penting untuk sekarang. Dia harus keluar. Sebisa mungkin harus keluar. Naela coba mempertajam penglihatan. Matanya dipaksa agar terbuka lebih lebar. Tapi tidak berhasil banyak. Setidaknya Naela bisa melihat pintu keluar. Itu di sana. Samar-samar. Bergoyang ke kiri dan ke kanan. Ia berjalan. Mencoba melangkah.
Untuk sementara Rais tidak perlu memperhatikan Naela. Ia bahkan tidak yakin wanita pengacara itu bisa berjalan sampai ke pintu. Tanpa buang waktu, Rais segera mengecek ponsel Naela. Pertama-tama ia membuka file perekam suara, kemudian memutar rekaman paling akhir di sana.
Benar. Semua pengakuannya tadi terekam dengan sempurna.
“Wanita ini.” Rais menggelengkan kepala. “Kau pikir aku tidak tahu.” Rekaman itu segera ia hapus.
Bip. Sebuah pesan masuk. Rais membukanya.
Naela? Ada apa, Nae? Kau baik- baik saja? Aku akan segera datang. Sekarang aku sedang menuju ke sana. Lima belas menit lagi. Percayalah aku akan tiba lima belas menit lagi.
Dada laki-laki itu berdetak. Ini benar-benar di luar dugaan. Ia tidak mengira Naela sempat mengirim pesan. Bahkan memberi tahu di mana posisinya saat ini. Lebih parah, polisi juga akan datang.
Rais melirik jam tangan. Sial. Waktunya tinggal sedikit lagi.
“Sepertinya kau memilih takdirmu sendiri.” Laki-laki itu mulai panik. Ia bangkit dari duduk dan mengejar Naela.
“Lepaskan. Lepaskan aku.” Naela menggapai-gapai. Kepalanya kian berat seolah ada satu bongkah batu di atasnya.
“Diamlah! Tidurlah dengan tenang dan aku akan bereskan semua kekacauan yang telah kau buat!!!” Ia membekap mulut Naela hingga wanita itu tidak sadarkan diri.
Rais membopong Naela lalu menidurkan wanita itu di atas sofa. Setelah itu ia segera mengambil baskom, air dingin, dan kain kecil. Benda itu ia letakkan begitu saja di atas meja. Selanjutnya ia duduk dan sedikit berakting cemas.
Tepat 15 menit kemudian, Mariam muncul di ambang mintu.
“Naela! Di mana Naela?!” Wanita muda dan stylish itu bertanya dengan napas tidak teratur. Matanya berkeliaran. Ia langsung menerobos masuk saat matanya menangkap tubuh Naela yang terbaring lemas.
Dua orang polisi di depan pintu ikut masuk. Menyelidik.
“Kalian semua pasti sudah tahu, wanita ini adalah pengacara Kian. Dan aku adalah asisten pribadinya. Ia datang kemari untuk bertanya banyak hal tentang Kian padaku. Tapi ternyata ia sedang tidak sehat. Ketika kami tengah berbincang, tiba-tiba dia pingsan. Aku sudah coba menurunkan panasnya dengan kompres, dan baru saja akan membawa ke rumah sakit saat kalian datang.” Jelas Rais dengan wajah tidak dibuat-buat.
“Nae. Bangun, Nae! Astaga Naela, bangunlah!” Mariam sibuk menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya, lalu menepuk pipinya. Tidak ada tanda-tanda Naela akan segera sadar.
“Apa yang sudah kau lakukan?!!” Bentak Mariam. Ia berdiri. Matanya yang berapi-api itu menatap tajam pada Rais.
“Apa yang kulakukan? Sudah kukatakan, aku akan membawanya ke rumah sakit. Dia sedang tidak sehat. Dan sekarang kalau kalian terus berdiam diri, keadaan wanita ini akan semakin parah! Mungkin dia kekurangan istirahat.” Rais menunjuk Naela. “Sebaiknya segera bawa dia ke rumah sakit.”
“Kau jangan berbohong! Naela tidak mungkin memintaku segera datang ke tempat ini tanpa alasan apapun!”
“Mungkin dia merasa sedang tidak enak badan. Karena itu menyuruhmu datang.”
“Tidak mungkin! Naela menyuruhku datang bersama polisi. Tidak mungkin tidak terjadi apapun! Kau berbohong! Apa yang sudah kau lakukan padanya?!!” Suara Mariam semakin tinggi. “Pak, periksa ruangan ini! Saya yakin lelaki ini menyembunyikan sesuatu.” Perintahnya pada dua orang polisi yang sejak tadi hanya berdiri mengawasi.
“Silakan periksa. Aku sudah menjelaskan yang sebenarnya.” Rais mengangkat bahu kemudian duduk santai di sofa. Apakah semua lelaki kaya dan punya reputasi selalu senang bertingkah seperti ini?
Dua orang polisi itu memencar. Masing-masing mereka meneliti seluruh ruangan hingga ke sudut-sudutnya. Tak ada apapun yang bisa dicurigai. Semua tampak normal. Isi apartemen ini tidak jauh berbeda dengan yang lain.
“Maaf Pak Rais, sepertinya kami menerima laporan yang salah. Silakan kembali beristirahat. Kami akan segera pergi dan membawa Mbak Naela.” Salah satu polisi berkata.
Mata Mariam melotot. Ia masih belum percaya. Ini tidak wajar. Naela tidak mungkin mengiriminya pesan hanya karena sahabatnya itu sakit.
“Ayo, Mbak Mariam. Tidak baik kalau Mbak Naela dibiarkan seperti itu.”
“Heh, kamu! Kali ini mungkin kamu bisa lolos! Tapi ingat, ini tidak akan lama!” Ancam Mariam pada Rais.
Rais tersenyum tipis. “Jangan lupa bawa juga ponsel sahabatmu ini.”
CHAPTER 18 : Berhenti
Kamar rumah sakit berukuran 5 x 5 meter itu senyap. Tiga jam sudah berlalu dan Naela masih belum terbangun. Mariam menunggu sambil asik main instagram. Fatih tertidur di sofa. Sedangkan Bu Dian duduk di samping ranjang.
“Umi istirahat saja dulu. Kan dokter sudah bilang kalau kita tidak perlu khawatir pada Naela. Dia hanya sakit kepala biasa.” Mariam mendekat pada Umi Dian yang sejak tadi terus berzikir di samping putrinya.
“Tapi Naela itu nggak pernah sakit kepala sampai pingsan begini, Mariam.”
Ya, Mariam juga tahu itu. Selama dua tahun ia bersahabat dengan Naela, tak pernah sekali pun sahabatnya itu mengeluh sakit kepala. Tidak, naela tidak sakit kepala. Mariam percaya itu. Tapi untuk sekarang ia harus menenangkan Umi Dian.
“Umi, biar Mariam saja yang jagain Naela. Lagipula Mariam juga belum mau tidur. Masih banyak nih tawaran endorse yang harus diteliti dulu. Kan Umi tahu, Mariam itu nggak mau sembarang endorse. Harus terjamin kualitasnya.”
Bu Dian mencubit lengan Mariam kemudian berjalan ke sofa. Ia duduk di sana sambil membelai rambut Fatih yang tertidur pulas.
***
Pertama-tama Naela merasa seperti menemukan ruhnya, lalu ingin berusaha membuka mata. Berat. Seperti ada perekat yang menyatukan kelopak matanya. Ia coba lagi. Kini matanya berhasil terbuka sedikit. Ia melihat langit-langit berwarna putih, lalu botol infus. Matanya berputar. Seorang gadis di sampingnya tengah menunduk, bermain ponsel. Bahkan gadis itu tidak sadar kalau orang yang ditungguinya sudah bangun. Di sana, sedikit lebih jauh, Naela melihat Sang Ibu dan seorang bocah lelaki tengah tertidur. Hatinya lega. Bersyukur karena ia sudah berada di tengah orang-orang yang dicintai.
“Mar. Mariam.” Panggilnya hampir tidak terdengar. Naela merasakan suaranya tertahan di kerongkongan.
Naela sudah bangun? Oh, sungguh? Tapi kenapa ia bisa tidak tahu? Mungkin Naela sedang mengigau.
Masih kaget, spontan mata Mariam tertuju ke wajah Naela.
Tidak. Naela sama sekali tidak mengigau. Sahabatnya itu memang sudah bangun sekarang.
Mariam tersenyum lebar dan segera membangunkan Umi Dian.
“Dimana ponselku?” Suara Naela belum sempurna terdengar, tapi Mariam bisa menangkap maksudnya.
“Serius kau, Nae? Bangun dari tidur panjang langsung bertanya ponsel?” ucap Mariam sombong sambil mencari- cari ponsel Naela yang tadi ia masukkan ke dalam tas. “Ini. Biar aku saja yang buka. Memangnya ada apa? Di sini cuma ada 18 panggilan tak terjawab, 21 pesan masuk, dan 36 email.”
“Buka file perekam suara yang paling akhir.”
Sahabatnya itu menurut. Beberapa detik kemudian terdengar rekaman seorang anak laki-laki yang sedang bercerita.
“Ini yang kau maksud? Ini kan suaranya Fatih yang lagi ngoceh. Penting banget, ya?”
Wajah Naela berubah kecewa.
“Sudah kusangka dia telah menghapus rekaman itu.” “Dia siapa? Rais?” Naela diam dan ini sudah cukup sebagai jawaban untuk pertanyaan Mariam.
“Nae, sudahlah jangan memikirkan pekerjaan dulu. Kamu istirahat lagi saja. Kalau sedang ngurusin sesuatu jangan ngoyo.” Umi Dian yang cemas melihat kondisi Naela berkata dengan sedikit memarahi. Khas seorang ibu.
“Mi, Naela ini tidak sakit. Jam berapa sekarang?”
“Sepuluh malam.” Jawab Mariam cepat. Kekesalan di wajah Naela semakin menjadi-jadi.
“Tuh kan, Mi. Artinya Naela sudah tidur sepanjang hari ini. Sekarang Naela mau shalat saja.”
“Umi ambil air, ya? Kamu wudhunya di sini saja.”
“Tidak usah, Mi. Naela ini tidak sakit.” Ucapnya sekali lagi untuk meyakinkan Umi Dian.
“Tidak sakit kok sampai pingsan. Kamu itu kalau sakit bilang ke Umi, jangan dipaksa kerja.”
“Sebenarnya Naela itu tidur panjang akibat minum obat penenang.” Naela memberi tahu.
“Apa? Obat penenang? Bagaimana ceritanya, Nae?”
Selama sepuluh menit ke depan Naela menceritakan semua yang telah terjadi di apartemen Rais. Ia juga menceritakan pengakuan Rais. Dua wanita di sampingnya membuka mulut tidak percaya.
***
Keesokan hari, pagi-pagi sekali Naela sudah diperbolehkan pulang. Sepanjang siang Umi Dian memintanya agar beristirahat saja di kamar, tapi Naela hanya menurut dengan tidur selama dua jam. Setelah Zuhur ia tidak bisa lagi ditahan untuk tetap di rumah. Naela ngotot ingin keluar.
“Nae, inilah salah satu sifat kamu yang paling Umi tidak suka. Kamu itu terlalu memaksakan diri. Kalau Umi bilang istirahat, ya istirahat. Kesehatan kamu itu belum pulih benar.” Umi Dian sedikit marah melihat Naela yang tetap nekat memasang sepatu.
“Naela itu tidak sakit, Umi. Kemaren Naela tidur panjang karena pengaruh obat. Sekarang Naela segar bugar. Kalau sekarang Naela tidak keluar dan bertemu Kian, Naela tidak akan punya waktu lagi. Lusa sudah sidang, Umi. Naela harus cepat.”
Umi mengembuskan napas. “Kalau begitu kamu hati-hati, ya. Jangan bawa motor sendiri. Pakai ojek mobil aja.”
“Baik, Mi. Naela pergi dulu. Assalamualaikum.” “Waalaikumussalam.” Naela menyalami ibunya, kemudian bergegas berangkat.
***
Laki-laki itu duduk di sebuah cafe sambil sesekali melirik jam tangan. Di depannya duduk manis secangkir kopi luwak asli yang menjadi ikon favorit cafe ini. Meskipun harus membayar mahal untuk minuman itu, ia sama sekali bukan masalah.
“Maaf, Kian. Aku terlambat 15 menit. Jalanan macet total. Maaf.” Naela yang baru saja masuk langsung mengambil posisi duduk di hadapan lelaki itu. Napasnya masih belum teratur. Sambil memanggil satu orang pelayan dengan lambaian tangan, ia menyeka keringat di kening.
“Aku pesan es teh manis saja.” ucap Naela cepat pada pelayan yang sudah menunggu dengan pulpen dan kertas.
Kian yang sejak tadi masih diam memperhatikan, sedikit tersenyum geli. Ia tidak percaya Naela akan memesan minuman—yang ia anggap sebagai—minuman kampung di cafe mewah seperti ini.
“Apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya lelaki itu.
“Aku berhenti jadi pengacaramu.” Ucap Naela lugas. Tidak main-main.
Kian mengernyit. Ini sebuah kejutan yang benar-benar mendadak.
“Kau menyerah?” alisnya mengernyit.
Naela menggeleng, “Tidak, Kian. Aku sudah tahu siapa pembunuh Cyntia, dan pembunuh itu bukan Kak Shindy. Setelah ini aku akan berganti menjadi kuasa hukum kakakmu.”
Kian tertawa, menganggap ucapan Naela barusan adalah gurauan.
“Sudahlah, Naela. Jangan buang-buang waktu untuk membela seorang pembunuh. Percuma. Pada akhirnya Shindy akan tetap dipenjara juga. Lagipula, jika kau tetap jadi kuasa hukum seorang Kian Hartono, maka reputasimu sebagai pengacara semakin bagus di mata orang-orang. Media akan semakin tertarik meliputmu.”
