~Kita tidak pernah tahu apa yang sedang orang lain rasakan, begitu pun sebaliknya...~
Tiba-tiba saya teringat sebuah cerita yang pernah dibawakan oleh dosen saya di tengah-tengah jam perkuliahan. Ceritanya begini...
Ada seorang anak kecil yang terus-menerus tertawa riang gembira dan asik dengan mainannya. Tertawanya bisa dibilang sangat berisik dan mengganggu suasana ketenangan di ruang tersebut. Saat itu ia berada di bangku antrian tempat umum ditemani oleh pria dewasa yang hanya asik duduk tanpa melarangnya.
Tak tahan mendengar kebisingan anak tersebut, datanglah orang lain menegur si pria dewasa itu untuk membujuk si anak kecil agar tidak terlalu berisik karena mengganggu ketenangan di ruangan tersebut.
Kata pria dewasa itu, "Saya hanya pamannya, saya tidak bisa menghentikannya karena selama 3 hari yang lalu sejak kematian kedua orang tuanya lantaran kecelakaan, anak itu terus menangis dan belum pernah tertawa. Saya baru melihatnya tertawa hari ini. Jadi saya tidak bisa menghentikannya, jika Anda bersedia untuk menghentikannya,,,, silahkan!"
Setelah mendengar penjelasan Pria tadi, orang tersebut akhirnya bisa memaklumi dan memutuskan untuk tidak menghentikan si anak kecil itu.
Berdasarkan cerita tadi, kita bisa ambil pelajaran bahwa sebuah tindakan yang tidak seharusnya/wajar bisa dimaklumi ketika kita telah mengetahui latar belakang atau alasan dari tindakan tersebut.
Seperti contoh, saat si A bertemu dengan si B. Mereka asik mengobrol lalu si B bercerita tentang ke-uwuan dan rencana pesta pernikahannya dengan calon pasangannya. Tiba-tiba si A merasa marah/kesal gak mood dadakan karena waktu kemarin dia baru saja mengalami patah hati.
Begitu juga selanjutnya, saat si B melihat si A yang tiba-tiba kesal atau gak mood saat dia menceritakan kebahagiaannya, dia jadi sedih dan heran juga. Akhirnya mereka berdua jadi bermusuhan diem-dieman.
Yang satu mikirnya, "Orang lagi sedih, dia malah pamerin kesenangannya, gak ngertiin banget."
Yang satu lagi mikirnya, "Orang lagi seneng, dia malah tiba-tiba seolah gak mood,,, gak seneng apa liat temen seneng?"
Tindakan si A bisa dibilang tidak wajar, tetapi bisa dimaklumi jika kita mengetahui latar belakang tindakannya. Sebaliknya tindakan si B adalah wajar, tetapi menjadi salah karena bercerita kepada seseorang yang baru saja mengalami patah hati.
Konflik ini terjadi karena masing-masing orang tidak mengetahui apa yang sedang dialami/rasakan temannya. Jika saja si B tahu kalau si A baru saja patah hati, pasti dia juga tidak akan cerita-cerita tentang kesuksesan hubungannya dan lebih memilih untuk menghibur, mendengarkan cerita temannya dan mencoba mencari solusi.
Jika saja si A mampu mengalah, mengendalikan dan menutupi perasaannya, tentu dia juga akan mengucapkan selamat dan ikut bahagia mendengar cerita si B.
Kita tidak pernah tahu apa yang sedang orang lain rasakan, begitu pun sebaliknya.
Bertindak sesuatu yang wajar pun bisa salah, di mata orang yang sedang mengalami situasi tertentu.
Mengalah lah dengan perasaan yang kita alami sendiri, karena kita bukan lagi anak kecil yang bisa dimaklumi seperti cerita di atas.
Bertindaklah sewajarnya, dan mencoba memikirkan perasaan orang lain saat melihat tindakan kita tersebut...