Aku, di sini, hidup tanpa punya pekerjaan. Hidup tanpa punya makna.
Aku berikan seluruh perhatianku ke orang lain, tapi mereka menganggapku pengganggu.
Aku berikan segala upaya untuk membantu orang lain, tapi aku hanya dianggap cari perhatian.
Tak dipercaya, meski segenap usaha kuberikan.
Ketika aku gagal semua orang menghujatku, namun ketika aku berhasil, tak ada yang menganggapku.
Beberapa menyarankan untuk tak usah pedulikan orang lain, tapi hidup sendirian bukanlah hal yang membahagiakan.
Aku ingin membaur dengan orang lain. Tertawa bersama, bercerita bersama.
Aku ingin punya teman walaupun itu hanya satu.
Aku sedih, aku kecewa. Apakah aku kurang untuk orang lain.
Aku bahkan orang yang rela merendah demi orang lain. Asalkan mereka tak sakit hati, asalkan mereka tetap bahagia.
Tapi aku selalu dianggap yang sebaliknya.
Hidup yang terus gagal dan selalu bercerita sendirian di balik dinding kamar, aku merasa hidupku menyedihkan.
Jika kau tanya apa orang sepertiku punya tujuan hidup, aku jawab aku punya.
Tujuan hidupku hanya ingin diterima.
Aku iri dengan kalian yang bisa bersama-sama, aku iri.
Di beberapa titik kehidupanku, sungguh, bagiku kematian lebih baik daripada hidup.
Tapi kata-kata ini selalu muncul..
Lalu aku kuatkan diri dan mencoba untuk hidup sehari lagi. Begitu seterusnya..