“Maaf, Kian. Kali ini kau boleh tidak percaya. Tapi aku berjanji, di persidangan nanti kau akan membenarkan ucapanku ini. Kuharap kau tidak menyesal saat tahu siapa pelaku sebenarnya. Dan soal reputasi? Kurasa reputasiku akan semakin baik saat bisa mengalahkanmu di pengadilan nanti.” Naela tersenyum. Ia segera berdiri, berniat segera keluar.
“Mbak, lalu ini es teh manisnya?” Pelayan baru saja datang dengan segelas teh di atas nampan. Wajah gadis itu bingung.
“Taruh saja di atas meja. Teman saya yang akan meminumnya.” Naela melihat sejenak ke arah Kian, kemudian segera meninggalkan cafe.
“Mariam.” Naela menelepon sahabatnya. Di ujung telepon terdengar suara Mariam dengan latar belakang suara-suara pembicaraan. Naela menerka Mariam sedang duduk di kantor. “Kudengar kau punya banyak teman.
Bagaimana dengan seorang ahli IT? Apa kau juga punya?” Selama beberapa detik, Naela memberikan kesempatan Mariam untuk menjawab. “Bagus, Mariam sayang. Kau memang sahabat yang bisa diandalkan. Tunggu aku di kantor, ya. Aku butuh bantuanmu.” Lalu di ujung sana Mariam mulai memuji-muji dirinya. Tanpa berniat mendengar lebih panjang, Naela segera mematikan ponsel.
CHAPTER 19 : Kenapa Islam itu Memberatkan?
Seperti hari-hari lain, Naela bangun saat alarmnya melengking-lengking pada pukul 03.30. Ia ambil air wudhu kemudian menunaikan shalat tahajud delapan rakaat dengan empat salam. Ia mulai rutin tahajud sejak jaman pesantren dulu. Semasa kuliah di Michigan tahun pertama, ia sempat menempati apartemen dengan enam orang mahasiswi internasional. Hanya dirinya yang Muslim. Melihat ia yang setiap hari bangun pagi bahkan sebelum Subuh, teman- temannya selalu berkomentar. Mereka berpendapat kalau Islam adalah agama yang sangat sulit dan membuat penganutnya capek.
“Dalam satu hari, aku melihatmu shalat yang katamu wajib itu sebanyak lima kali di lima waktu pula. Belum lagi ditambah dengan kegiatanmu membaca kitab suci dan shalat di pagi buta saat semua orang masih tidur. Pernah kuhitung jumlah berdirimu saat shalat pagi buta itu, terkadang empat, delapan, pernah juga sebelas. Bukan cuma itu, aku juga lihat kamu duduk di atas karpet kecil itu dengan sangat lama, wajah tertunduk, dan bibir membaca mantra. Apa kamu tidak lelah? Sebaiknya kamu cukupan istirahatmu paling tidak sampai jam enam pagi. Begitu lebih baik. Kau butuh tenaga cukup untuk menghadapi kuliah tahun pertama yang membuat aku saja sulit bernapas. Padahal bahasa Inggris adalah bahasa yang kupakai dari kecil. Apalagi kamu yang bahasa Inggris saja masih belum oke. Jadi lebih baik, besok kau tak perlu lagi sembahyang begitu banyak. Sekali saja kurasa cukup. Tuhanmu pasti memaklumi kesibukanmu.” Ini adalah celotehan Caroline, mahasiswi berambut pirang, ramping dan jangkung, berasal dari Bristol, Inggris.
Mendengar ucapan temannya yang memang banyak bicara, Naela hanya tersenyum. Ia maklum kalau Caroline tidak mengerti. Jangankan soal Islam, tentang agamanya sendiri saja ia tidak paham. Ia mengaku menganut agama tertentu, namun ia pernah memberi tahu kalau tak tahu apa- apa soal agamanya. Bahkan berdasarkan penuturan Caroline, sejak umurnya lima belas, ia tak pernah lagi mendatangi tempat ibadah.
“Aku merasakan manfaat dari semua ibadahku, Caroline. Dan rasa ini sama seperti rasa manis pada permen yang sedang kamu makan itu. Tidak bisa dijabarkan atau didefiniskan sama sekali. Ketika kita sudah punya kepercayaan dalam hati, bahwa semua ibadah yang kita lakukan adalah bentuk perhatian Tuhan, agar kita selalu dekat dengan-Nya, mengadu pada-Nya sesering mungkin, saat itulah kita akan merasakan bahwa ibadah yang kita kerjakan ternyata sangat nikmat. Bahkan jadi candu dan kita akan selalu menanti waktu datangnya. Dan Tuhanku telah menyiapkan shalat di waktu lain selain waktu wajib tersebut, itulah yang disebut dengan shalat sunnah. Seperti yang sering kulaksanakan di pagi buta. Menurutku shalat sunnah ini ditujukan untuk mereka yang selalu merindukan shalat. Jadi tidak ada paksaan untuk dikerjakan. Kita melaksanakannya semata-mata karena keinginan sendiri, karena kita begitu merindukan-Nya dan tidak sabar dengan datangnya waktu shalat wajib.”
Caroline mendengarkan khidmat. Tak terasa permen yang ada dalam mulutnya sudah habis. Dan ia ambil satu bungkus lagi dari toples di atas meja.
“Jadi kurasa agamaku tidak pernah membuat ummatnya kelelahan hanya karena ibadah. Setiap hari aku melaksanakan shalat sunnah saat kamu masih tertidur pulas. Kalau dipikir akal, pagi hari aku pasti sudah ngantuk dan tertidur di kelas. Tapi sejauh ini, aku bisa kuliah seharian dengan baik-baik saja.”
Kening Caroline berkerut. “Tapi...” katanya sambil mengenang sesuatu. “Ketika high school dulu, aku sekolah di boarding school. Di sana aku juga satu kamar dengan gadis Muslim asal Bosnia. Kuperhatikan dia tidak shalat sesering kamu. Apa semua Muslim rindu shalat sepertimu?”
Naela menggeleng. “Tidak semua, Caroline sayang. Bahkan banyak di antara kami yang menganggap shalat adalah beban yang diturunkan Tuhan pada ummat-Nya. Mereka beranggapan shalat hanya mengurangi waktu kerja dan waktu istirahat. Hmm...begini, selama ini apa pelajaran yang paling kamu cintai?”
“Actually I hate all of the subject study here. Ini semua gara-gara Ayahku yang paksa aku belajar hukum.” Keluhnya dengan wajah sebal. “Tapi aku pernah ikut kursus fashion designer, and I think fashion is my passion. I love it too much.” Kali ini ia sudah berubah ceria. Seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di wajahnya.
“So, ketika kamu diberi tugas seperti membuat desain baju pesta, apa kamu kerjakan?”
Anggukan Caroline penuh semangat. “Tidak hanya kukerjakan. Aku bahkan menanti tugas-tugas diberikan lebih banyak. Aku selalu suka membuat desain pakaian. Nanti usai liburan akhir semester, aku akan bawa buku desainku untuk kau lihat.”
Naela mengangguk. Sepertinya temannya itu masih belum paham. “Okay my dear Caroline, jadi semua teman kursusmu mengerjakan tugas itu dengan baik?”
“Tidak semua.” Jawabnya seraya menggeleng. “Temanku yang bernama Jane sama sekali tidak paham soal fashion. Padahal buku panduan berlimpah dimana-mana, belum lagi guru kami sangat giat membimbing. Dia tidak cinta fashion. Banyak tugas yang tidak dikerjakan. Kalaupun mengerjakan, hasilnya sangat buruk. Yaa, it was because she didn’t love fashion anymore.”
“Nah.” Naela berseru. “You got my point. Begitu juga dengan ibadah shalat dalam agamaku yang sering kau herankan itu. Banyak dari kami tidak mengerjakan, because they don’t love God anymore. Makanya mulai sekarang dekatkan dirimu pada Tuhan. Rajin lah beribadah sesuai tuntunan agamamu. Belajar lah untuk mengenal Tuhan dan bagaimana caramu untuk mencintai-Nya.”
Mulut Caroline terbuka selama beberapa saat. Kemudian dengan wajah seperti baru menemukan harta karun, tepuk tangannya terdengar. Sejak hari itu, Caroline tak pernah mempermasalahkan soal shalat lagi. Ia bahkan hapal dengan jam-jam shalat. Ketika waktu shalat tiba dan ia sedang bersama Naela, seringkali ia menunjuk jam tangannya, memberi tahu kalau sekarang waktunya untuk Naela shalat.
Naela selalu tersenyum apabila teringat masa-masa kuliah di luar negeri. Terutama pada tingkah para teman- temannya yang sering merasa heran dengan ajaran Islam. Namun sudah ketentuan dari-Nya bahwa bersama kebahagaiaan juga ada kesedihan. Tidak semua kenangannya selama bersekolah di luar negeri adalah kenangan indah, bahkan kenangan terburuknya juga didapat selama tiga tahun di negara orang. Kenangan yang kalau bisa, ingin sekali ia lenyapkan dari memori hidupnya.
Naela beranjak dari atas sajadah, mengambil mushaf kecil berwarna hijau yang dilengkapi terjemahan. Ia buka surat Al-Waqiah, dibacanya hingga selesai. Setelah shalat Subuh, Naela perbanyak membaca Hasbunallah wani’mal wakil dan Ya Hayyu Ya Qayyum. Ia terus berdoa agar sidang nanti dimudahkan.
“Nae,” panggil Umi Dian dari ambang pintu. Wajah wanita itu tampak cemas.
Naela berbalik. Ia lipat sajadahnya. “Iya, Umi?” “Tubuh Fatih panas. Dia demam tinggi.”
Tanpa bertanya apa-apa lagi, Naela langsung berjalan cepat menuju kamar Fatih. Mukenah putih masih belum dilepas. Matanya berkaca-kaca ketika mendapati wajah pucat Fatih. Bocah itu mengigil di bawah selimut tebal. Bibirnya bergetar dan mata tertutup.
“Fatih, Fatih, ini Kak Naela.” Ia tempelkan telapak tangannya di kening anak itu. Panas.
Umi Dian sudah berdiri di belakang Naela. Wanita itu juga sangat cemas. Di tangannya sudah ada mangkok berisi air hangat dan handuk untuk kompres. Ia ulurkan pada Naela. Dengan tergesa-gesa Naela peras handuk itu kemudian ditempelkan di kening Fatih.
“Fatih, ayo buka matanya, sayang. Ini Kak Naela.” Panggil Naela lirih. Ia usap-usap kelopak mata Fatih dengan lembut. Tapi tidak ada tanda-tanda Fatih akan membuka matanya.
“Sejak kapan Fatih demam, Umi?” tanya Naela cemas.
“Umi tidak tahu pasti, Nae. Umi masuk ke sini sebelum Subuh, mau bangunin Fatih untuk shalat Subuh. Dan tubuhnya sudah panas seperti ini.”
“Kompres ini tidak manjur, Umi. Lihat Fatih masih menggigil. Ayo, kita ke rumah sakit sekarang. Umi hubungi ojek mobil, ya. Suruh cepat datang.” Naela bergegas mengangkat tubuh Fatih. Ia tidurkan anak itu di pangkuannya sementara Umi Dian menghubungi ojek mobil dari ponsel.
Dua puluh menit kemudian, suara mobil masuk ke halaman rumah. Tubuh Fatih yang terbungkus selimut meringkus dalam gendongan Naela. Mukenah Naela masih belum dilepas. Tidak ada hal yang lebih ia cemaskan selain keadaan Fatih.
“Pak, segera ke rumah sakit Medika saja.” Seru Naela begitu masuk mobil.
Tidak sampai sepuluh menit, mereka sudah masuk ke halaman rumah sakit. Naela menggendong Fatih terburu- buru menuju gedung rumah sakit, dan Umi Dian tergopoh- gopoh mengikuti. Beberapa orang perawat yang tadinya berjaga di meja resepsionis segera datang membantu. Fatih diantar ke ruang pemeriksaan. Seorang dokter wanita berumur 43 tahun masuk. Ia tangani Fatih hingga sepuluh menit ke depan. Anak itu harus diinfus. Naela bahkan sampai menangis saat melihat dokter itu menusukkan jarum infus di pergelangan tangan Fatih.
Ini adalah kali ketiga Fatih masuk rumah sakit. Pertama kali saat umurnya lima bulan. Kala itu Naela masih di Amerika. Ia sendirian mengurus Fatih di sebuah flat murah. Ketika Fatih sakit, Naela sampai menangis tersedu-sedu seperti seorang anak kecil yang kehilangan boneka kesayangan. Ia bingung harus bagaimana. Hingga tetangganya datang dan memberi saran agar Fatih segera dibawa ke rumah sakit. Kedua kalinya saat Fatih berumur empat tahun. Ini adalah saat-saat yang paling menakutkan bagi Naela. Setelah makan kue kacang almond yang dibeli Naela, Fatih langsung merejang di atas lantai karena kesulitan bernapas. Bibir dan matanya bengkak. Secepat kilat Naela membawa Fatih ke rumah sakit dengan motor. Umi Dian yang menggendong Fatih di boncengan. Sejak peristiwa itu Naela tahu kalau Fatih punya alergi pada protein kacang almond. Dan sejak itu pula Naela tidak pernah membawa segala sesuatu berbau kacang merah ke rumah mereka.
Sekitar pukul setengah tujuh, panas Fatih sudah turun. Merasa tubuhnya lebih baik, bocah itu tak henti-henti mengajak Naela bicara. Padahal ia masih lemah. Suara bocah itu terdengar sangat kecil di dalam tenggorokan.
“Kak ini kapan dilepas?” tanya Fatih. Tangannya yang ditempeli infus sedikit diangkat. Jarum yang menghujam ke dalam pembuluh darahnya menyebabkan rasa nyeri.
“Kalau Fatih cepat sembuh, ini juga cepat dilepas.” Jawab Naela. Ia kecup kening anak itu.
