Aluh Perantauan
Hafidzah Daarut Tauhiid
Kamis, 19 Nopember 2015 kemarin ke Daarut Tauhiid Jakarta yang berlokasi di Serua Tanggerang Selatan. Sebelumnya hanya lewat di persimpangan tiga yang jadi jalan pintasan saat menemani teman ke rumahnya di hari pertama saya di sini.
Saya ke Ponpes yang pengasuh pucuknya Aa Gym ini untuk menemani teman yang ingin tahu lebih banayak tentang panahan. Dan sekaligus silaturrahmi untuk membuka jaringan agar bisa mendapat perlengkapan panahan agar anak-anak peserta lesnya yang free bisa akrab bahkan berprestasi dengan busur dan anak panah.
Kami ke sana dengan satu nama yang dipegang untuk ditemui dan menjadi perantara dengan yang yang tahu seluk-beluk panahan. Namanya Teh Siti, begitu teman saya menyebut namanya.
Dalam benak, karena teman saya ini memanggilnya dengan sebutan Teh dan dia sendiri orang sunda, maka saya kira yang akan ditemui ini adalah salah satu dari saudaranya yang belasan itu. Atau paling tidak kakak atau adik iparnya. Namun ternyata bukan, Teh Siti yang hafidzah ini adalah orang Barabai, Kalsel.
Aluh LIPIA
Bulan lalu, saya dan teman-teman yang dari Kalsel yang selingkungan di kota ini diundang acara makan-makan oleh Ustadz kami yang asalnya dari Pelaihari. Teman yang hadir cuma satu, yang asal Barabai. Sedang satunya yang berasal dari Banjarmasin ada acara lain yang sudah teragendakan dengan teman-teman kenalannya. Ah, beginilah nasib acara dadakan.
Di acara itu, Ustadz yang mengundang kami menceritakan beberapa kisah beliau di kota ini sejak 2009. Tentang organisasi-organisasi mahasiswa Kalsel, batalnya asrama mahasiswi dari Pemprov hanya karena mahasiswi dari dua kampus yang letaknya di Jakarta dan Ciputat tidak sepakat tentang di mana akan dibangun asrama tersebut, sampai kecerobohan pembuatan proposal yang diajukan ke Pemkab A namun ditandatangani oleh putera daerah kebupaten lain. Salah satu cerita yang menarik perhatian saya di acara makan-makan itu adalah tentang penurun jumlah akhwat dari Kalsel di LIPIA.
Tahun ini kata beliau, hanya ada beberapa orang dari semua tingkatan di LIPIA. Tidak sampai lima, padahal beberapa tahun yang lalu kisaran dua puluhan.
Penyebabnya kata beliau ada dua hal. Yang pertama, adalah isu wahabi yang marak beredar dan dikait-kaitkan dengan LIPIA sehingga mempengaruhi keputusan siswi atau santri akan melanjutkan kemana. Atau mempengaruhi keputusan ortu mereka dan pendapat-pendapat orang-orang yang dekat dengan mereka tentang kemana bagusnya si siswi/santri ini melanjutkan pendidikan.
Kedua, yaitu informasi yang minim dan pembukaan pendaftaran yang terlalu cepat sehingga kebanyakan aluh ataupun nanang yang hendak kuliah di LIPIA pasti akan nganggur dulu setahun, menunggu tahun ajaran tahun depan setelah mereka lulus.
Satu fakta lain yang saya simpulkan dari yang saya temui dan yang diceritakan Ustadz kami, adalah bahwa kebanyakan aluh yang kuliah di kota dan kota sekitarnya termasuk LIPIA adalah Urang Banua Anam.
Lalu kenapa kebanyakan aluh-nya dari Banua Anam? Jawabnya karena daerah di sebelah utara Banjarmasin ini adalah asli orang Banjar, sedangkan yang di sebelah selatan kebanyakannya adalah pendatang. Orang perantauan, atau paling tidak keturunan perantauan. Karena yang di selatan Banjarmasin adalah perantauan, maka mereka mungkin tidak terlalu berfikir untuk merantau lagi. Berbeda dengan orang Banjar yang kebanyakannya di Banua Anam yang (lagi-lagi mungkin) ingin merasakan bagaimana rasanya jadi urang perantauan?
Bumi Fath Mubina
08:42:26, Sabtu, 21 November 2015 / 09 Safar 1437
Muhaimin Ibnu Aziz
















