Pada akhirnya, mimpi yang hampir sama membuat kita merenggang karena berbeda sudut pandang. Kapalku tenggelam ketika kapalmu melaju dengan tepat. Hari itu, luka-luka baru bermunculan hingga diambang kematian. Dua manusia yang sedari dulu bermimpi bersama, kini lenyap. Notif yang biasanya terdengar setiap hari, berganti menjadi setiap minggu, lalu setiap bulan. Dan, pada kenyataannya masing-masing akan menjadikan kita asing.
Aku turut berbunga ketika mendengar ceritamu, tetapi tak bisakah diam dulu sebentar? Lukaku menganga terlalu lebar hingga aku belum mampu menambalnya. Layaknya kaca yang berserakan, tak ada yang mampu kembali menyatukan. Semuanya belum selesai, aku kembali melaju dengan kapal yang baru. Katamu saat itu, "Untuk apa berlabuh kesitu?" Padahal itu adalah sisa harapan yang kugaungkan.
Tak apa, aku menghargai pendapatmu yang secara tidak langsung menggores jiwaku. Aku berusaha mengerti, tetapi kamu dengan gamblangnya bercerita tentang lautanmu yang indah. Sedangkan diriku berpacu dengan waktu mencari cara bertahan di tengah ombak besar. Perbedaan itu, menjadi sekat untuk menyatu.
Cerita itu tak pernah benar-benar hilang, aku muak mendengarnya. Seakan kamu sangat butuh validasi dari orang-orang. Kala itu, aku tak lagi memandangmu dengan tatapan yang sama. Cerita yang kita rangkai telah usang, aku akan mengenangmu dengan senyuman paling tulus. Di masa nanti, aku akan mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiranmu yang pernah memberiku warna.
Sekian, dari aku.
July, 2025