“Nae, kamu pulang saja. Siap-siap. Hari ini kan ada sidang. Umi yang akan jaga Fatih.”
“Tapi Naela tidak tega ninggalin Fatih, Umi.”
“Fatih insya Allah sudah sehat, Nae. Di sini juga banyak dokter. Kamu jangan khawatir.”
Naela setuju. Meski sangat berat, ia harus pulang dan bersiap-siap untuk persidangan. Sebelum meninggalkan rumah sakit, ia berpesan pada dokter yang menangani Fatih agar anak itu diberikan perawatan terbaik. Dokter berkata supaya Naela tidak perlu khawatir, Fatih hanya demam biasa dan akan segera sembuh.
CHAPTER 20 : Persidangan Berdarah
Sidang pertama kasus pembunuhan Cyntia berlangsung selama satu jam. Tidak banyak perdebatan yang terjadi di sidang ini, karena semuanya lebih terlihat seperti formalitas. Hakim ketua bernama Sulaiman datang bersama hakim senior dan yunior yang tidak begitu dikenal publik.
Kris yang bertindak sebagai Jaksa Penuntut Umum membacakan surat dakwaan, kemudian Naela sebagai Kuasa Hukum menyampaikan eksepsi (keberatan). Sidang sempat diskors selama 15 menit untuk hakim menentukan putusan sela. Akhirnya setelah dewan hakim bermusyawarah di ruangan terpisah, mereka mengumumkan bahwa eksepsi Shindy baru dapat diputus setelah selesai pemeriksaan, sehingga sidang harus dilanjutkan.
Hari ini sidang kedua yang merupakan sidang pembuktian akan digelar.
Waktu menunjukkan pukul 08.30. Itu artinya persidangan akan dimulai setengah jam lagi. Berkas-berkas sudah disiapkan Naela di ruang sidang. Jas pengacara berwarna hitam tersampir rapi di tangan kirinya.
Naela berdiri di teras gedung pengadilan. Harap-harap cemas akan kedatangan Mariam. Pagi-pagi sekali Mariam sudah ditelepon. Ia ingatkan gadis itu agar jangan sampai lupa untuk mendatangi temannya.
Orang-orang mulai berdatangan. Sayangnya wajah Mariam masih belum kelihatan. Naela kembali melirik jam tangan. Wajah resah yang tadi sempat hilang sejenak, kini kembali terlukis jelas di wajahnya.
“Hfft...Nae.” Sambil terengah-engah dan memegangi pinggang, Mariam sudah berdiri di depan Naela. Celana panjang warna hitam dan kemeja panjang ungu muda yang dipakainya kusut. Rambutnya diikat ekor kuda, tanpa high heels, dan tanpa make up. Bahkan Naela hampir saja tidak percaya kalau yang berdiri di depanya adalah Mariam.
Sambil terheran-heran Naela bertanya. “Mariam? Kamu baik-baik saja, kan?”
“Aku sih baik-baik saja, Nae.” Ia menjawab. Masih berusaha mengatur napas. “Tapi penampilanku buruk sekali. Ini adalah hari yang bisa merusak citra yang sudah kubangun selama puluhan tahun. Kau tahu, bisa-bisa follower instagramku berkurang sepuluh ribu. Aku keluar rumah dengan kemeja kusut, rambut basah yang tidak sempat dikeringkan, lalu harus diikat acak-acakkan begini. Kakiku juga harus terbungkus sepatu kets yang belum dicuci selama seminggu. Oh Tuhan...” Keluhnya seperti ingin menangis. Naela tahu betapa pintar sahabatnya itu berdrama. Itulah mengapa ia justru mencibir saat mendengar keluhan Mariam barusan.
“Mariam, Mariam!” Naela berkata dengan suara yang lebih tinggi. “Aku tidak punya waktu untuk urusan instagrammu. Jadi sekarang langsung to the point saja. Mana rekaman yang aku butuhkan?”
Mariam mengembuskan napas disertai wajah kecewa. “Temanku itu harus ke Malang sejak dua hari lalu, Nae. Kakeknya meninggal. Kabar baik, pagi ini dia akan mengejar pesawat jam 7. Semoga bisa sampai di sini sekitar dua jam lagi.” Wajah Mariam berubah cerah ketika tiba di akhir kalimatnya. Satu hari lalu Naela sempat dibuat cemas karena memory card yang ia amanahkan pada Mariam belum membuahkan hasil. Mendadak kenalan Mariam yang katanya ahli mengembalikan rekaman yang telah dihapus itu tidak bisa dihubungi. Pun saat rumahnya didatangi, ia tidak ada di sana.
“Apa katanya? Apa rekaman itu bisa kembali?”
“Tentu saja.”
“Oh, alhamdulillah. Ayo kita masuk. Semoga perjalanannya lancar.”
Mereka pun kemudian berjalan beriringan masuk ke dalam gedung pengadilan.
***
Pukul 08.55 Ruang sidang sudah terisi penuh. Naela duduk di kursinya sambil mengamati saru per satu orang yang datang. Beberapa menit lalu, Kian datang bersama seluruh anggota keluarga. Hanya Cahaya yang tidak ikut. Lagipula membawa seorang anak di bawah umur ke persidangan bukan lah sesuatu yang baik.
Lalu dua menit lalu, Rais datang seorang diri. Hari ini penampilannya sama seperti biasa dalam balutan seletan kerja yang ilegan. Rambutnya tersisir rapi. Mungkin ia cukup percaya diri kalau kebusukannya tidak mungkin terungkap. Ia kemudian duduk dalam deretan kursi keluarga korban. Sempat juga matanya bertatapan dengan Naela dari kejauhan.
Kris baru saja masuk. Ia sudah mengenakan jubah seorang jaksa penuntut. Setumpuk map tersusun rapi di tangannya. Ketika melintas di depan Naela, ia sempat memberikan senyuman.
“Kau sudah siap?” bisik Kris begitu ia duduk di samping Naela.
“Aku selalu siap.” Naela mengangkat bahu.
“Kau itu sombong. Jangan terlalu percaya diri. Ingat, pembelaan yang kau berikan itu mirip seperti cerita fiktif. Jika tidak ada bukti, mana ada hakim yang mau percaya.”
“Aku tidak pernah takut selama aku berada di pihak yang benar. Allah sebagai saksinya. Jangan pernah lupa pada satu hal, aku berbeda denganmu.”
“Ya, ya, ya. Aku sudah tahu itu. Kalau begitu bersiaplah, bisa jadi di sidang kedua ini hakim langsung menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup pada klienmu itu. Kalau boleh tahu, apa hari ini kau juga akan membacakan dongeng lagi?”
“Kris.” Naela mulai terpancing. “Percayalah itu bukan cerita karanganku sendiri. Pembunuh yang sebenarnya adalah lelaki itu.” Ia menunjuk Rais yang kini masih memandang ke arahnya. “Bukan Shindy. Aku sudah menjelaskan hal ini padamu. Tapi kau tak mau percaya.”
“Pisahkan antara hukum dan nurani, Naela. Saat bicara hukum, kita juga membicarakan saksi dan bukti. Tapi saat bicara nurani, kita tidak memerlukan itu semua. Nurani yang membuat seorang ibu akan tetap membela anaknya meskipun anak tersebut sudah berbuat salah.” Jelas Kris masih belum percaya. Ia beranggapan Naela adalah wanita yang suka berhalusinasi.
“Tidak, Kris. Hukum dan nurani adalah satu kesatuan. Aku tidak akan pernah memisahkan kedua hal itu. Mungkin inilah perbedaan kedua antara kau dan aku.”
Kris tersenyum tipis. Kedua tangan ia dekapkan di depan dada. “Baiklah, kita lihat siapa yang akan menang. Tapi Naela, kali ini aku punya perasaan tidak enak tentangmu. Mungkin akan terjadi sesuatu yang buruk. Yah, itu hanya firasat saja. Tapi kuharap kau lebih berhati-hati.”
Firasat buruk? Tentu saja Kris hanya berbohong. Ia sengaja berkata seperti itu untuk menakut-nakuti Naela.
“Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Sepertinya kita punya ikatan batin yang cukup kuat.” Ucap Naela. Sebuah sindiran.
Suasana ruang persidangan ini seketika sepi ketika hakim yang dinanti-nanti masuk dan duduk di kursi kemuliaannya.
Hakim Sulaiman, begitu ia dikenal. Adalah seorang laki-laki yang hampir genap lima puluh tahun, tinggi jangkung, dan memiliki sedikit rambut yang sudah berwarna kelabu. Kaca mata minusnya menambah kesan bijak.
Sebelum sidang dimulai, Hakim Sulaiman menyempatkan untuk melihat seisi ruangan dengan tatapan mata seperti mengkonfirmasi sesuatu. Apakah terdakwa dan pendakwa hadir? Pengacara? Jaksa? Panitera? Hingga pandangannya berakhir pada Clairre, gadis blasteran Turkmenistan yang berperan sebagai notulis. Tidak ada yang absen dan Hakim Sulaiman mengapresiasi hal tersebut dalam hati.
Rais membenarkan posisi duduk. Jasnya dirapikan begitu sidang dibuka. Perkara dibacakan, kemudian hakim mengkonfirmasi kembali satu persatu orang yang akan menentukan jalan persidangan. Kali ini dipanggilnya nama- nama yang disebut dalam daftar, kemudian memanggil terdakwa untuk masuk ke ruang sidang.
Shindy yang berjalan bersama seorang petugas. Selama beberapa saat, perhatian Naela hanya tertuju pada Shindy. Wanita itu berjalan dengan kepala tertunduk. Ia kemudian duduk di kursi yang sudah menunggu sejak tadi. Naela terus memandangi hingga Shindy mengangkat wajah ke arahnya. Shindy berusaha tersenyum, dan Naela juga memberikan senyum terindah yang ia miliki hari ini.
Setelah merasa sidang bisa dilanjutkan, hakim ketua segera mempersilakan jaksa untuk mulai menjelaskan tuntutan kembali dan menghadirkan saksi.
Kris berdiri sigap. Sebelum membuka suara, ia tersenyum penuh percaya diri, memberikan kesan menunggu.
“Mereka kerap bertengkar. Maksud saya, Shindy dan Cyntia. Berdasarkan keterangan dari Kian, suami korban, kakak kandungnya memang tidak pernah sempurna menyetujui pernikahannya dengan Cyntia. Lalu pada hari naas itu, Cyntia sendirian di rumah sejak pagi. Semua anggota keluarga sedang keluar untuk urusan masing- masing. Hanya ada Bams, security yang berjaga di pos dekat gerbang, tiga orang asisten rumah tangga yang sibuk bekerja di lantai bawah, dan seorang tukang kebun yang sepanjang hari itu sibuk memotong rumput sekeliling rumah.
Dari keterangan orang-orang tersebut, Cyntia keluar rumah sejak pukul sembilan pagi hingga pukul dua kurang. Lalu, sekitar pukul dua, terdengar pertengkaran hebat antara Cyntia dan Shindy di halaman belakang.
Cyntia sudah sering tidak keluar kamar ketika Kian sedang bekerja, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Namun, pada pukul dua siang, Bams melihat Shindy pulang dan tak lama setelah itu seluruh asisten mendengar keributan di taman belakang. Dari suaranya, mereka tahu keributan itu berasal dari adu mulut antara Cyntia dan Shindy. Lagi-lagi itu hal biasa. Mereka merasa tidak perlu ikut campur.
Beberapa menit kemudian, keadaan kembali senyap. Mungkin Cyntia sudah kembali ke kamarnya, begitu pikir semua asisten di rumah tersebut. Pukul empat sore, seorang asisten datang untuk mengantarkan pakaian sehabis disetrika. Saat itulah Cyntia ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
Maka berdasarkan hal ini, perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 340 kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang kejahatan terhadap nyawa yakni barangsiapa sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana, dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun!” Kris membaca bagian ini dengan suara lantang, penuh penekanan.
Hakim mengangguk. “Selanjutnya pembela diminta penyampaikan pembelaannya.”
Naela berdoa di dalam hati. Ia berdiri sambil memandang sebentar ke arah Shindy yang tertunduk.
“Hakim yang Mulia. Di sini saya tidak akan memberikan pembelaan terlalu panjang. Jika Jaksa Penuntut mengatakan bahwa pembunuh yang sebenarnya adalah klien saya, maka saya menekankan bahwa Shindy sama sekali tidak bersalah. Mungkin semua orang di ruangan ini telah melupakan sesuatu. Oh, maksud saya bukan semua orang, melainkan seseorang saja. Saya ulangi, mungkin seseorang yang telah memfitnah Shindy telah melupakan sesuatu. Trik yang ia gunakan sebenarnya telah cacat sejak awal.” Naela tersenyum tipis. Matanya melirik ke arah Rais yang memperhatikannya dengan khidmat, juga cemas.
“Cacat?” Hakim mulai penasaran.
“Benar.” Naela mengangguk. “Polisi memperkirakan pembunuhan itu terjadi pada pukul dua siang. Di saat yang sama, Shindy masuk ke rumah untuk mengambil peralatan gambar putranya. Shindy keluar 30 menit kemudian. Berdasarkan hal ini, Bams memberikan kesaksian kuat bahwa Shindy-lah yang melakukan pembunuhan tersebut. Ditambah pula kesaksian para asisten rumah tangga lainnya, yang mendengar pertengkaran antara Shindy dan Cyntia. Bersarkan kesaksian mereka, pertengkaran itu terjadi sekitar pukul dua lewat beberapa menit, di halaman belakang.
Tapi, masalahnya, sejauh ini kita masih belum bisa membuktikan dengan jelas peristiwa pembunuhan ini. Para asisten rumah tangga juga memberikan kesaksian pada saya, bahwa Shindy dan Cyntia memang sudah biasa bertengkar. Itu sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Jadi, menurut pendapat saya, pertengkaran seperti itu tidak ada bedanya dengan pertengkaran sebelumnya. Sesuatu yang sudah biasa tidak akan menjadi motif kuat pembunuhan.”
