Setalah setengah tahun hidup terpisah, akhirnya saya bisa bekumpul dengan suami di awal tahun 2014. Yeay! Senang sekali rasanya walaupun perlu diakui ternyata hidup bersama memberikan tantangan tersendiri bagi yang sebelumnya pernah dipisahkan jarak. Waktu itu sengaja memilih kos petak di daerah bintaro karena pertimbangan kenyamanan. Jauh memang dari kantor kami berdua, tapi toh kalau berakhir pekan di sekitar-sekitar situ rasanya sudah cukup puas.
Enam bulan setelah mutasi, saya akhirnya hamil. Luar biasa senang dan deg-degan rasanya, sampai-sampai semua orang di dunia harus tau!
Sebenarnya saya sudah mulai membaca-baca buku dan artikel seputar kehamilan sebelum akhirnya hamil betulan, pun setelah hamil saya langsung mengunduh aplikasi kehamilan untuk memangau perkembangan dari hari ke hari dan banyak-banyak bertanya pada orangtua/mertua. Hal pertama yang saya lakukan setelah positif hamil adalah mencari tahu daftar dokter obgyn yang direkomendasikan di daerah tangerang selatan. Tinggal gugling "dokter obgyn rekomendasi tangsel" trus buka berbagai forum ibu hamil yang muncul dari sana. Catat nama dokter, rumah sakit, dan nomor telepon rumah sakit. Prioritas saya adalah mencari dokter terdekat, yaitu di RSIA Buah Hati Ciputat. Dokter wanita yang jadwalnya pas kebetulan hanya satu di sana, yaitu dr. Kartika Sari. Praktek mulai jam 18.00-21.00 setiap Jumat.
Sepulang kantor, berangkatlah kami ke RS dan mendaftar dengan asuransi pribadi. Dr. Kartika ternyata masih sangat muda dan menyenangkan untuk diajak bicara. Ohiya, saya memberi jeda 2 minggu dari testpack sebelum akhirnya ke RS. Beneran, sudah diselang dua minggu pun janinnya ternyata belum kelihatan dari usg atas sehingga harus usg dari bawah (transvaginal). Kalau harus menjelaskan bagaimana, saya akan menjawab tidak nyaman dan awkward. Bentuk alatnya seperti stik berdiameter sekitar 2-3cm dengan panjang kurang lebih 30cm. Ujungnya bulat dan badannya dilapisi kondom serta dilumuri cairan. Entahlah, mungkin itu lubrikan. Saya harus berkonsentrasi agar pantat saya tetap menempel di ranjang periksa agar alat usg bisa masuk ke dalam. And there it is, sebuah kantong berbentuk lingkaran muncul di layar.
Karena posisi sedang bekerja dan kendaraan suami bukan motor bebek, saya merasa perlu untuk menanyakan hal-hal seperti keamanan saat commuting dan berkendara. Dokter bilang tidak ada masalah dan hanya menyebutkan pantangan dalam makanan. Yet she failed to mention that stairs and grilled food are restricted for me. Obat yang dikasi cuma asam folat dan allylestrenol (penguat). Setelah kunjungan pertama itu, saya beraktivitas seperti biasa tanpa ada perubahan yang berarti. PP kantor naik CL gak pernah minta tempat duduk, pindah peron di tenabang pakai tangga, sesekali makan ayam bakar dan junk food, mencuci baju (pakai tangan), dsb. I blamed myself for these.
Sembilan hari sejak pemeriksaan perdana, muncul flek. Kalau tidak salah hari itu adalah hari pertama puasa. Iya, saya masih ikut puasa di dua hari pertama. Pertimbangannya adalah karena saya merasa kuat. Lagipula, jam kantor selesai hanya sampai jam 15.00. Karena flek yang berlanjut dan kondisi fisik yang makin menurun maka dua hari kemudian (1/7/14) saya memeriksakan diri ke dokter. Hari itu hari selasa, jadwalnya dr. Tri Yuniarti. Dokter bilang semua baik-baik saja, bahkan janin dan detak jantung sudah bisa terdeteksi saat itu. Ia hanya menyarankan saya untuk tidak puasa dulu dan beristirahat di rumah. Akhirnya saya bedrest 3 hari. Sayangnya dokter Tri tidak meresepkan saya obat sehingga dua hari setelah kunjungan kedua, stok obat dari dr. Kartika habis. Jadilah selama sebelas hari kemudian saya tidak meminum obat apa-apa. Poor me, i didn't know that i could just buy them at nearest drugstore...
Akhirnya, dua belas hari setelah kunjungan kedua, bukan cuma flek lagi yang timbul tapi langsung darah! Kalau diingat-ingat, saat itu saya masih beberapa kali bolak-balik cikarang-kantor untuk audit dan saat itu sedang banyak-banyaknya deadline laporan rutin. Perjalanan terakhir dari Cikarang sangatlah jauh dan berbatu, sayapun sempat berjalan cepat bolak-balik dari satu bilik ke bilik lainnya di kantor. I remember, it was tuesday. Besoknya ada RDK, makan-makan dan saya berencana untuk datang. Hari sabtunya saya berniat pindah ke kosan dekat kantor supaya tidak perlu naik kereta lagi. Pendarahan kali itu membuat saya balik lagi ke rumah sakit. Kali ini tidak peduli mau dengan dokter siapa, yang penting saya tahu semua baik-baik saja. Dokter bilang letak plasenta saya dekat mulut rahim (placenta previa) sehingga aktivitas yang sifatnya tidak berat pun mengakibatkan saya pendarahan. Tetapi ada yang aneh saat itu, saya tidak lagi mendengar detak jantung janin, dokter pun terlihat ragu. Akhirnya saya diberi obat penguat yg cara pemakaiannya dimasukkan ke vagina. Malam itu saya tidak langsung menggunakan penguatnya. How the fuck am i suppose to use it? Si dokter aja gak bilang apa-apa pas meresepkan. Taunya dimasukkan lewat vagina juga dari apoteker. Dokter ngehe!
Esoknya saya benar-benar berusaha tidak bangkit dari tempat tidur kecuali untuk pipis, makan, dan solat (harusnya tidak boleh solat karena sudah masuk nifas. Sekali lagi, saya tidak tahu). Fyi, pagi itu saya berusaha memakai penguat tapi gagal dan malah nyemplung ke toilet obatnya. I really am doomed. Seusai makan dan solat, saya tidur siang dan betapa terkejutnya ketika mendapati celana saya sudah penuh dengan darah dan gumpalan. I bleed, like A LOT! Masih sore, suami belum pulang, dan shock. Saya berusaha lagi memasukkan penguat, kali itu berhasil. Segera saya berbaring kaku di kasur, merasakan objek padat dingin yang perlahan-lahan meleleh, sambil menahan tangis dan berdoa (masih solat lho).
Akhirnya kami menuju RS dengan taksi. Kebetulan sang sopir pernah mengalami hal yang sama: istrinya keguguran. Maka sang supir taksi mengendara sangat perlahan dan sehalus mungkin sambil mencoba menghibur kami. We laughed actually. Takdir memang aneh.
Yang paling menyebalkan setelah sampai di RS adalah, saya tidak bisa masuk UGD, instead, mereka meminta saya untuk MENGANTRI seperti pasien biasa. Rabu adalah jadwal dr. Ismail Yahya. Dan begitulah, saya menunggu cukup lama di ruang tunggu sebelum akhirnya divonis abortus. Rabu malam, 16 Juli 2014.