PEREMPUAN DI PINGGIR MUARA
Salam untuk kamu yang sedang berdiri di pinggir muara.
Dari atas bukit aku ukir aksara ini, dalam keadaan menang seperti yang kamu bilang. Setelah itu, aku lipat kertas ini lalu membuangnya ke sungai yang mengalir deras sembari berharap kamu menemukan surat ini di mana pun di sekitar muara itu. Semoga kamu menemukan makna dari setiap aksara ini.
Aku menang! Apakah kamu tidak melihatnya? Aku menang! Ya, aku memang jahat, aku yang membuatmu terluka, aku pula yang membuatmu percaya. Bila kamu jatuh cinta pada hal-hal dalam diriku, kamu hanya hidup dalam kebohongan. Cinta tidak melihat ke belakang, cinta hanya melihat ke depan. Dan kamu juga harus melakukannya. Hubungan pun hanya memiliki dua hal; Untuk memberi sesuatu lalu mendapatkannya kembali. Ini berlaku untuk semua ciptaan Tuhan.
Miris; Tipis; dan Tragis. Tiga kata yang bisa menggambarkan keadaan hari ini. Ambisi; dan Arogansi. Dua kata yang bisa menggambarkan kamu dan aku hari ini. Habis sudah nalarku hari ini melihat kamu meledak-ledakkan nurani yang katanya memar, lebam, hingga hancur. Sadarkah kamu? Aku tidak menunjukmu, juga tidak menganggapmu gagal.
Lihatlah, kamu menjilat ludahmu sendiri! Bahkan aku pun tidak menganggap ini impas. Soal hukuman pun itu urusanmu. Kamu tidak perlu menangis dalam pelukanku, aku pun tidak perlu menenangkan dan memastikan semuanya akan baik-baik saja, karena dunia tidak pernah berhenti dan masih berputar seperti biasanya.
Menahan diriku hanya akan terasa seperti membendung air; Suatu saat kamu akan kelelahan, selanjutnya kamu akan merasa dingin karena kata-kata yang lembut. Suatu saat tanganmu akan penuh, selanjutnya akan kosong. Karena air tidak mau menunggu, air akan terus mengalir deras.
Karena jatuh cinta tidak sebercanda itu, maka ingatlah; Aku tidak pernah mencintaimu tanpa harapan. Aku selalu jatuh lalu berharap pada cinta. Hingga akhirnya hari ini aku tertawa melihatmu di muara sana dalam keadaan menang, seperti yang kamu bilang.