Kris berdiri, memberikan interupsi, “Maaf, saya tidak bisa menerima pendapatmu yang ini, Naela. Kata siapa sebuah pertengkaran biasa tidak bisa memacu pembunuhan? Kau tahu kasus yang kutangani dua bulan lalu? Pembunuhan antara dua sahabat karib. Kau tahu apa masalahnya? Karena hal sangat sepele. Salah satu dari mereka hanya berniat membuat gurauan dengan menyembunyikan tas sang sahabat. Tidak tahunya hal itu ditanggapi serius. Akhirnya keduanya bergulat dan saling membunuh. Satu orang tewas, dan satu lagi mendekam di penjara sampai hari ini. Kau lihat, dua orang sahabat saja bisa saling membunuh karena hal sepele, terlebih untuk dua wanita yang saling memusuhi sejak sekian lama. Tidak ada yang tidak mungkin, Naela.” Kris mengakhiri kalimatnya dengan tatapan penuh percaya diri.
Naela tidak mau kalah. Sebentar ia menatap Kris dari kejauhan, memberikan isyarat bahwa dirinya sama sekali tidak gentar. “Baiklah jika itu tidak bisa dijadikan alasan yang kuat. Sekarang saya ingin menanyakan satu hal pada Kian.” Naela mengalihkan pandangannya pada laki-laki berkemeja rapi yang kini telah memperhatikannya, “Apakah Anda tahu bahwa istrimu sedang hamil muda?”
Mata Kian terlihat membesar. Keterkejutannya tak bisa disembunyikan. “Cyntia hamil?” tanyanya heran, tak percaya.
“Ya. Kandungan Cyntia baru memasuki bulan ketiga. Kalian bisa melihat dokumen rumah sakit dan USG yang saya bawa. Bahkan jika dibutuhkan, saya bisa mengontak dokter spesialis yang menangani kandungan Cyntia.” Naela mengambil satu buah amplop, menyerahkan benda itu kepada salah satu petugas pengadilan, untuk kemudian diserahkan pada dewan hakim.
“Tapi, kenapa Cyntia tidak memberi tahuku?” Kian masih belum mengerti.
“Itu artinya dia memang tidak ingin memberi tahu hal tersebut padamu. Itu adalah salah satu rahasianya, yang mungkin, Cyntia memberi tahu pada lelaki lain.” Naela melirik pada Rais.
Kian berdiri. Tidak terima. Wajahnya berubah marah. “Apa maksudmu, Naela?! Kau menuduh Cyntia berselingkuh?!”
Rais mulai cemas. Membiarkan Naela hidup benar- benar sebuah kesalahan. Kini ia merasa seperti berdiri di ujung jurang. Ia hanya menunggu sedikit sentuhan untuk segera jatuh menghantam bebatuan di bawah sana, meregang nyawa dengan hina.
Di sisi lain persidangan, Bams yang tadi terlihat tenang, kini mulai tak bisa menyembunyikan kekhawatiran. Ia jadi lebih sering melirik Rais. Tangannya yang tergenggam terasa basah.
“Kalian tidak perlu berlama-lama penasaran perihal anak siapa yang sedang dikandung Cyntia. Laki-laki itu ada di ruangan ini. Tidak lama lagi kita akan mendengar pengakuannya yang luar biasa menyentuh hati.” Naela mengalihkan pandangan pada Rais.
Semua mata terbelalak. Hakim mengernyit. Ini sebuah kejutan. Rais yang semula menyandar ke kursi kini merubah posisi duduknya.
“Tenang saja, Rais. Wanita itu tidak punya satu bukti pun untuk menuduhmu.” Laki-laki itu berucap dalam hati.
“Rais. Sebaiknya kau jangan berpura-pura bodoh lagi. Bukankah sebenarnya kau tahu siapa ayah janin itu? Bukankah di hari naas itu kau menemani Cyntia periksa kandungan? Lalu ia meminta agar kau bertanggung jawab. Sayang, engkau selalu berjanji palsu padanya. Malangnya, selama bertahun-tahun, Cyntia selalu percaya pada janji busuk lelaki sepertimu. Tapi hari itu, setelah pertengkaran dengan Shindy di halaman belakang, Cyntia langsung naik ke kamarnya, kemudian meneleponmu, meminta pertanggung jawabanmu. Dia pun mengancam agar membeberkan hubungan kalian apabila kau tak mau juga mengaku di hadapan Kian. Sekarang katakan, apakah semua perkataanku itu benar?”
Keringat Rais mulai bercucuran. Wajahnya memerah.
“Nae, kamu jangan sembarangan. Kamu tahu siapa yang baru saja kamu tuduh itu? Dia general manajer, asisten pribadi, sekaligus sahabatku. Dia satu-satunya orang yang paling kupercaya di seluruh dunia ini.” Kian tidak terima. Sungguh aneh, ketika orang lain menuduh kakakknya, dia seketika percaya. Tapi ketika Rais yang tertuduh, ia justru membelanya. “Kau akan menyesal seumur hidup jika menuduhnya tanpa dasar!”
Naela mendengus kesal. Miris. “Di situlah kesalahanmu, Kian. Kau punya keluarga yang rela mati untuk dirimu, namun kau justru lebih mempercayai orang lain. Kau sama sekali tidak tahu apapun tentang general manajer sekaligus sahabatmu itu. Kau tidak tahu apa saja yang sudah ia lakukan di belakangmu.”
“Kian. Kumohon jangan percayai dia! Ini omong kosong! Duduklah. Aku akan menjelaskan kesalah pahaman ini.” Rais mulai gelagapan, tapi ia berusaha tenang.
Kian menuruti permintaan Rais untuk kembali duduk, meskipun dadanya masih tampak naik turun karena emosi. Rais berjalan ke depan sidang, berdiri sekitar dua depa di samping Naela.
“Naela, sebenarnya aku cukup kaget dengan fitnah keji ini. Aku tidak menyangka wanita polos dan saleha sepertimu ternyata pandai sekali bermain kata, menuduh manusia lain yang tak berdosa. Tapi tak apa. Semua ini justru akan mempermalukan dirimu sendiri. Kau benar! Memang aku yang menemani Cyntia memeriksa kandungan pada hari itu. Kau juga benar bahwa akulah orang pertama yang tahu soal kehamilannya. Bahkan aku tahu kalau Cyntia hamil anak laki- laki. Tapi perlu kau tahu satu hal, aku bukanlah ayah janin itu. Kian lah ayahnya. Cyntia sengaja merahasiakan kehamilannya karena tahu bahwa janin itu didiagnosa dokter akan jadi bayi cacat seumur hidup. Dokter bilang, apabila bayi itu lahir nanti, dia tidak akan memiliki kedua tangan. Karena itu pula, Cyntia berniat untuk menggugurkan kandungannya. Dia terus mendesakku untuk mencarikan dokter paling kompeten menggugurkan janin. Tentu aku tidak langsung memenuhi request-nya begitu saja. Biarpun begini, aku masih ingat soal dosa. Aku paham betul besarnya dosa membunuh janin yang suci itu. Percayalah, pembunuhan ini tidak ada hubungannya denganku. Shindy- lah pelakunya. Perempuan itu tahu kalau Cyntia mengandung anak laki-laki. Itu artinya imperium bisnis milik keluarga Hartono akan jatuh ke tangan putra Cyntia kelak.” Rais memberi penjelasan dengan begitu meyakinkan. Setelah keterangannya ini, hampir semua peserta sidang kini berpihak pada Rais. Mereka hampir saja menyalahkan Naela yang mengarang cerita.
Naela berdiri. Sejak tadi ia sudah tidak tahan lagi menahan geram. Ia tidak menyangka kalau Rais ternyata begitu ahli bercerita. Sepertinya lelaki itu cocok sekali menjadi seorang penulis novel.
“Saudari Shindy, benarkah Anda sudah mengetahui kehamilan Cyntia, juga mengetahui bahwa anak yang dikandungnya itu adalah bayi laki-laki?” tanya hakim.
Shindy mengangguk. “Saya tahu Cyntia hamil, tapi soal mengandung anak laki-laki, demi Tuhan saya tidak tahu. Sebenarnya Cyntia tidak memberi tahu saya soal kehamilan itu, tapi melihat ia muntah-muntah dan beberapa ciri-ciri fisik lain, saya bisa menerka sendiri.” Suaranya bergetar.
“Kau tahu kalau bayi itu akan cacat seumur hidup?” Hakim bertanya lagi.
“Tentu tidak, Yang Mulia. Mustahil Cyntia membocorkan aibnya.” Lagi-lagi Shindy berkata jujur, meskipun dalam hati ia begitu takut. Tadi sebelum sidang dimulai, Naela memang sudah mewanti-wantinya agar selalu berkata jujur dan apa adanya. Karena satu kebohongan saja yang terucap, bisa jadi akan mengacaukan segalanya.
Hakim mengangguk-angguk, kemudian menulis sesuatu.
“Baiklah. Saudari Naela, apakah Anda memiliki bukti atau saksi yang bisa digunakan sebagai pembelaan?” tanya hakim.
Naela bingung. Ia tidak bisa menyembunyikan kepanikan. Kris yang sejak tadi terus memperhatikan dari kejauhan punya kesempatan untuk tersenyum senang.
“Naela Alfiatul Husna. Sudahlah. Kali ini alibi di pihakmu lemah sekali. Daripada kita buang-buang waktu, lebih baik jika kita mendengar langsung kesaksian dari Bams. Kupikir kesaksiannya cukup kuat untuk digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan dewan hakim.” Lagi-lagi Kris tersenyum meremehkan.
Pemuda yang hari ini ia mengenakan celana jeans warna biru dan kemeja hitam itu segera berdiri. Tubuhnya panas dingin. Ini adalah pengalaman pertama bicara di tengah pengadilan.
“Hmm...” Bams coba mengatur napas. Sejenak ia melihat Rais yang tengah tersenyum puas. Asisten Kian itu sepertinya telah merasa aura kemenangan.
Bams melanjutkan kesaksian, “Siang itu sekitar pukul dua siang, saya yang bertugas di pos melihat Nyonya Shindy masuk ke rumah. Setengah jam kemudian, Nyonya Shindy keluar dengan tergesa-gesa. Wajahnya panik dan marah. Ketika saya sapa, Nyonya Shindy tidak merespon sama sekali. Lalu pada pukul empat sore terdengar keributan dari dalam rumah. Semua asisten rumah tangga, tukang kebun, dan saya sebagai security segera berlari ke dalam. Saya sendiri yang mengecek nadinya, dan hasilnya tidak ada denyutan sama sekali. Saya juga yang pertama kali menemukan sebuah bantal tergeletak di bawah tempat tidur. Selanjutnya polisi yang mengidentifikasi bantal tersebut. Ini saja kesaksian saya, Yang Mulia.” Sekuriti itu mengembuskan napas lega.
Selanjutnya ia disumpah dengan bersaksi kepada Allah. Ia terlihat santai-santai saja. Justru dada Naela yang terasa perih melihat betapa tenang pemuda itu membawa nama Allah untuk perkara dusta.
Persidangan ini mulai terlihat ujungnya. Kemenangan seperti sudah mutlak berada di pihak Kris. Wajar saja jika sejak tadi, jaksa penuntut itu merasa terbang di atas angin. Ketika Naela melihat ke arahnya, Kris mengerjipkan mata, seolah berkata, “Akulah pemenangnya, Naela.”
Sementara Naela merasakan keringat dingin yang mengalir di leher. Berkali-kali ia melihat Mariam yang juga panik. Mariam terlihat berkali-kali coba menghubungi seseorang, tapi selalu saja gagal. Pada akhirnya Mariam hanya bisa menggeleng pasrah.
Naela duduk bersandar tanpa semangat. Ia seperti kehilangan satu-satunya harapan. Shindy yang duduk di tengah semakin menunduk. Kini penjara sudah terlihat jelas di matanya. Ia bahkan tidak sanggup untuk sedikit saja mengangkat kepala.
“Ehm!” Hakim berdehem, meminta perhatian. Untuk beberapa saat pandangannya menyapu seluruh ruangan. “Selanjutnya saudara Jaksa Penuntut bisa mendatangkan alat bukti.”
Kris berdiri sigap. Seorang lelaki dari tim jaksa penuntut maju untuk mengantarkan sebuah bantal yang telah diamankan sedemikian rupa. Sementara Kris bersiap menjelaskan cerita di balik bantal tersebut.
“Itu adalah bantal yang digunakan terdakwa untuk menghabisi korban. Seperti laporan pihak penyidik bahwa korban tewas akibat dekapan bantal hingga kehabisan napas. Pihak penyidik juga telah melakukan tes sidik jari, dan hasilnya positif di sana ada sidik jari Shindy! Sekarang sudah jelas, Yang Mulia. Wanita inilah pembunuhnya dan dia pantas dihukum berat karena telah melakukan pembunuhan dengan sengaja!” Ujung telunjuk Kris teracung menunjuk Shindy.
“Semua ini bohong, Yang Mulia. Bahkan saya tidak pernah menginjakkan kaki di kamar Cyntia.” Shindy berdiri dengan mata berkaca-kaca. Kali ini ia sudah tidak tahan lagi dengan tuduhan yang jelas sekali dikarang oleh seseorang.
“Baiklah.” Hakim menutup map di depan. Ia memberi jeda untuk memperhatikan Naela yang tampak resah. Setelah menunggu dan tak ada tanda-tanda Naela akan kembali membela terdakwa, ia melanjutkan putusan. “Pada sidang kedua ini kita sebenarnya sudah bisa melihat dengan jelas siapa pelaku pembunuhan ini. Sidang akan dilanjutkan dengan pemeriksaan terhadap terdakwa.” Ucapnya tanpa sedikit pun mempedulikan teriakan Shindy barusan.
Pintu ruang persidangan itu terbuka. Seorang petugas masuk dan mengatakan bahwa ada seseorang yang memaksa masuk.
“Orang ini memaksa ingin bertemu dengan Mbak Naela.” Ucap petugas tersebut.
Naela tersenyum. Ia mengucap syukur berkali-kali. Seseorang yang ia nanti sejak tadi akhirnya datang. Setelah mendapat ijin dari hakim, Naela keluar ruang sidang selama beberapa menit. Air mukanya berubah cerah saat ia kembali masuk.
“Yang Mulia,” Naela memulai pembelaan begitu tiba di meja, “Sekarang saya ingin memberikan satu buah bukti rekaman yang akan menjadi akhir dari persidangan ini, termasuk akhir dari keangkuhan Rais. Silakan. Saya berharap rekaman ini bisa diputar sekarang juga, sehingga bisa didengar oleh semua orang.”
Seorang petugas pengadilan kembali mengambil rekaman itu dan menyerahkan pada hakim. Tapi kemudian hakim meminta agar petugas itu langsung memutar rekaman tersebut yang dihubungkan dengan speaker.
Kegelisahan Rais kini terlihat jelas.
Beberapa detik kemudian, speaker yang dipasang di empat sudut ruangan mulai mengeluarkan suara. Itu adalah rekaman yang tempo hari telah dihapus Rais. Syukurnya Mariam punya seorang teman yang ahli dalam hal mengembalikan file-file yang sudah terhapus.
Semua yang hadir di sana mendengar dengan wajah tidak percaya. Terlebih Kian. Kini wajahnya memerah. Ia menatap Rais dengan mata dipenuhi amarah. Dari kejauhan ia sudah mengepalkan kedua tangan, merasa dikhianati.
“HAAHHH...!!!” seru Rais kesal. Rekaman itu baru saja diputar setengah, tapi itu sudah cukup jelas. Semua jadi hancur berantakan gara-gara wanita di depannya. Amarahnya benar-benar mendidih. Dengan kasar ia menarik kerudung Naela. Wanita itu hampir tersungkur ke depan.
“Wanita sialan! Keparat kamu! Seharusnya waktu itu aku tidak membiarkanmu hidup!” umpat Rais bertubi-tubi.
Situasi berubah kacau. Tiga orang petugas keamanan segera mendekati Rais, menarik tubuhnya agar menjauh dari Naela. Tapi cengkeraman tangannya di kerudung Naela sulit dilepaskan. Apalagi Rais punya tubuh besar dan berotot, tiga orang petugas itu seperti tidak berpengaruh baginya.
Meja di depan Naela tergeser ke depan. Kris berdiri. Ia ikut mengendalikan Rais. Tapi tetap saja, tubuh jangkung Kris tidak ada apa-apanya dibandingkan Rais yang tinggi kekar. Semua yang ada di ruangan ini riuh. Sebagian cemas.
“Lepaskan.” seru Naela. Ia berusaha melepaskan diri. Tangannya tetap mempertahankan kerudungnya agar tidak lepas. Kini tubuhnya terseret ke depan.
Dua orang petugas datang. Kini ada lima laki-laki yang berusaha menarik Rais. Mereka akhirnya berhasil. Rais mundur beberapa langkah. Namun,
“NAELA!” jerit Mariam dengan mata terbelalak. Sekian detik kedua kakinya seperti terkunci melihat apa yang terjadi pada sahabatnya.
Naela meringis menahan nyilu yang luar biasa. Telapak tangannya sudah berubah merah. Ketika melihat foto-foto korban pembantaian, Naela sering bertanya, bagaimana rasanya salah satu bagian tubuh kita dilukai oleh senjata tajam? Dan kini, rasa penasaran itu terjawab sudah. Pisau runcing yang tiba-tiba keluar dari balik jas Rais itu begitu cepat menembus kulit perutnya. Ia memang melihat gelagat buruk dari gerak-gerik Rais, tapi ia tidak menyangka akan secepat itu Rais menikamnya. Naela coba mempertajam penglihatan, namun sia-sia. Semuanya berubah jadi bayang- bayang. Nyilu di perut itu seperti menjalar ke seluruh tubuhnya, menyiksa semua saraf-sarafnya.
“Apa yang terjadi?!” Kian sudah berdiri di samping Kris. Matanya terbelalak ketika melihat darah yang terus menetes dari perut Naela.
Kris yang berada tidak jauh dari Naela dengan cepat ingin menangkap. Namun perempuan itu belum pingsan, tubuh lemahnya mencoba menghindari Kris. Ia terhuyung sebelum akhirnya terduduk di atas lantai.
Hakim Sulaiman berdiri dari tempat duduknya. Bingung dan tidak percaya.
Rais memandangi tangan kanannya yang masih menggenggam pisau bersimbah darah. Hampir sepuluh orang laki-laki segera mengerubungi. Ia berontak minta tangannya dilepaskan. Seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan, ia pandangi darah yang mengucur dari perut kiri Naela. Wajahnya ketakutan. Semakin ia berontak, cengkeraman orang-orang di kedua lengannya justru semakin erat. Ia segera ditarik ke tempat lain.
Sedangkan Shindy, ia ingin sekali mendekati Naela. Namun dua orang laki-laki berseragam begitu cepat menggiringnya meninggalkan ruangan sidang. Shindy hanya bisa memandangi kerubungan orang-orang yang menggelilingi Naela dengan diameter sekitar tiga meter. Ia berharap bisa melihat Naela, sayangnya tidak bisa. Air mata hangat mengalir dengan sendirinya. Kalau ada orang yang merasa paling berdosa saat ini, Shindy lah orang itu. Ia menyalahkan diri sendiri. Akibat membela kasusnya wanita baik itu harus menjadi korban. Ia juga merasa berdosa atas perlakuannya pada Naela di awal pertemuan.
Semua yang hadir di ruangan itu menampakkan wajah cemas. Suasana riuh dan tidak lagi bisa dikendailikan. Semuanya sibuk ingin mendekati Naela. Untungnya Naela dilindungi oleh beberapa laki-laki dari serbuan massa. Mereka meminta agar orang-orang berdiri agak jauh dari Naela.
“Mariam, Mariam...” panggil Naela dengan bibir yang semakin pucat. Tangan kirinya menggapai-gapai. Semua yang ia lihat berubah kuning, dan yang tertangkap telinganya hanya hening.
Mariam seperti sadar dari lamunan. Ia segera menghambur ke arah Naela.
“Nae, kamu jangan keras kepala seperti ini. Aku tidak ada maksud apa-apa, cuma ingin membantumu.” Kris berkata dengan wajah cemas. Kembali ingin menampung punggung Naela.
Kepala Naela menggeleng pelan. Sementara itu, tangan kanannya memegang bagian perut yang terus mengucurkan darah segar.
“Iya, Nae...” Mariam duduk di belakang Naela. Membiarkan gadis itu bersandar di tubuhnya. “Mana ambulan??!!! Please, jangan biarkan sahabatku seperti ini... tolong segera suruh ambulan datang...!!!” Mariam menegadah. Berbicara untuk siapa saja. Air matanya sudah tumpah sejak tadi.
“Masih di perjalanan menuju kemari.” Kian yang tadi segera menghubungi ambulan berkata cepat.
Mata Naela perlahan memejam. Di saat yang sama tangan kanan yang sejak tadi memegangi perutnya yang koyak jatuh ke lantai. Ia sudah sangat kelelahan. Nyilu dari luka tusukan itu seperti menjalar ke tulang-tulang belakangnya, menarik ubun-ubunnya, bahkan seluruh tubuh itu seperti bukan miliknya lagi.
Pada detik-detik seperti itu, Naela masih sempat menyadari satu hal, bahkan tubuh seorang manusia pun sejatinya bukan miliknya sendiri. Seperti saat ini, ia ingin sekali menggerakkan tangan, ia ingin duduk dengan kuat, tapi seluruh tubuhnya tidak lagi patuh. Anggota tubuhnya tidak ada yang mau mendengarkan. Tangannya tetap terkulai lemah, punggungnya lemas dan sakit bukan main, lalu matanya menjadi sangat berat. Seandainya ia sanggup membuka mata sedikit, tetap saja yang terlihat hanyalah gelap.
“Mariam, kita tidak bisa menunggu ambulan. Bawa pakai mobil saja. Itu lebih baik.” Kris memberikan pendapat. Keringat mengucur dari pelipisnya. Rambut gondrongnya basah.
Mariam tidak bisa berpikir lebih jauh lagi. Segera saja disetujuinya. Tubuh Naela diambil alih Kris dan segera dibopong ke luar ruangan. Mariam dan semua orang yang ada di sana mengikuti hingga ke mobil. Para wartawan yang hadir di persidangan ikut panik menerobos jubelan orang untuk mendapatkan gambar terbaik.
Mobil yang dikemudikan Kris itu langsung meninggalkan gedung pengadilan. Orang-orang yang tadi mengerubungi mobil menyingkir. Kian mengejar. Mobilnya berjalan di belakang mobil Kris.
“Nae, kamu bertahan ya...” ucap Mariam seraya mengelus pipi sahabatnya.
Kepala Naela berada di atas paha Mariam. Mata perempuan pengacara itu tertutup rapat. Begitu juga dengan bibirnya yang semakin pucat. Seperti tak ada lagi darah di dalam tubuhnya.
Mariam mengalihkan pandangan ke bagian perut Naela. Darah merah segar membasahi gamis krem Naela. Bahkan alirannya hingga ke lantai mobil. Sejak pisau yang menancap ditarik Rais dengan keras, darah memang tak berhenti mengalir, seperti sebuah sumber mata air.
Kris mengemudi sambil sesekali melihat ke belakang. Terkadang ia melihat dari kaca spion yang ada di atas. Akibat tegang dan cemas yang teramat sangat, keringat dingin merembes di telapak tangannya yang menggenggam setir. Syukurnya jalanan siang ini tidak macet. Jadi mereka bisa melaju secepat mungkin menuju rumah sakit yang diperkirakan tidak akan memakan waktu sampai 15 menit.
“Kris lebih cepat lagi.” Mariam berseru, melihat jam tangan. Anak rambut di sekitar wajahnya lengket oleh keringat. “Aku tidak tega lihat Naela seperti ini.”
“Iya aku tahu.” Kris berkata dengan suara berat. Rambut gondrongnya semakin terlihat berantakan. “Aku juga tidak tega.” Katanya jujur.
“Naela, jangan mati dulu, Nae. Walaupun kamu selalu menindasku, tapi jujur, aku tidak pernah memiliki sahabat sebaik kamu. Ayo Nae, kamu pasti kuat. Kamu pernah meminta aku berkerudung, kan? Kalau kamu hidup, kuberikan janjiku, aku akan pakai kerudung.” suara Mariam terdengar tidak jelas karena isak tangis. “Tapi, bukan kerudung panjang seperti yang kamu pakai, tidak apa ya? Menurutku aku jelek kalau harus pakai kerudung sepertimu.”
Di saat seperti ini, masih sempat juga Mariam tawar- menawar. Kris yang mendengar menggelengkan kepala. Mengumpat dalam hati.
Bibir pucat Naela terkatup rapat. Tak ada cibiran atau dengusan untuk kalimat-kalimat Mariam seperti biasanya. Ia hanya diam. Hal itu membuat tangis Mariam semakin menjadi-jadi.
“Kamu punya nomor telepon keluarga Naela, kan? Lebih baik telepon sekarang.” Kris memberi saran atau lebih tepatnya ia sedang memberi perintah.
Mariam menurut saja. Ia kemudian menghubungi Umi Dian dan memberi tahu hal buruk yang sedang menimpa Naela. Berita tentang Naela membuat air mata wanita 64 tahun itu berjatuhan. Berkali-kali ia bertanya pada Mariam tentang kebenaran berita yang disampaikan. Tangisan Mariam semakin mengeras, dan itu adalah jawaban yang jelas bagi Umi Dian bahwa gadis itu tidak sedang berbohong.
Sepuluh menit kemudian, mobil itu masuk ke halaman rumah sakit dan berhenti tepat di depan pintu emergency.
“Cepat, tolong cepat!” teriak Kris pada tiga orang perawat yang mendorong ranjang ke arah mobil.
Naela kemudian segera dilarikan ke bagian UGD untuk mendapatkan pertolongan. Para dokter dan perawat berlari. Semuanya sibuk dengan tugasnya masing-masing.
***
Tiga jam kemudian, Umi Dian dan Fatih datang bersama Yusuf. Saat Umi Dian datang dan meminta diantarkan ke rumah sakit, Yusuf sedang menyusun pot-pot besar tanaman hias milik sang ibu di halaman rumah. Sama seperti Umi Dian, Yusuf pun sangat terkejut ketika tahu Naela ditusuk di persidangan.
“Mariam, bagaimana keadaan Naela?” tanya Umi Dian begitu sampai di depan kamar tempat Naela dirawat.
Melihat kedatangan Umi Dian, Mariam langsung menghambur memeluk wanita itu. “Umi...” Air matanya kembali jatuh.
Kris tidak ada di sana. Tadi Mariam yang minta agar pemuda itu menjaga Naela di dalam, sementara dirinya dan Kian duduk di luar kamar.
“Alhamdulillah Naela bisa diselamatkan.” Jawabnya dengan suara serak. “Dan yang membuat Mariam sedih, karena sudah janji akan pakai kerudung kalau Naela tidak jadi mati. Hiks...hiks...hiks...”
Dasar Mariam. Selera humornya tidak pernah kenal tempat dan situasi. Wajar saja kalau Umi Dian mencubit lengannya. Tangan Mariam kemudian ditarik Umi Dian menuju kamar. Fatih yang ada di gendongan Yusuf hanya memperhatikan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Di dalam kamar dengan fasilitas kelas satu ini, Kris berdiri di samping ranjang. Matanya tidak lepas dari Naela yang belum sadarkan diri. Saat Naela bangun nanti, ia pasti akan sangat marah, pikir Kris. Ucapannya sebelum sidang dimulai tadi tentu membuat Naela beranggapan kalau dia ada hubungannya dengan rencana jahat Rais. Padahal ucapan itu tidak berbeda dengan ucapan-ucapannya yang lain. Ia hanya ingin menakuti-nakuti Naela, dan sama sekali tidak tahu kalau persidangan tersebut akan berakhir seburuk ini.
Belum ada tanda-tanda Naela akan membuka mata. Dokter bilang luka tusukan itu cukup serius, beruntung pisau berada dalam posisi miring. Sehingga tidak melukai organ- organ dalam.
Kris menopang dagu dengan salah satu tangan, memperhatikan wajah Naela yang pucat. Jujur ia merasa kasihan. Tapi saat diingat-ingat kembali, betapa sering Naela mempermalukannya di pengadilan, ingin sekali ia lepaskan semua selang-selang yang terhubung dengan tubuh Naela. Atau jika perlu, ia akan membekap wajah Naela sampai kehabisan napas.
Lelaki itu menggeleng, mengutuk pikiran jahat yang barusan melintas. Ia tahu batas-batas memusuhi orang lain, termasuk batas dalam memusuhi Naela. Terkadang ia tidak paham, apakah kebenciannya pada Naela benar-benar sebuah kebencian?
“Kamu cepat sembuh.” Katanya lirih, melirik wajah Naela. Setelah itu ia berjalan menuju pintu dan di waktu yang sama rombongan Umi Dian masuk.
“Assalamualaikum...” Umi Dian mengucap salam pelan.
Kris menyambut dengan senyuman yang hampir tak terlihat. Ia sedikit menganggukkan kepala untuk menghormati Umi Dian.
Tak ada percakapan apapun. Umi Dian cepat-cepat menarik tangan Mariam ke dekat ranjang. Sebelum melangkah keluar, mata Kris sempat bertatapan sejenak dengan Yusuf. Tidak ada ekpresi berlebihan dari keduanya, kecuali sedikit senyuman dari Yusuf.
“Siapa dia?” tanya Kris dalam hati setelah berada di luar kamar. Segera ia menggeleng, berusaha mengabaikan rasa ingin tahunya.
Kris berjalan meninggalkan tempat itu sambil merogoh saku jas, mencari-cari kotak rokok. Sejak pagi tadi tak satu batang rokok pun ia hidupkan. Begitu keluar dari gedung rumah sakit rokok itu langsung dinyalakan. Jasnya dilepas hingga menyisakan baju kaos putih. Ia masuk ke mobil mengambil kemeja kotak-kotak, kemudian dipakai dan kancingnya tetap dibiarkan terbuka. Tak berapa lama, Kris sudah melesat ke jalan raya. Ia singgah di cafe kecil. Cake cokelat dan secangkir kopi ia habiskan dalam hitungan detik. Saat ia kembali ke mobil, kaos putihnya sudah dipenuhi noda-noda cokelat dan kopi.
***
“Kak Naela kenapa?” Fatih menoleh. Bertanya pada Yusuf.
“Kak Naela sakit. Kita berdoa ya untuk Kak Naela.” Jawab Yusuf. Suaranya dibuat sepelan mungkin. Kemudian ia kecup kening bocah laki-laki yang ada di gendongannya itu.
Anggukan Fatih terlihat. Matanya terlihat sayu.
“Kalau gitu Fatih mau turun.” Ucapnya.
Yusuf turuti keinginan Fatih. Ia turunkan anak itu dari gendongannya. Setelah kakinya sampai di lantai, Fatih segera bersujud di atas lantai. Ia berdoa dengan posisi seperti itu.
“Ya Allah, Kak Naela pernah bilang, Fatih akan semakin dekat dengan-Mu kalau sedang sujud seperti ini. Sekarang Fatih sudah sujud, berarti kita berdekatan, kan? Allah bisa dengar Fatih dengan jelas, kan? Kalau gitu Fatih mau minta sesuatu. Tolong sembuhkan Kak Naela. Fatih sayang Kak Naela.”
Apa yang dilakukan Fatih saat ini membuat Yusuf sangat tersentuh. Begitu juga dengan Umi Dian dan Mariam. Bahkan air mata Mariam meleleh semakin cepat saja.
Beberapa detik kemudian Fatih sudahi sujudnya. Ia berdiri dan kembali minta digendong Yusuf. Pemuda itu tersenyum melihat tingkah Fatih. Ia cubit pipi anak itu dengan gemas.
“Nae. Ini Umi, Nak.” Umi Dian berkata lirih. Ia seka air mata dengan ujung kerudung sebelum menciumi kening Naela.
Naela tetap seperti tadi, diam dengan mata tertutup. Ia terlihat seperti seorang yang sedang tidur lelap. Jika tidak karena bibir yang putih pucat, tidak akan ada yang tahu ia tengah terbaring sakit. Ruangan ini hening. Tidak ada suara apa pun kecuali desingan mesin yang memantau detak jantung Naela dan isak kecil Umi Dian.
“Maaf, aku tidak bisa menunggu Naela hingga sadar. Mama baru saja mengirim pesan, katanya Cahaya terus menangis. Jangan lupa memberi kabar saat Naela sudah siuman.” Ucap Kian yang sejak tadi berdiri di dekat Mariam.
“Kamu tenang saja. Aku akan mengabari.” Mariam tersenyum.
CHAPTER 21 : Kau akan Segera Tahu Balasannya!
Sudah lima jam sejak ia dibawa ke rumah sakit ini, Naela masih belum sadar dari pingsan. Mesin-mesin pemantau detak jantung terus berjalan. Bunyinya memecah keheningan kamar. Naela masih terjebak di alam bawah sadarnya. Berkelana kembali menyusuri jalan-jalan di masa silam.
Lima tahun lalu di musim gugur...
Langit kota Ann Arbor terlihat biru bersih. Gumpalan awan putih hanya terlihat jauh di sebelah Barat. Pohon- pohon hijau kini berubah kehitaman. Burung-burung yang mulai kedinginan masih mengisi langit-langit kota. Terbang entah menuju ke mana.
Gadis berkerudung krem itu berjalan dengan senyuman di bibir. Awal musim gugur selalu membuat hatinya berbunga-bunga. Setiap helai daun yang jatuh seolah membawa pergi salah satu beban dalam hati. Ia seperti punya semangat berkali lipat dari biasanya. Udara sudah mulai dingin sehingga ia harus membungkus tubuh dengan jaket hangat.
“Hi. Assalamualaikum, Naela. Mau ke mana?” seorang wanita berwajah Arab menyapa. Namanya Hazret.
Mahasiswi berdarah Iran. Hari itu wajah Arab-nya semakin cantik dengan kerudung pasmina warna merah.
Naela tersenyum. Ia jawab salam temannya sebelum mereka berpelukan hangat. “Aku akan ke perpustakaan. Siang ini tidak ada kelas. Jadi kuputuskan untuk mencari beberapa buku di perpustakaan saja. Lha kamu sendiri mau ke mana?”
“Aku ada halaqah di Masjid kota Michigan dua jam lagi. Jadi harus buru-buru naik bus ke sana. Oke, sampai ketemu lagi, ya.” Hazret segera berlari setelah mengucap salam.
“Waalaikumussalam. Hati-hati, Hazret.” Seru Naela. “Kau juga hati-hati. Di perpustakaan kita banyak sekali berkeliaran setan berwujud manusia.” Balas Hazret seraya mengerling.
Naela tersenyum meski masih tidak paham setan apa yang dimaksud Hazret. Ia lanjutkan langkah menuju gedung universitas. Para mahasiswa sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang berjalan terburu-buru, ada yang saling berbincang dalam kelompok-kelompok kecil, ada yang hanya berdua saja, dan ada yang asik membaca buku.
Tak lama Naela tiba di ruang perpustakaan yang luasnya hampir setengah lapangan sepak bola. Puluhan ribu buku ada di sana. Rak-raknya serupa labirin. Disediakan pula meja dan kursi untuk membaca. Deretan komputer yang tersambung ke internet menghiasi salah satu sisi ruangan. Tidak banyak mahasiswa di perpustakaan pada siang itu. Hanya terlihat satu wanita Negro yang khusyuk menghadap komputer serta dua laki-laki Barat yang berbincang dengan petugas perpustakaan.
Langsung saja Naela mulai menelusuri rak demi rak. Ia tidak punya rencana akan mencari buku dengan judul tertentu, hanya mencari barangkali ada yang menarik. Tidak hanya di rak untuk buku-buku hukum, Naela juga sampai di rak-rak buku biologi. Sebuah buku berjudul Silent Spring menyita perhatian gadis itu. Judulnya seperti novel, padahal itu buku ilmiah. Berisi tentang bahaya pemakaian pestisida berlebihan. Hanya karena hama tanaman ludes terbunuh oleh pestisida, ekosistem jadi rusak. Burung-burung yang memakan bangkai hama juga ikut mati. Hingga semua itu jadi penyebab musim semi yang hening. Tidak ada kicauan burung dan tidak ada kupu-kupu yang beterbangan.
Naela ambil buku tersebut. Ia kembali berjalan. Kini sudah cukup jauh dari area baca dan deretan komputer. Ia sudah masuk ke dalam labirin rak-rak buku. Beberapa menit kemudian langkahnya terhenti di salah satu lorong pendek yang diapit dua rak buku. Apa yang tertangkap matanya sungguh tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Kaki Naela seperti terkunci.
Saat mata wanita bule itu terbuka, ia kaget bukan kepalang melihat Naela sudah berdiri dengan jarak tidak sampai lima belas meter. Laki-laki di depannya menoleh ke belakang.
“Sam...” ucap Naela lirih. Tidak percaya. Ia kemudian meludah ke kiri dan segera berlari pergi. Air mata menetes tanpa bisa ditahan. Ia marah pada dirinya sendiri. Andai saja hari ini ia tidak pergi ke perpustakaan, pasti ia tidak akan melihat kejadian menjijikkan seperti itu. Naela terus berlari hingga keluar gedung universitas. Bayangan Sam dan perempuan itu masih ada di kepalanya, menciptakan sesak di dalam hati.
Keesokan hari Naela bertemu Sam di kelas. Laki-laki itu meludah tepat di hadapannya. Balasan sakit hati karena sehari lalu Naela meludah saat melihatnya di perpustakaan. Wajah Naela masih masam. Ia bahkan langsung berjalan menuju kursi. Tidak mau mengurusi tindakan balas dendam Sam barusan.
“Heh!” bentak Sam. Ia pukulkan tangannya ke meja. Tepat di depan Naela. Gadis itu sedikit tersentak.
“Bisa kamu jelaskan alasanmu meludah kemaren?! Itu sangat tidak sopan dan aku sangat tersinggung!” Seru Sam sedikit berjongkok.
Naela tetap menunduk. Ia mungkin sudah belajar maklum dengan pergaulan bebas muda-mudi Amerika, tapi tidak dengan apa yang sudah dilakukan Sam di perpustakaan. Itu tempat orang mencari ilmu pengetahuan, tempat buku-buku disimpan, tidak seharusnya dikotori dengan hal seperti itu.
“Kau tuli? Aku sedang bicara padamu!” kini Sam agak membentak.
“Binatang sepertimu memang pantas diludahi.” Jawab Naela lirih namun tegas.
Sam terkekeh. “Binatang?”
“Apa lagi julukan yang lebih pantas kalau bukan binatang? Manusia diberikan akal, punya kepandaian sehingga mereka bisa membangun rumah-rumah dan kamar sebagai privasi. Sedangkan binatang tidak! Itulah sebabnya mereka kawin di mana saja. Anjing kawin di tepi jalan, kucing kawin di bawah meja, dan monyet kawin di pepohonan. Seharusnya kalau kamu mau berbuat maksiat, berbuatlah di tempat yang privasi, jangan seperti binatang yang melakukan hal seperti itu di sembarang tempat, bahkan di got dan selokan pun mau!” emosi Naela benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi. Matanya berair saat mengucapkan kalimat ini.
“Oh. Aku tidak percaya ini.” Sam mengusap rambut. Wajahnya pias. Ia tatap Naela dengan pandangan tidak habis pikir. “Damn! Kau akan segera tahu balasan dari perbuatanmu ini, wanita sialan!” umpatnya sebelum pergi keluar kelas. Sejak hari itu ia tidak hanya benci pada Naela, tapi juga menyimpan dendam.
Angin musim gugur berembus masuk dari jendela- jendela kelas. Naela masih menunduk di tempat duduknya. Ia tahu apa yang keluar dari lisannya barusan terlalu berlebihan. Tapi Sam memang pantas mendapatkannya. Balasan apa yang dimaksud Sam, tidak lama lagi Naela benar-benar akan tahu.
***
Naela sadar pada pukul sepuluh malam. Mariam sudah tertidur di Sofa, Yusuf sedang bermain game di tablet bersama Fatih, dan Umi Dian mengaji di samping ranjang Naela.
Begitu tahu Naela membuka mata, Umi Dian langsung berdiri. Air matanya tumpah lagi. Ia cium kening putri satu- satunya itu dengan penuh kasih sayang. Ucapan syukur berkali-kali keluar dari bibir Umi Dian. Yusuf dan Fatih juga mendekat. Dan selang beberapa detik Mariam pun terbangun. Ia segera beranjak dan berjalan ke dekat Naela.
“Fatih...” panggil Naela lirih. Matanya belum terbuka. Ia juga masih belum sadar seutuhnya. Tapi Fatih, meski dalam keadaan tidak sadar sekali pun, ia pasti akan mengingat anak itu.
“Fatih ada di sini, Nae.” Umi Dian memberi tahu. Ia ambil tangan Fatih kemudian disentuhkan di tangan Naela.
“Umi, mana Fatih? Fatih?” tanya Naela. Suaranya seperti ketakutan. Padahal matanya belum terbuka.
“Kak Naela.” Panggil Fatih. Suaranya bening.
Mata Naela terbuka dan langsung tertuju pada bocah lima tahun di samping ranjangnya. Pandangannya masih kabur, namun ia coba tersenyum. Samar-samar ia melihat wajah Fatih yang sayu karena baru sembuh dari sakit.
“Kenapa Fatih masih belum tidur? Ini sudah jam berapa?” tanya Naela bertubi-tubi. Ia masih begitu lemah.
Naela menggerakkan tangannya. Meski sulit ia berusaha untuk menggapai kepala Fatih. Diusapnya perlahan. Kecemasan Naela yang berlebihan kepada Fatih itu dimaklumi Umi Dian. Wanita 64 tahun itu tahu betul bagaimana Naela merawat bocah itu sejak kecil hingga sekarang sudah berumur lima tahun.
“Nae, kamu jangan banyak gerak dulu. Fatih baik-baik saja, kok.” Sambung Mariam. Suaranya dipenuhi kekhawatiran.
Sudah sejak tadi Yusuf turut menyaksikan semua yang terjadi di ruangan ini. Ia diam saja. Namun dalam hati ia mengagumi kecintaan Naela pada adik angkatnya itu. Di luar sana tidak sedikit wanita yang membunuh buah hatinya sendiri, dibuang ke tong sampah, dibungkus kardus, dan sebagainya. Sementara di sini, Naela bisa mencintai anak yang bukan darah dagingnya hingga sedalam itu.
“Kak Naela.” Panggil Fatih. Diusap-usapnya punggung tangan kanan Naela dengan hati-hati. “Fatih tahu seperti apa sakitnya dutusuk jarum seperti ini. Kakak cepat sembuh, ya. Biar jarumnya cepat dilepas.” Katanya dengan wajah sedih. Matanya tertuju pada selang infus di pergelangan tangan Naela.
Malam ini Umi Dian, Fatih, dan Mariam tidur di kamar Naela. Yusuf tidur di hotel yang tidak begitu jauh dari rumah sakit.
***
Hari kedua keadaan Naela semakin membaik. Wajahnya terlihat lebih cerah dibandingkan malam tadi. Sepanjang hari dia meladeni pertanyaan-pertanyaan Fatih yang duduk di samping ranjangnya.
Sekitar pukul delapan pagi tadi, rombongan Pak Jamal dan teman-teman dari Jamal & Partners datang menjenguk. Mereka semua masih berpakaian kerja. Naela sangat senang mendapat kunjungan itu. Seperti biasa, Bang Regar dan Mariam adu mulut tanpa ada yang mau mengalah. Semua orang tidak bisa menahan tawa termasuk juga Naela. Padahal kalau dibuat tertawa, perutnya jadi sangat nyeri. Rombongan itu pulang dua jam kemudian.
Tak berselang lama, Kian datang bersama Sang Ibu, Cahaya, Gio, dan Shindy. Ia membawakan satu buket bunga dan buah-buahan, sedangkan Cahaya membawakan kue cokelat.
Satu hal yang membuat Naela tidak percaya adalah Shindy yang kini sudah berhijab rapat. Wanita itu terlihat anggun dengan balutan gamis berwarna biru donker dan kerudung merah muda. Berbeda dengan kali pertama pertemuan mereka, kini Shindy lebih menjaga tutur bahasanya. Ia juga menjadi murah senyum pada siapapun.
“Terimakasih ya, Nae. Kakak nggak tahu bagaimana caranya berterima kasih padamu. Maafkan Kakak. Kamu jadi seperti ini juga karena Kakak.” Ucap Shindy tulus.
Naela menggeleng. “Ini semua sudah ketentuan Allah, Kak. Sama sekali bukan kesalahan Kakak.”
“Kak Naela kapan main ke rumah Nur lagi?” tanya bocah perempuan yang sejak tadi memegangi jari-jari Naela. Bahkan Fatih sampai iri melihatnya.
“Insya Allah kalau Kakak sudah sembuh ya, Sayang.”
“Janji?” Cahaya menyeringai.
“Insyaa Allah.”
Kian yang sejak tadi hanya berdiri mengamati, kini bergeser lebih dekat.
“Rais sudah ditangkap. Termasuk Bams. Ternyata selama ini dia dibantu oleh Bams. Termasuk tentang bantal yang menjadi alat bukti. Bantal itu ditukar beberapa saat sebelum polisi datang. Bams mengambil bantal Kak Shindy di kamarnya. Nae, maafkan aku karena tidak mempercayaimu.” Ucapnya dipenuhi wajah bersalah.
“Aku pasti akan melakukan hal yang sama jika ada di posisimu.” Jawab Naela maklum. “Aku hanya ingin berpesan, jangan lagi mencintai sesuatu dengan berlebihan. Semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah amanah yang sewaktu- waktu bisa diambil oleh pemiliknya.”
Laki-laki itu mengangguk.
“Lain kali jika kau butuh bantuanku, jangan pernah sungkan. Dan oh, bisakah kau merekomendasikan seorang yang paham agama untuk memberi pengajian rutin di rumahku?” tanya Kian yang membuat Naela tidak percaya.
“Akan kukirimkan kontaknya padamu.” Naela berkata dengan wajah berseri. Sungguh permintaan Kian barusan seumpama angin di musim semi bagi Naela.
Kian dan keluarganya pulang 15 menit kemudian. Lalu tidak sampai satu jam setelah itu, Naela harus meladeni kunjungan para awak media. Serentetan pertanyaan ditanyakan dan dengan sabar dijawab Naela satu persatu. Daftar pertanyaan seperti tidak akan habis kalau dokter Salwa—dokter yang menangani Naela—minta pertemuan segera disudahi. Naela masih butuh istirahat banyak.
Sekarang sudah pukul sebelas. Mariam pamit pulang untuk bersih-bersih dan ganti baju. Di ruangan ini masih ada Umi Dian, Fatih, dan Yusuf. Umi Dian mendekati Naela, bertanya, “Masih sakit, Nae?”
Tidak segera menjawab, Naela coba untuk sedikit menaikkan kepalanya mencari posisi yang nyaman. Sejak kemaren ia hanya bisa berbaring. Buang hajat pun dilakukan tanpa berpindah posisi. Tadi pagi ia sempat berusaha untuk duduk bersandar, namun perih di perutnya berubah seperti sengatan listrik. Naela menyerah. Meskipun punggungnya terasa lelah, ia harus tetap berbaring.
“Masih sakit kalau dibuat bergerak, Umi.”
Yusuf kini sudah berdiri di samping Umi Dian. Sejak kemaren dia memang tidak banyak bicara. Pakaiannya belum ganti. Masih mengenakan switer hitam dan celana krem panjang.
“Umi mau ke ruang dokter dulu, ya? Tadi dokter Salwa minta Umi datang ke ruangannya. Kamu di sini ditemani Yusuf, sekalian biar bisa kenalan.”
Mata Naela membulat karena kaget. Hatinya jadi berdebar-debar tak karuan. Ia berusaha menahan Umi Dian agar nanti saja datang ke ruang dokter Salwa. Sayangnya wanita 64 tahun itu tidak menggubris, ia bilang tidak enak kalau tidak segera datang ke ruang dokter Salwa. Umi Dian melenggang keluar setelah berkata pada Yusuf untuk menjaga Naela.
Beberapa saat tidak ada pembicaraan apa pun antara Naela dan Yusuf. Naela justru sibuk bicara dengan adiknya. Dalam hati Yusuf merasa sangat gugup.
“Beruntung ya kamu bisa kuliah di Turki.” Akhirnya kalimat inilah yang meluncur dari lisan Naela.
“Iya, sejak kecil aku memang sudah bermimpi untuk hidup selama beberapa waktu di Turki. Barangkali karena ayahku selalu bercerita tentang penaklukan Konstatinopel oleh panglima terbaik Islam, Muhammad Al Fatih.” Jawab Yusuf. Sekuat tenaga ia menjaga agar suaranya terdengar santai. Ia tarik kursi dan duduk di sana.
“Hmm, Muhammad Al Fatih.” Gumam Naela. Ia lirik Fatih yang sedang mencoret-coret kertas di sampingnya.
Yusuf mengangguk, kemudian tersenyum. “Ayahku adalah penggemar berat Muhammad Al Fatih. Dulu ketika kecil, setiap malam sebelum beranjak tidur, Ayah selalu bercerita kisah penaklukkan luar biasa yang dilakukan Al Fatih. Dan sejak kecil pula, aku ingin melihat langsung Konstatinopel, Istanbul sekarang.”
“Semua orang yang tahu sejarah pasti mencintai Al Fatih. Karena itu juga aku memberi nama adikku ini Fatih. Aku ingin sekali mengajak Fatih ke sana suatu hari nanti. Lalu ke Bosnia dan seluruh negeri di Semenanjung Balkan.”
Fatih kecil yang mendengar pembicaraan dua orang dewasa di dekatnya itu ikut bertanya. “Muhammad Al Fatih itu siapa, Kak Nae? Kenapa pakai-pakai nama Fatih juga?” matanya mengerjap. Ia seperti berpikir sesuatu.
Senyuman Yusuf terlihat. Ia usap kepala bocah pintar itu. “Dulu ada sebuah kerajaan besar bernama Romawi. Kekuasaan mereka disegani di seluruh dunia. Mereka juga menguasai hampir separoh dari dunia ini. Imperium Romawi itu terbagi jadi dua, Romawi Barat dan Romawi Timur. Nah, Romawi Timur ini punya ibukota bernama Konstatinopel. Kota Konstatinopel adalah kota yang luar biasa indah. Semua orang di jaman itu bermimpi agar bisa berkunjung ke sana. Bahkan salah satu pemimpin dari Prancis sempat berkata, ‘seandainya dunia ini adalah sebuah negara, maka Konstatinopel adalah ibu kotanya’. Di konstatinopel pula didirikan bangunan-bangunan indah yang dikagumi banyak orang. Salah satu bangunan itu adalah gereja Hagia Sophia. Setiap orang yang datang ke Konstatinopel pasti akan takjub pada Hagia Sophia. Mereka selalu kehabisan kata untuk menceritakan kembali keindahan bangunan tersebut. Kota Konstatinopel tidak hanya indah, ia juga punya pertahanan kuat yang sangat sulit ditembus musuh.
Selain punya benteng alami berupa tiga laut yang mengelilingi, Kontatinopel juga memiliki tembok kokoh berlapis-lapis. Ratusan tahun lamanya kerajaan-kerajaan lain terus berusaha merebut Konstatinopel, tapi tidak ada satu pun yang berhasil. Hingga akhirnya, seorang panglima dari kekhalifahan Islam bernama Muhammad Al Fatih yang berhasil menaklukkan kota tersebut. Al Fatih masih berusia 21 tahun saat itu. Namun ia bukanlah pemuda biasa. Sejarah mencatat bahwa sejak akil baligh Al Fatih tidak pernah meninggalkan shalat wajib, shalat sunnah rawatib, dan shalat malam.
Saat tahu kapal-kapal pasukannya tidak bisa melintasi Selat Ujung Tanduk akibat rantai besar yang dipasang di sana, Al Fatih segera memutar otak. Kemudian disuruhnya semua kapal-kapal dinaikkan ke daratan. Pasukan Islam menarik kapal-kapal itu melintasi bukit-bukit di daratan. Ini adalah ide yang tidak pernah terpikirkan sedikit pun oleh pemerintahan Romawi. Ke esokan paginya, semua orang tercengang tidak percaya saat puluhan kapal pasukan Muslim sudah berlayar di Selat Ujung Tanduk. Gemuruh takbir terdengar. Dan tak lama, Kota Konstatinopel, kota yang selama ratusan tahun hadir dalam impian banyak orang, jatuh ke tangan orang-orang Islam.
Al Fatih masuk ke Kontstainopel dengan penuh rasa syukur. Ia sujud syukur di gereja Hagia Sophia dan saat itu juga gereja tersebut dialih fungsikan sebagai masjid. Masjid Aya Sofia. Selama menjadi masjid, empat buah menara minaret ditambahkan di Aya Sofia. Keindahannya semakin menyihir. Tapi hebatnya, Al Fatih tidak pernah menyuruh para kotraktor Aya Sofia untuk menanggalkan semua simbol Kristen dalam bangunan itu. Lukisan Bund Maria tetap ada di sana dan bersanding indah dengan kaligrafi Al Quran. Hal ini mengabarkan pada generasi selanjutnya, termasuk kita, bahwa khalifah Islam dahulu begitu menjunjung tinggi toleransi antar ummat beragama. Begitulah ceritanya, Fatih...” Yusuf tersenyum pada Fatih cilik yang memperhatikan tanpa berkedip.
“Apakah itu kisah nyata?” tanya Fatih masih tidak percaya.
“Iya, Fatih sayang. Itu kisah nyata. Itulah sebabnya Fatih harus bangga dengan nama Fatih.” Sahut Naela.
Bocah itu mengangguk-angguk. “Fatih ingin bertemu dengan Aa Muhammad Al Fatih. Ayo, Kak Naela cepat sembuh. Nanti kita pergi ke Konstatinopel dan ketemu Aa Muhammad Al Fatih. Dia pasti senang kalau tahu nama kita sama-sama Fatih.”
Yusuf bertambah gemas dengan bocah itu. Diciumnya kepala Fatih. “Dia sudah meninggal. Tapi Fatih tetap bisa berziarah ke makamnya di Istanbul sana.”
Wajah kecewa Fatih terlihat. Senyum semangatnya hilang. “Yah, kok sudah meninggal. Istanbul itu di mana lagi?”
“Konstatinopel sekarang dikenal dengan nama Istanbul, Fatih sayang.” Sahut Naela.
“Kalau gitu, ayo kita ke Istanbul, kak.” Fatih berseru. Wajahnya kembali sumringah.
“Kalian memang harus ke sana, Nae. Awal tahun depan aku akan kembali ke Turki untuk ambil Doktor. Melalui rekomendasi seorang profesor, alhamdulillah aku bisa sekolah gratis lagi. Dan...” Yusuf menghentikan kalimatnya sejenak. Dengan wajah sungguh-sungguh ia melanjutkan. “Kamu bisa ikut tinggal di sana.” Yusuf mengambil jeda, kemudian sedikit ragu ia berkata lirih, “Jika kamu mau.”
Deg.
Ada sesuatu yang menyentak hati Naela hingga ia tidak tahu lagi harus berekspresi atau menjawab bagaimana. Kalimat Yusuf barusan mengandung banyak makna yang sulit untuk ditafsirkan begitu saja. Ingin bertanya apa maksud sebenarnya, Naela malu.
Sementara Yusuf, ia terkejut dengan kalimatnya sendiri. Mengapa tiba-tiba ia menawarkan ajakan seperti itu kepada Naela? Namun dalam hatinya yang paling dalam ia merasa tidak ada yang salah. Sejak pertama kali ia melihat Naela di halaman Masjid malam pengajian itu, ia memang sudah menaruh simpati dan niat yang mantap untuk mendatangi wali gadis itu suatu hari nanti.
“Maaf.” Ucap Yusuf lirih. Ada cemas yang menyusup dalam hatinya, cemas Naela menjadi terganggu karena kalimatnya barusan.
Naela tersenyum, lalu berkata dengan wajah cerah, “Tawarannya boleh juga. Nanti aku, Fatih, dan Umi bisa ikut berangkat ke Turki bersamamu. Lumayan kan kita punya tour guide gratis dan dipandu dengan bahasa Indonesia pula. Atau bisa jadi kami juga akan dapat tumpangan gratis.”
Mendengar ucapan Naela, Yusuf ikut tersenyum. Tidak sangka kalau Naela akan merespon seperti itu. Padahal tadinya ia kira wanita itu akan Marah pada kelancangannya. Dalam hati Yusuf membatin, “Naela tidak menangkap maksud dari ajakannya tadi.”
Sementara Naela, ia merasa sangat senang dan memuji kerja kepalanya yang cukup cerdas kali ini. Naela bangga dengan keberhasilannya mengarang kalimat yang bisa mencairkan kegugupan mereka. Pura-pura bodoh dan jadi orang yang tidak nyambung sesekali memang dibutuhkan. Seperti kali ini, jika kalimat tadi tak segera muncul di kepalanya, pasti ia hanya bisa tersipu dengan wajah merona.
“Kurasa kamu harus mencari penafsiran lain dari ajakanku tadi.” Kata Yusuf, namun tidak sampai diucapkan oleh lisannya, hanya di dalam hati. Yang keluar dari lisannya justru hanya ucapan pendek, “Insya Allah aku akan jadi pemandu yang baik untuk kalian.”
CAHPTER 22 : Pulang
Mariam datang ke rumah sakit pukul 6.30 pagi. Ia hanya datang sebentar sebelum ke kantor. Ia juga membawa satu rantang ukuran sedang berisi nasi yang masih hangat, ayam goreng cabe ijo, dan sup sayuran untuk Umi Dian dan Yusuf. Umi Dian berkali-kali memuji-muji Mariam ‘Aduh kamu itu peka sekali ya, Mariam. Tahu kalau lidah Umi ini tidak cocok dengan masakan rumah sakit’. Mendengar dirinya dipuji, Mariam justru semakin sumringah, ia kibas-kibaskan rambutnya. Yusuf ikut sarapan, setelah itu ia pamit pulang untuk menjemput ayah dan ibunya. Ustad Husein dan sang istri juga ingin menjenguk Naela di rumah sakit.
Keadaan Naela sudah jauh lebih baik. Ia sudah bisa pindah ke kursi roda. Dokter Salwa bilang Naela sudah bisa pulang hari ini. Karena itulah sejak tadi Umi Dian sibuk memberesi pakaian dan semua yang ingin dibawa pulang sore nanti.
“Tadi pagi sebuah acara infotainment mewawancarai Kris di rumahnya.” Mariam memberi tahu.
Naela membulatkan mata. “Mewawancarai Kris? Untuk apa? Bahkan mendengar namanya saja jahitan di perutku kembali perih.”
“Jangan begitu, Nae. Biar begini aku tahu lho kalau dalam Islam kita dilarang untuk membenci sesuatu berlebihan. Sebaliknya, kita juga tidak boleh mencintai sesuatu berlebihan. Biasa-biasa saja. Lagian ketika kamu pingsan kemaren, Kris yang membantuku membawamu ke rumah sakit ini. Dia yang membopongmu masuk ke dalam mobil. Dia juga yang menyetir dengan wajah cemas. Sepertinya dia tidak pernah benar-benar memusuhimu.”
“Seandainya aku bisa berjalan saat itu, tentu aku akan jalan sendiri ke rumah sakit. Kamu tidak tahu Mariam apa yang diucapkannya sebelum sidang dimulai. Dia itu sudah bersekongkol dengan Rais untuk mencelakaiku. Semua sifat manisnya tidak lain hanya sandiwara. Itu semua sekadar untuk menutupi kejahatannya.”
Mariam tidak menjawab apa-apa lagi. Kalau Naela sudah seperti itu, biasanya tidak bisa menerima saran dan nasehat apapun. Meskipun kali ini ia tidak sejalan dengan Naela, namun ia lebih memiih diam.
“Sudahlah Nae, sebaiknya kita membicarakan hal lain saja.” Mariam memberikan solusi. Ia rasa suasana pagi ini jadi tidak nyaman karena pembicaraan tentang Kris. “Kabar baik, follower instagramku bertambah seratus ribu dalam waktu tiga hari terakhir. Kurasa ini berkah persahabatanku denganmu. Karena banyak foto selfie kita berdua yang ku- upload di sana. Kamu lihat ini?” Mariam menunjukkan kalung berwarna putih dengan mainan bulu merak. “Ini salah satu aksesoris gratis dari online shop yang memintaku endorse produk mereka. Aku juga punya tiga baju baru, dua tas branded, dan lima pasang sepatu mahal. Semuanya gratis. Kalau kamu mau tas baru, bilang ke aku saja ya Nae, tidak perlu sungkan.”
Mendengar ocehan Mariam, Naela melirik pada Uminya. Umi Dian geleng-geleng kepala seraya tersenyum. Baru saja Naela ingin membuat kesimpulan bahwa sejak ia siuman kemaren, Mariam sudah berubah normal. Tapi sekarang ia sudah kambuh lagi.
***
Malam harinya ba’da Isya, Naela dan keluarga pulang menuju rumah di Bogor. Mariam ikut mengantar. Ia pinjam mobil ayahnya agar bisa ikut membawa penumpang. Yusuf dan orang tuanya tiba di rumah sakit tepat sesudah Asar dan mereka langsung kembali Bogor beberapa jam kemudian.
Mobil yang dibawa Mariam melaju lebih dulu, mobil Yusuf mengikuti dari belakang. Karena kondisi Naela yang masih sangat memprihatinkan, Mariam mengemudi dengan hati-hati. Tidak dibiarkannya ada sedikit pun hentakan yang nanti bisa membuat jahitan di perut Naela kembali sakit. Urusan mengemudi Mariam memang bisa diandalkan. Pelan namun nyaman. Sebagai gantinya, Umi Dian dan Naela harus mendengarkan ocehan Mariam sepanjang jalan. Sebagian besar cerita tentu saja tentang profesi Mariam sebagai artis instagram. Cerita yang sudah sangat membosankan bagi Naela. Syukurnya Mariam selalu bisa bercerita dengan ekspresi lucu sehingga membuat orang yang mendengarnya tidak bisa untuk tidak tertawa.
Tepat dua jam, mereka sudah sampai di rumah sederhana yang terletak di perumahan Dramaga Cantik, lokasinya tidak begitu jauh dari kampus Institut Pertanian Bogor Dramaga. Mobil Yusuf sampai sekitar lima menit kemudian. Umi Dian mempersilakan pemuda itu dan kedua orang tuanya untuk masuk.
“Mau di sini dulu atau langsung istirahat di kamar, Nae?” tanya Mariam.
“Di sini saja. Aku juga belum mengantuk. Kapan lagi bisa kumpul-kumpul seperti ini.”
“Ya Neng Naela, Umi mah masih penasaran. Bagaimana ceritanya bisa sampai ditusuk begitu?” sambung Umi Halimah, ibunya Yusuf.
Tanpa diminta dan tidak perlu diberi aba-aba, Mariam justru dengan senang hati menceritakan kronologi kejadian di persidangan beberapa hari lalu. Semuanya mendengarkan dengan sesekali menampakkan wajah ngeri. Ketika cerita Mariam sampai di momen saat pisau tajam menembus perut Naela, Umi Halimah dan Umi Dian mendesis seperti sedang nyilu. Naela sendiri sampai memejamkan matanya, tidak menyangka kalau peristiwa seperti itu sudah pernah ia alami.
Ingatan Naela tiba-tiba membuana pada satu kisah yang selama ini selalu membuat hatinya bergetar, yaitu kisah tentang Dr. Marwa Al-Sharbini. Naela tidak bisa membayangkan jika hal yang dialami Marwa juga terjadi pada dirinya. Satu tusukan saja perihnya tidak terkira sampai ia jatuh pingsan. Lalu seperti apa sakit yang dirasakan Marwa saat 18 tusukan menghujam ke dalam tubuhnya di tengah pengadilan? Padahal wanita itu baru saja akan memulai kesaksian perihal dirinya yang sudah menerima perlakuan tidak baik karena hijab yang dikenakannya. Namun, seorang pemuda Jerman berdarah Rusia yang selama ini mengolok- oloknya menerobos lalu menancapkan pisau berkali-kali ke tubuh ibu yang sedang hamil anak kedua itu. Sang suami yang coba melindungi Marwa pun tidak berdaya menampung serangan yang membabi buta tersebut. Ia bahkan menerima tusukan dan satu tembakan sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit.
Perut Naela terasa kembali perih ketika ia membayangkan keadaan Marwa yang sedang hamil mengalami sakaratul maut akibat 18 luka di tubuhnya. Hanya karena Marwa memperjuangkan hijab, selembar kain yang tidak mungkin bisa melukai atau sampai membunuh orang lain. Dan kejamnya dunia Barat, peristiwa itu ditutupi sehingga tidak ada satu pun media yang menjadikannya sebagai headline. Pemuda kejam itu bahkan masih dilindungi oleh pengadilan denga nama samaran yang diberikan.
Oh Marwa... wanita-wanita tangguh yang mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan prinsip sepertimu lah yang harusnya ditiru oleh para Muslimah. Engkau jadikan perintah Tuhan sebagai harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Hati Naela gerimis. Jika mengingat apa yang sudah dialami Marwa ia jadi malu sendiri. Satu tusukan itu sungguh tidak ada apa-apanya. Terlebih jika satu tusukan itu sampai membuatnya tinggi hati dan merasa menjadi seorang pahlawan.
“Nae, kenapa diam saja?” tanya Mariam membuat Naela sadar bahwa ia sedang duduk di antara banyak orang. “Tuh ditanyain sama Pak Ustad, apa kamu ada perasaan tidak enak sebelum sidang dimulai saat itu?”
Naela tidak langsung menjawab. Ingin rasanya ia ceritakan tentang ucapan Kris sebelum sidang dimulai. Namun hal tersebut urung diceritakan, ia teringat ucapan Uminya ketika di rumah sakit. Meskipun ia punya alasan kuat untuk membenci Kris, tidak ada salahnya ia berprasangka baik. Kalaupun dalam hati tidak mampu, setidaknya ia bisa untuk tidak menceritakan keburukan Kris pada orang lain.
“Tidak ada perasaan apa-apa, Ustad. Hanya sedikit cemas dan deg-degan. Memang Naela selalu begitu setiap kali sidang akan dimulai.” Jawabnya dengan santun.
Pembicaraan itu terhenti ketika dari luar terdengar suara keramaian.
“Assalamu’alaikum. Assalamu’alaikum.”
“Neng Naela!”
Salam dan panggilan dari depan rumah itu meluncur bertubi-tubi. Suara laki-laki dan perempuan saling bersahut- sahutan memanggil nama Naela. Umi Dian cepat-cepat menuju pintu. Dengan bantuan Mariam, Naela menyusul Uminya.
Di depan rumah itu sudah berkumpul sekitar 30 orang. Wajah mereka langsung berseri-seri saat mendapati Naela keluar dari dalam rumah. Mereka adalah warga perumahan yang ingin melihat keadaan Naela. Salah satu dari mereka memberi tahu kepulangan Naela, setelah itu berita dengan cepat menyebar dan mereka sepakat untuk langsung datang ke rumah Naela.
“Bagaimana keadaannya, Neng?” tanya Bu Hani, ketua pengajian wanita.
“Teh Naela sakit kok malah semakin cantik.” Ayu, remaja kelas 2 SMA memberikan pujian.
“Iya, Neng. Wajahnya semakin berseri-seri meskipun kelihatan pucat dan Neng lebih kurusan.” Pak RT ikut berkomentar.
Naela hanya bisa tersenyum. Dalam hati ia sangat bersyukur atas anugerah Allah yang begitu besar. Kalau sudah seperti ini, rasa perih akibat tusukan di persidangan itu menjadi tidak terasa. Naela sangat senang sekaligus terharu. Ia merasa apa yang sudah dilakukannya tidak apa-apanya dibandingkan apresiasi yang diberikan orang-orang kepadanya.
Bersambung ke Bagian 2...











